Kisah-kisah Para Pejuang

Ingat masa SMP. Pada suatu hari aku berkunjung ke perpustakaan sekolah. Tidak hanya satu hari, tetapi begitu banyak hari, sebenarnya.Aku sedang kesambet apa, ya… Tanpa paksaan atau memang sedang menantang diri karena kau ingin tahu: aku menuju suatu rak dan akhirnya meminjam selama beberapa minggu berturut-turut kisah-kisah pahlawan pejuang kemerdekaan Republik Indonesia: RA Kartini, Cut Nyak Dhien, Hassanudin, Diponegoro, buku “Sumbangsihku Pertiwi”… yang lainnya lupa.

Tidak salah jika pada hari ini beberapa orang di negara ini mengatakan, jasa pahlawan memang sudah terlupakan. Kalau pada akhirnya, jasa mereka hanya diingat dengan event-event “baju-baju cantik” dan lomba-lomba tak relevan, kupikir… orang-orang  memang pandai bersenang-senang, tetapi tidak pandai menghayati. Kupikir itulah, pelajaran sejarah bukan menjadi pelajaran favorit. Kalau ditanya mengapa, pasti menjawab, “Tahun-tahunnya, Bu!” Yeah, sebagian orang memang alergi dengan hafalan.

Sejarah adalah pelajaran kesukaanku. Aku bahkan pernah bercita-cita menjadi sejarawan. Semboyanku waktu itu: “belajar sejarah bagaikan membaca sebuah buku cerita”. Tidak salah. Itulah mengapa aku bertekad membaca cerita tentang para pahlawan itu.

Bagaimana kesanku pada buku-buku itu? Tua, tebal, tidak tersentuh, kertasnya bau, kusam, berdebu. Interpretasinya: tidak banyak orang yang tertarik membacanya.

Tapi, tahukah teman-teman, apa yang kudapatkan? Lebih dari sekadar cerita. Adakah yang tahu kisah leluhur Hasanuddin dan bagaimana kerajaan Gowa-Tallo-nya? Itulah kerajaan yang berjaya pada masanya dan aku geregetan ketika Belanda menghancurkannya.  Ada yang tahu Cut Nyak Dhien menikah dua kali dan kedua suaminya juga merupakan pejuang. Aku sangat tersentuh ketika membaca bagian akhir perjuangannya ketika ia bergerilya di hutan-hutan belantara sampai akhirnya ia ditangkap dan dibuang ke Cirebon. Sebagai wanita, aku merasa beliau sangat tegar. Ada pula RA Kartini, bukunya tidak begitu tebal, aku membaca perjalan hidup dan surat-suratnya yang menggugah. Sedangkan “Sumbangsihku Pertiwi”, sayang… aku sudah lupa.

Mengapa hidup mereka diabadikan dalam buku (walaupun tentu, buku itu sendiri tidak abadi)? Karena hidup mereka mengandung makna bagi yang mereka yang hidup setelahnya. Mereka sendiri mungkin tidak pernah menyangka perjalanan hidup mereka diapresiasi sedemikian rupa. Orang lainlah yang merekam hidup mereka.

Berbeda mungkin kiranya dengan perjalanan hidup Anne Frank (sedang kurencanakan untuk membacanya). Hidupnya ia rekam sendiri. Ia hidup dengan perjuangannya sendiri, menyelamatkan diri dari NAZI yang memburu orang-orang Yahudi pada masa Perang Dunia 2. Sekiranya dia tidak mencatat kisahnya, tak ada orang yang akan akan menulis baginya. Dia hanyalah anak kecil biasa, yang hidup sama seperti orang Yahudi lainnya. Namun, Anne berpikiran berbeda. Ia menuliskan hidupnya dengan tujuan agar hidupnya menjadi pelajaran bagi orang lain. Ia tidak mengajarkan kita tentang teori-teori perang atau apa. Ia mengajarkan kita tentang kemanusiaan dari hidupnya yang luar biasa di tempat persembunyian.

Kalau dibandingkan, mana yang paling baik, ya? Antara pahlawan dan Anne Frank…

Sebaiknya jangan diputuskan. Kisah mereka lebih baik daripada hidup kita yang sangat biasa ini, kan? Tentu saja biasa: 1) Kita tidak memberikan sumbangsih apa-apa pada dunia, makanya tak ada orang lain yang mau repot-repot mencatat nama kita di sejarah dan 2) Kita tidak menganggap perjalanan hidup kita berharga, makanya kita tidak mencatat apa-apa kecuali, mungkin, nantinya yang terukir di batu nisan tentang kapan kita lahir dan mati. Lagi pula, di nisan nanti, bukan kita yang menulis, tapi orang lain yang peduli pada kita yang meninggalkan dunia.

Kalau mau dipelajari lebih dalam lagi, kedua kisah baik para pahlawan maupun Anne Frank punya suatu kesamaan. Sering, sangat sering, nilai suatu kehidupan baru akan diketahui, diterima dan diakui banyak orang setelah beberapa lamanya. Tetapi selalu kembali, manusia mencari hal-hal yang berharga, mereka mencarinya sampai manapun. Kehidupan orang lain dan kita sendiri memiliki harga dan pelajaran bagi orang lain. Sekalipun kita orang baik atau orang jahat, selalu saja ada pelajaran yang bisa dipelajari dari hidup kita ini. Mungkin, yang menghargai hidup kita hanya satu atau dua, atau banyak orang… tetapi itulah kehidupan. Ia diciptakan tidak sia-sia, sekalipun nilai masing-masing kehidupan memang berbeda-beda. Sekalipun pada akhirnya kitalah pejuang bagi diri kita sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s