Ketika Memandang Masa Depan

Original source: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/22/Poetry-of-The-Week-Ketika-Memandang-Masa-Depan

Nov 27, ’09 2:02 PM

Puisi ini kubuat pada tanggal 22 April 2009. Saat itu sedang kuliah mata kuliah Kesehatan Mental dan suasana agak membosankan. Sepertinya, saat itu dosen sedang keluar kelas dan meninggalkan tugas bagi para mahasiswa.

Hanya satu orang yang pernah membaca puisi ini sebelum akhirnya kumasukkan ke dalam blog ini. Ia seorang teman yang kukenal lewat chatting. Berhubung dia tidak bisa berbahasa Indonesia, aku menerjemahkan puisi ini untuknya. Dia bilang isinya bagus, tapi… aku tidak benar-benar yakin ia jujur. Karena, bahasa Inggris hasil terjemahan puisi sangat berantakan.

Dalam lembar aslinya di buku catatan Kesehatan Mental-ku, kusertakan ilustrasinya. Coba saja, setelah membaca puisi ini, pandanglah ke luar jendela. Mungkin perasaan ketika puisi ini kubuat dan perasaan yang muncul pada diri pembaca akan sama. Puisi ini berupa pertanyaan-pertanyaan pada diri sendiri. Ketika puisi dibuat, aku belum menemukan jawabannya. Namun, sekarang aku sudah mendapatkannya.

Ketika kita memandang masa depan,
apakah semua orang pantas kita kenal?

Suatu kenyataan yang menyesakkan,
akan ada waktunya
untuk pura-pura buta,
untuk pura-pura tuli,
dan untuk pura-pura tak berhati.

Apakah benar?
Suatu saat nanti akan ada:
orang-orang yang kita lupakan,
orang-orang yang terlupakan,
orang-orang yang kita ingat,
dan orang-orang yang teringat sampai mati.

Jika benar,
siapa mereka?
Aku akan mencari mereka.
Sampai ke ujung dunia.

***

Apa jawaban teman-teman semua?
Bagiku sekarang, sebaik atau seburuk apapun orang-orang yang kita temui, semuanya pantas dikenal sebagai manusia. Karena pelajaran hidup datang dari arah yang tidak kita sangka-sangka…

Puisi ini muncul karena suatu ketika terbetik ide bahwa mungkin akan ada orang yang aku menyesal pernah bertemu atau berkenalan dengannya. Ia mungkin saja adalah orang yang membuat hidupku berantakan atau penuh penderitaan sehingga aku betul-betul ingin membuang dia dari ingatan. Namun, mungkin saja orang yang kutemui adalah orang yang aku senang bertemu dengannya dan ia menjadi orang yang tak terlupakan sepanjang hidup. Jadi, siapa mereka? Hari ini kita mungkin memiliki banyak teman dan kenalan, tetapi bagaimana mereka berperan dalam hidup kita, kita tidak pernah tahu kecuali kejadiannya terjadi. Apakah mereka mencelakakan kita, atau menyelamatkan kita, kita tidak tahu.

Jawabanku di atas adalah jawaban terbaik yang bisa kusampaikan. Kita hidup di dunia, jangan sampai kita menyesalinya. Proaktiflah, cari hikmah sebanyak-banyaknya ketimbang merutuki nasib kita bertemu dengan monster.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s