Kisah untuk Sang Pagi

Original source: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/71/Poetry-of-The-Week-Kisah-untuk-Sang-Pagi

Jun 28, ’10 6:33 AM

Teringat sebuah lirik aneh dari sebuah lagu aneh yang dinyanyikan dengan nada malas…

 
***
 
*Beautiful full moon… I am walking…
Hu… hu… hu… hu…
 
Beautiful full moon… I am dancing…
Hu… hu… hu… hu…
 
Beautiful full moon…
 
*From: Music is love
 
***
 
Oh, no… you are still sleeping.
Beautiful full moon is walking down to the west.
No breezy day you can feel, but the warmth under your blanket.
You are still sleeping and missing something.
 
The dawn is still yawning.
But, nothing lazier than yours.
The cold outside and the trees welcoming the sun…
They are standing, facing the new day.
 
Oh, wake up… wake up…
Lets listen to the chirping birds!
Open your eyes…
The beauty of the day won’t last any longer.
 
***
Orang-orang yang tidak (pernah) bangun pagi tidak akan (pernah) merasakan anugrah pagi. Tidak hanya berkenaan dengan berlimpahnya rezeki yang Allah berikan di pagi hari, tetapi juga hikmah-hikmah lain yang hanya dapat kita peroleh dengan berkorban sedikit, cuci muka dengan air dingin, lalu ke luar rumah: 
 
Ada pagi yang tengah bersinar, 
ada langit yang mulai membiru, 
ada hiruk pikuk suara alam…
sketsa hari baru sedang ditorehkan…
 
Apakah itu cukup melukiskan harimu?
Kala aku menatap langit, tak ada yang kulakukan kecuali menghembuskan sejuta asa, 
“Apa yang bisa membuatku tidak bahagia hari ini?”
Napas hangat ini beradu bersama napas dunia.
Ia bergerak, maka aku turut bergerak.
Ia melaju, dan tak ada alasan bagi manusia hanya menyeret-nyeret kakinya.
 
***
Kisah untuk suatu pagi:
 
Cukup mudah dipahami, pagi ada karena malam sudah berlalu… atau jika malam kembali menjelang, pagi akan kembali datang.
Seolah ilusi, hari kemarin yang hanya beberapa detik yang lalu berganti menjadi saat ini dengan kenyataan yang berbeda.
Sudah terdiam, teriakan ibu pada anaknya yang malas bangun… Tidak ada lagi seember air atau jeweran di kuping: karena orang semakin tahu apa yang harus dilakukannya ketika zaman semakin tua.
Kita membuka mata hanya untuk melihat kepuasan bodoh dan diejek cicak-cicak yang merayap didinding, puas dengan santap malamnya. Kita melewatkan sebuah kesenyapan demi sebuah mimpi yang nantinya akan terlupa.
Senyap, ketika Tuhan meminta kita bangun dan menyembah…
 
Kita benar-benar bangun, tetapi itu untuk melompat dan terjun ke kamar mandi.
Detik-detik terlewat untuk sedikit bersantai dan bertukar sapa dengan penuh keceriaan.
Fokus: pergi dari rumah, pergi ke tempat yang lain, pergi untuk nanti sore pulang.
 
Ah, hidup yang aneh:
Bangun untuk tidur
Pergi untuk pulang
 
Membuka mata untuk menutupnya
Jika, hidup juga hanya untuk mati… Hidup memang aneh:
Apa yang sedang diusahakan oleh keletihan sepanjang tahun berjuang membuka mata dan kemudian menikmati istirahat beberapa menit lamanya, lalu kembali tergopoh-gopoh mengejar matahari yang meninggi.
 
Berjibaku dalam lautan api… menyesal: mentari sudah tinggi, peluh sudah membanjir, tak ada sempat untuk bersantai dalam masa-masa menunggu ini.
 
Mencari waktu untuk sebentar saja terdiam dalam senyap,
Berjuta perasaan yang mungkin muncul untuk mengahayati ruhmu…
 
***
Nikmatilah pagi… itulah saat sendiri yang berharga, ketika dunia tak sempat membuka mata untuk memperhatikan tangismu, dan senyummu hanya Tuhan yang tahu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s