Kenangan WS Rendra

Original source: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/133/Poetry-of-The-Week-Kenangan-WS-Rendra

Oct 10, ’10 8:20 AM

Berikut ini adalah puisi karya WS Rendra. Entah bagaimana puisi ini akan membuat hati teman-teman semua berkecamuk. Yang jelas, berjanji sajalah… sampai mati nanti, kita berusaha jadi orang baik yang tahu hidup ini hanya titipan. Semoga kita tidak menjadi orang yang merasa bersalah atas kehidupan yang kita jalani.
 
***
 
Seringkali aku berkata …..
Ketika semua orang memuji milikku 
 
Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan 
Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya 
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya 
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya 
Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya 
 
Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya: 
Mengapa Dia menitipkan padaku ? 
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ? 
 
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu ? 
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ? 
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ? 
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah 
 
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka 
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita 
 
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku 
Aku ingin lebih banyak harta,ingin lebih banyak mobil,lebih banyak popularitas,
dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan, seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku 
 
Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika: 
Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku. 
 
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih 
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”,
Dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku…
Padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah.
 
“Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja” 
 
***
Membaca puisi di atas… aku merasa, hidupku menyedihkan. Dan aku merasa…
 
Hidup kita di Indonesia tahun-tahun ini menyedihkan: 
tercerai dari pemikiran-pemikiran hebat, 
jauh dari sosok-sosok hebat, 
tak lagi mendengar ekspresi diri yang menggetarkan, 
rindu pemikiran intelektual yang panas, 
yang membuat orang-orang jahat di istana negara, di Senayan, di kantor-kantor pemerintahan, dan di kantor-kantor swasta, ketar-ketir, malu!
 
Tidak salah! 
Rakyat berontak, angkat senjata, lalu mengalir darah dan tubuh roboh satu-satu. Ini seni kehidupan yang pelik. 
Siapa yang gembar-gembor “Ganyang M*******”? 
Siapa sebenarnya musuh yang perlu diganyang? 
Mereka: pejabat korup, sok suci, berkelit seperti belut yang sebentar lagi masuk penggorengan, menggerogoti negara sedikit-sedikit demi perut mereka yang buncit, kepala mereka mabuk kekuasaan dan kemewahan. 
 
Itu dia, musuh perasaan nasionalisme kita sudah jelas: 
Warga negara perusak, 
masyarakat yang tidak mau belajar, menjadi sampah lewat omongan kosong dari mulut mereka, berlenggak-lenggok di tempat-tempat glamor orang-orang tajir… 
Lupa, ada banyak mulut yang belum makan hari ini, ada banyak anak-anak yang menangis kehilangan orang tua, ada banyak orang tidak bisa sekolah, tidak punya rumah, tidak mendapatkan kasih sayang… 
 
LUPA, kalau mereka hidup di Indonesia! 
Setiap tawa kehidupan menyenangkan mereka terdengar menyakitkan. 
Uang dihambur-hamburkan dalam jerat konsumerisme.
 
Lupa, Indonesia negara habis yang habis-habisan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s