Kisah untuk Bush

Original source: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/43/Story-of-The-Week-Kisah-untuk-Bush

Lama tak bersua kawan-kawan. Lama pula aku tidak mem-posting sebuah cerpen. Kali ini, aku punya sebuah cerpen lama dari masa tahun 2007, tepatnya ketika ujian nasional. Cerpen kali ini adalah hasil berpikir, upayaku mendapat nilai baik dalam ujian praktek bahasa Indonesia. Ide cerpen ini muncul ketika (tahu, kan?) presiden Amerika, G. W. Bush, datang ke Indonesia. Beritanya waktu itu dimuat di berbagai media dan salah satunya yang menarik perhatianku adalah demonstrasi menentang kedatangan presiden Bush. Saat itu, kupikir, cerita ini cukup bagus dan hasratku melambung untuk kukirimkan ke majalah. Tetapi, niat itu mengempis… lama-lama, cerita yang berkaitan dengan salah satu peristiwa “besar” di Indonesia ini menjadi basi, benar-benar basi. Tapi kuharap cerita ini tetap menghibur.
 
***
 

Kisah untuk Bush 

            “Bush! Bush! Hush! Hush! Syahhhh!!” seru Sahrul geram. Sambil ber-Bush-Hush ria, ia dengan kreatif menambahkan sedikit “tambahan” pada gambar George Walker Bush, Presiden AS yang terpampang di halaman koran yang digelarnya di meja warung tempat kami beristirahat.

            Sejak pagi tadi kami meliput demonstrasi besar-besaran menolak kunjungan Presiden Bush ke Indonesia oleh mahasiswa dari tiga universitas besar di kota kami. Mau tidak mau kami ikut long march keliling kota di tengah gerimis. Kami sedikit menyamar, tepatnya tersamarkan dengan anak-anak kuliahan itu. Postur tubuh kami cukup pantas, padahal kami baru 2 SMA.

            “Kenapa Bush ada di dunia ini?” lanjut Sahrul. “Dia diciptakan Allah untuk jadi tokoh antagonis dunia!” Sahrul seperti sedang berkampanye. Ia mengacung-acungkan tinjunya ke udara.

            “Diam, Rul…” kataku lirih. Aku mencoba berkonsentrasi pada laporan yang sedang berusaha kukembangkan.

            “Kenapa Bush harus dihush? Kenapa sebaiknya ia tidak menginjakkan kakinya di Indonesia?” Dia diam meminta opiniku. “Kenapa, Fan?”

            “Kenapa?” tanyaku tak bersemangat. Aku bertopang dagu memandang notebook-ku yang penuh tulisan cakar ayam seputar demonstrasi.

            “Karena kurasa dia adalah ayam!” Sahrul tertawa terbahak-bahak.

            “Diam, Rul,” pintaku. “Aku nggak bisa konsentrasi.”

            “Hmm… Kamu nulis apa?”

            “Laporan demonstrasi tadi.” Aku mengucek-ngucek mata. Pegal. “Susah, nih, membuat kalimat pertamanya. Bingung harus dimulai dari mana.”

            Sahrul tiba-tiba menatapku serius.

            “Apa?” tanyaku.

            “Bro, gunakanlah otak kananmu yang brilian itu, oke?” Ia mengedipkan sebelah matanya. Ah, gaya sekali. “Imajinasi itu… HEBAT!!!” suaranya membahana. Pemilik warung yang sedang menyiapkan bakso kami sampai melirik keheranan. “Kamu bisa membayangkan apa saja.”

            “Seperti Bush yang tersedak tulang sapi?” Itulah yang kubayangkan.

* * *

            Sedikit banyak aku belajar memahami perasaan manusia hari ini. Aku dan para demonstran menjadi pihak yang menolak. Entah kenapa muncul pikiran itu. Bagaimana rasanya menjadi seseorang yang dibenci, bukan hanya oleh satu orang, tapi oleh dunia? Bagaimana rasanya menjadi orang yang ditolak?

            Apakah boleh aku berkata, “Kasihan…”?

 

            Kunjungan Bush ke Indonesia memang menggemparkan. Pemerintah gempar. Polisi dan intelejen gempar. Masyarakat gempar. Mahasiswa sangat gempar. Preman-preman juga gempar, lho. Kusaksikan di televisi pemerintah yang kerepotan mempersiapkan sambutan untuk orang itu, membuat heli-pad di Kebun Raya Bogor, mempersiapkan menu makanan untuk orang-orang Amerika, membekukan kota Bogor dan meliburkan sekolah. Pak polisi sampai ikut membersihkan jalanan dari sampah-sampah (takut ada bomnya, kali!). Mahasiswa sampai capek-capek jalan dan teriak-teriak menolak kedatangannya karena dinilai merugikan Indonesia. Tapi, yang satu ini bakal menjadi kegemparan yang diliputi rasa persatuan kalau pasukan punker juga ambil bagian.

            Keluargaku juga gempar. Setiap ada Bush di berita televisi, Ibuku langsung, “Ini dia orang kurang ajar!” Ayah tidak seperti ibu, sih, tapi aku tahu bahwa sanubarinya juga merasakan hal yang sama. Mas Irfan-ku hampir beralih profesi menjadi pendemo full-week penuh kalau saja ia tidak masuk angin karena langganan kehujanan.

            Nah, aku? Majalah sekolah tak ketinggalan ingin merebut berita utama ini. Hari ini yang seharusnya aku bisa leyeh-leyeh di hari Ahad, ikut berjuang di bawah guyuran hujan agar presiden kami menolak kunjungan Bush.

            Untung tidak sendirian. Ada Sahrul yang senantiasa menemani, panas maupun hujan. Tapi dia banyak tingkah.

            Fiuuh… gara-gara Bush.

* * *

            “Fandi, hujan turun!”

            “Fandi, lapaaaaar…”

            “Fandi, kakiku mau copot! Pegel! Panas! Jalan terus!”

            “Fandi, aku pingsan, lho!”

            “Fandi… Fandi… Fandi…” keluhnya membuat kupingku panas

            “Apa Frandi Fandi terus? Kalau hujan, Alhamdulillah. Berkah. Silakan minum. Setali tiga uang.”

            Susah membungkamnya. Bukannya dia sendiri yang besedia kuajak tanpa syarat apapun?

            Tapi, akhirnya berhasil setelah suatu penawaran yang membuatnya diam.

            “Mau? Jadi cover boy edisi Desember ini,” tawarku.

            Dia langsung mau. Dia memang gila dipotret.

            “Nih, pake.” Kusodorkan ikat kepala warna hijau. “Pegang ini dan ini,” kataku sambil menyerahkan berdera bertuliskan Laaillahaillallah dan poster yang kupinjam dari salah satu demonstran. Lengkap sudah. Aku mencari latar yang tepat untuknya.

            “Tampang serius… Penuh penjiwaan… Kepalkan tangan! Takbir!” Klik.

* * *

            Bagaimana, ya, rasanya menjadi orang yang dibenci banyak orang? Kenapa Bush seolah tidak punya telinga yang bisa digunakan untuk mendengar kritik dan saran dunia. Kenapa begitu “muka badak berkulit tebal”?

            Pepatah bilang bahwa satu musuh terlalu banyak. Musuh Bush begitu banyak. Berjuta-juta moncong senapan yang akan dengan senang hati diarahkan ke kepala orang itu? Tidakah terbersit sedikit kekhawatiran?

            Mungkin memang tidak ada. Ia percaya bahwa ia orang yang kuat, mungkin. Padahal manusia…

* * *

            “Aku paling pengen Bush tersedak tulang ayam yang sekecil ini,” kata Sahrul sambil menunjukkan serpihan tulang dari kuah baksonya. Ia menolak gagasanku tentang tesedak tulang sapi. Ia meminta mangkuk bakso selanjutnya. “Tulang ayam lebih kecil dan halus, menurutku mirip merica. Kalau tersedak lalu tersangkut di hidung? Uuh… sakiiit.”

            “Kemungkinan itu kecil sekali. Menunya bukan bakso, tapi steak daging sapi.”

            “Steak? Bagaimana kalau tersedak stick? Stick yang tick.”

            “Maksudnya?”

            “Aku juga nggak ngerti,” jawah Sahrul polos. Ia terkekeh,“Eh, aku jadi pengen tahu suara Bush sedang cegukan. Hik… hik…”

* * *

            Pernahkah Bush mengalami rasa takut? Pernahkah ia menangis sedih atau kehilangan sanak saudara yang dikasihi?

            Kekuasaan dan kekuatan itu benar-benar membutakan orang yang dikendalikan dunia. Keberanian seperti apakah yang ia miliki? Kurasa ia berani berdiri jika dengan mengenakan pakaian antipeluru, mobil dengan kaca antipeluru dan berlusin-lusin pengawal.

            Aku teringat para pejuang intifadah. Tanah mereka digempur tank-tank Israel, darah berceceran di jalanan, mereka berlari secepat kilat menghindari serbuan amunisi, melempar sekuat tenaga keriil-kerikil… Allahu akbar! Kuharap selalu tepat sasaran.

            Keberanian itu tidaklah sama.

* * *

            “Bung Laden, mampir sini, dong! Kesempatan langka ada di sini,” kata Sahrul sambil menatap langit-langit tenda. “Kamu udah nonton Air Force 1, kan? Keren… ada pembajak di pesawat presiden.”

            “Itu fiksi.”

            “Lagian Bush nggak pantas jadi jago baku hantam. Paling disandera. Belum ada film penyanderaan presiden, ya?”

            “Jangan disandera di Indonesia. Bisa-bisa kita dihancurin. Kita jadi kambing hitam.”

            Kami diam dengan pikiran masing-masing. Jadi aneh, pembicaraan kami menyimpang jauh dari laporan demonstrasi.

            “Adakah cara yang lebih halus dan tersamarkan?” Ekspresinya pura-pura cemas. Mengelus-elus dagu, sok bepikir.

* * *

            Manusia tetaplah manusia. Tidak ada yang tahu rahasia tentang apa yang dirasakan.

            Bisakah kita sabar terhadap orang yang kita benci. Selama kezaliman yang ada harus dilawan dengan jihad fi sabilillah, bolehkah ada sedikit keikhlasan pada tingkah laku orang yang kita benci. Bukankah doa setiap Muslim yang dizalimi didengar Allah?

            Ya Allah, negaraku mengalirkan uang milyaran rupiah untuk kebutuhan orang itu. Apakah hukumnya?

            Ya Allah, hati kami tercabik-cabik atas pengorbanan karena kelemahan diri kami sendiri. Siapakah yang dapat mengeluarkan kami dari kepura-puraan tersenyum padahal kami sakit? Kecuali Engkau.

* * *

            “Aku tahu!” seru Sahrul tiba-tiba. “Digelitik sampai mati. Ha…!”

            “Konyol.”

            “Oh! Aku tahu lagi! Usahakan ia terpeleset di kamar mandi!”

            “Kamar mandi?” Kenapa makin lama makin aneh?

            “Tempat yang ingin dan pasti ia sendirian.”

            “Mana bisa?” kataku menyangsikan. “Anggap saja teorinya sama dengan petugas penyicip makanan. Siapa tahu ada petugas penyicip kamar mandi.”

            “Mana ada?! Tapi aku punya satu ide lagi. Benar-benar tak kasat mata.”

            Kemudian aku ngeri mendengar hal berikut yang keluar dari mulutnya. Sampai sebegitunya ia mencari ide.

            “Disantet,” katanya singkat.

            Aku membelalakan mata. “Haram itu. Sama saja kita yang jahat.”

            “Tapi itu hal yang halus sekali. Habis… gimana lagi?”

            “Sama saja kita yang dosa. Udah, deeh…” Aku ingin berhenti mengkhayalkan Bush dan kesialannya.

            Sahrul sedikit cemberut kutegur begitu. Anehnya, dia kemudian tersenyum sendiri. “Lagian sepertinya memang nggak bakal mempan.”

            “Nah? Nggak diridhai Allah, kan?”

            “Benar juga, tapi bukan itu maksudku. Biasanya yang mudah disantet itu orang yang lemah iman. Bush itu jelas rajanya setan, wong jahat banget kayak gitu…”

            Terbaca maksud Sahrul.

            “Setan nyantet setan…”

            “Jeruk kok minum jeruk!” Kami tertawa terpingkal-pingkal.

* * *

            Kita manusia sama-sama punya hati nurani. Pasti nyaman sekali jika kita senang mendengarkannya. Hati nurani yang membuat kita berani berkata “ya” untuk kebenaran yang bisa jadi tidak menyenangkan dan “tidak” untuk keburukan perilaku yang bisa jadi melenakan.

            Indahnya memiliki hati nurani sehingga kita ikhlas mendoakan musuh-musuh kita. Bukankah semuanya ada di tangan Allah semata. Apa daya kita?

 

            Seminggu lebih sehari setelah peliputan demonstrasi anti-Bush dan anti-Amerika-Israel, foto Sahrul benar-benar ada di cover majalah sekolah. Honor pertamaku, atas izin Allah, kubagi dua dengan Sahrul. Jika tidak dibagi mungkin aku bisa beli buku serba-serbi stenografi. Tapi, cukuplah satu kaset murotal Quran juz 1 impanku.

            Sahrul senang sekali dengan fotonya. Ia jadi beken di sekolah. Ia yang kocak menceritakan pengalaman kami minggu lalu diiringi gelak tawa anak-anak lain.

            Gara-gara Bush, aku semakin semangat menjadi wartawan. Bila kami bertemu, aku akan menuntutnya dengan pertanyaan tentang apa yang dilakukannya pada umat Islam dan semua orang.

* * *

            Apakah orang yang dibenci itu telah menemukan hatinya? Semua terasa hening dan tersembunyi, kecuali bagi Yang Maha Mengetahui.

            Bush berdiri menatap langit lewat suatu jendela. Perutnya besar sekali. Sebesar perut sapi, dia kan makan sapi tadi.

            Bukan, dia ingin ayam. Dia ingin menemukan ayam yang membantunya bangun di malam ini.

            O, ya, sekali-kali manusia harus menemukan kesendiriannya, kan? Manusia kecil. Sangat kecil. Harus tahu diri. Aku mengangguk-angguk setuju.

            Aneh. Aku mengerutkan kening. Suara Quran di tempat yang jauh sayup-sayup terdengar.

* * *

            “Bangun, Tukang Tidur!” bisik Sahrul sambil mengguncang-guncang bahuku. Aku bangun bukan karena Sahrul, tapi karena kaget Quran itu ada di telingaku. “Pak Redaksi sedang ngomong. Kita punya tugas baru.”

            Aku mengerjap-ngerjap tak mengerti.

            “Tugas baru! Meliput perayaan tahun baru. Kamu dengar nggak, sih? Copot headsetmu!”

            Apa? Semua ini tak ada hubungannya dengan rapat majalah sekolah. Semua terlintas begitu saja.

            Lintasan pikiran itu seperti suatu jawaban. Aku merasa “semoga” itu begitu dekat

            Mahasuci Allah Yang Maha Membolak-Balikan Hati. Bahkan iblis pun masih mengharapkan kasih Allah, bagaimana dengan manusia yang pasti dianugrahkan hati nurani?

Semarang, 211 AprilDesember 20072006

 
Note:
 
Menulis cerita seperti cerita di atas sebenarnya membuatku takut. Itulah pertama kalinya aku punya perasaan tidak menyukai sesuatu, ingin mengkritik, dan benar-benar kutuliskan kemudian kumuat di media sehingga banyak orang yang membaca.
 
Mengkritik seorang tokoh, mengritik siapa saja memang berisiko. Kelak, mungkin akan ada banyak Prita Mulya Sari lewat cerpen-cerpen yang pedas mengkritik pemerintah. Mungkin…
 
Dalam menulis, ternyata aku tidak bisa membenci. Aku membuat ending sepositif mungkin. Akhirnya, malah sebuah doa…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s