Kucing

Original source: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/211/Poetry-of-The-Week-Kucing-Refleksi-Perjalanan-Makan-Dimakan

Mar 22, ’11 12:00 AM

Meong…
Mengapa suaramu begitu?
Terdengar seperti suara anak orang…
Kau kucing dibuang, oleh ibumu?
 
Meong…
Dan malam datang, jeritanmu menggaung
Mengeras dalam mimpiku, uh… malam yang seharusnya hening
Meong… tolong?
 
Meong…
Dan pagi menjelang, kau serak
Sarangmu  terserak…
Tapi tetap saja, oh, Cing, ini rumah orang.
 
***
Kucing (punya tetangga?) itu dua hari menghantui seisi rumah.
 
Pada malam pertama, sebelum aku tahu bunyi apa itu, aku merasa suara menjerit-jerit itu adalah suara burung (punya tetangga). Aku tidak tahu pasti, benarkah itu suara burun? Tapi, aku tak punya gambaran makhluk lain yang punya suara seperti itu. Malam itu aku begadang untuk mengerjakan skripsi dan aku tidak mau berpikiran aneh-aneh ketika malam sudah larut.
 
Lama-lama, tak tahan juga. Aku pikirkan saja, itu suara anak orang (cucu tetangga). Baru kemudian, sadar itu suara kucing. Membingungkan… karena beberapa hari sebelumnya tidak ada tanda-tanda ada kucing yang baru melahirkan. 
 
Paginya, aku mengeluh pada ibu, soal kucing yang tidak berhenti menjerit-jerit itu (bukannya mengeong, ya?). Ibuku langsung mengiyakan, kucing itu berada tepat berada di samping rumah. Pagi-pagi buta beliau mengecek keluar dan mengatakan bahwa ada seekor anak kucing yang terjepit di sela-sela tumpukan kayu milik tetangga. Pagi itu juga ada misi penyelamatan kucing. Tidak minta izin tetangga, yang penting kucing itu selamat. Aku tidak bisa membayangkan mendapati anak kucing mati terjepit. Mengerikan.
 
Hasilnya mulai tampak. Ternyata, yang ada bukan seekor anak kucing di situ, melainkan lima. Lima! Dan semuanya berbulu putih bersih. Mereka kecil-kecil. Ya, Allah… lucu sekali. Mereka berlarian keluar masuk halaman rumahku, beranda rumahku… seolah itu tempat bermain mereka sendiri. Lalu induknya datang. He… sepertinya aku tahu kucing yang ini, tetapi tidak ingat dia pernah akan punya anak.
 
Sambil menyapu halaman, aku dan adikku menikmati pagi sambil mengamati anak kucing. Pengen ditangkap dan dielus-elus, tetapi mereka sangat curiga pada makhluk asing dan aneh, sekaligus berbadan besar: manusia. Aduh, mereka tidak paham maksud baik manusia. Jadi, sepanjang hari itu, asyik sekali kami sekeluarga mengagumi kelucuan kucing-kucing kecil itu. Bayangkan, mereka ada lima, kecil-kecil, dan berbulu putih!
 
Malam ini, malam kedua… Seekor kucing kecil mulai mengeong-ngeong lagi. Kejadian siang tadi adalah si induk (berdasarkan perspektif manusia yang mengamati) meninggalkan anaknya. Dia membawa empat yang lain dan meninggalkan si kecil sendirian meringkuk di sela-sela pot-pot tanaman. Sepanjang siang dan sore hujan deras turun, malam mati listrik. Di tengah kegelapan itu, cuma suara si kucing yang terdengar. 
 
Aduh, hatiku sakit. Aku berharap bisa membawa si kucing masuk ke dalam rumah, tetapi dia terlalu curigaan dan ibuku tak suka kucing. Biarlah malam ini kami makan bersama dan kubawa topik kucing ke meja makan.
 
“Kasihan, ayo pelihara!”
 
Tapi kupikir, memang tak semua hal bisa kita “pelihara”. Orang saja ada yang buang anaknya. Tapi aku belum pernah dengar sebelumnya ada kucing yang seperti itu. Untuk hewan ceritanya tentu lain. Dia tidak diberi Tuhan akal, dan perasaan yang setajam manusia. Jika ada kucing mati, akan ada binatang lain yang menjadikan bangkainya sebagai. Kalau kucing mati, setidaknya ada tikus yang mencari. Tapi kalau manusia? Sebagai makhluk yang berada di bagian teratas dari perjalanan makan-dimakan, tidak ada hewan yang menjadikan manusia mangsanya. Yang ada di film-film itu omong kosong dan kalau terjadi, peristiwa itu termasuk kejadian khusus yang membubarkan alur normal rantai makanan.
Musuh dan pemangsa manusia adalah manusia. Kekuatan yang bermain di sini tidak lagi kekuatan fisik, tetapi juga kekuatan pikiran dan strategi. Yang dimangsa tidak hanya mengalami (ancaman) kematian, tetapi juga siksaan penderitaan bertahun-tahun dalam kehidupan yang susah. Dan siapakah manusia yang menjadi pemangsa bagi manusia yang lain? Jawabannya adalah manusia kuat secara fisik (dan akal) yang hati dan nurani. Mereka kehilangan rasa kasihan sehingga apapun bisa mereka libas demi kepentingan mereka. Mereka kehilangan potensi untuk menjadi pelindung dan pengayom yang baik.
Kalau begini, apa yang terjadi dengan perjalanan makan-dimakan? Apakah berhenti? Lalu, siapa yang akan memangsa manusia pemangsa ini?
Aku punya jawabannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s