Langit di Tengah Pejaman Mata, Dunia Cahaya-cahaya Mati

Original source: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/115/Poetry-of-The-Week-Langit-di-Tengah-Pejaman-Mata-Dunia-Cahaya-Cahaya-Mati

Sep 30, ’10 8:50 AM

Aku hanya sedang mencurahkan isi pikiranku di tengah hari yang membosankan, di tengah agenda pembahasan masa depan organisasi yang memusingkan, pada suatu hari, pada pukul 02.00 pagi. Ada di dalam ruangan yang sesak, aku benar-benar ingin keluar untuk sebentar saja menghirup hawa malam… sayang, alasan apa itu? Presidium sidang tidak akan terima… Hasilnya, puisi terpanjang dalam hidupku.
 
***
Aku mulai memandang bintang, ketika aku menutup mata. Kau tahu, aku merinding atas sebuah kenyataan yang tengah kualami: Bintang-bintang dalam kepalaku, aku tak peduli, mereka bercerita. Mereka bilang itu tentang sejarah manusia. Tahukah kau, bagaimana akhirnya aku percaya?
 
Mereka bilang tentang apa-apa yang berhasil dialami manusia. Apa yang berhasil dialami manusia lewat mata, telinga, dan hati mereka. Kau tahu, ada keindahakan yang akhirnya membuatku sama menangis seperti mereka.
 
Mereka bilang tentang Tuhan yang dicari dari atas sana. Ada sesuatu yang megah dari keluasan angkasa, gemerlap cahaya-cahaya itu, dan merdu suara malam.
 
Kini, aku mengalaminya, lewat memejamkan mata, aku mendengarkan:
 
Pada suatu hari, seseorang melihat langit.
Sungguh manusia yang kerdil, hanya ingin belajar tentang secuil semesta.
Secuil semesta membuatnya tercengang, sekalipun itu hanya diawali oleh secarik pengetahuan dari buku-buku yang terbakar.
 
Kakinya terseok di antara puing.
Bara membuatnya berlari-lari kecil, namun… Bara yang lebih besar, rasa ingin tahu, membuatnya bahkan memeluk api.
 
Hari kiamat besar, itulah hari ketika hal-hal yang dapat membuatmu tahu diperlakukan layaknya sampah,
dicampakkan ke dalam api!
Ia hanya berusaha menyelamatkan sebingkai jendela, yang ia tahu, akan membuatnya melihat langit.
 
Lembaran langit itu menari-nari terbawa alunan malam.
Angin membelai, membawanya hampir melewati seluruh daratan yang dapat didiami manusia.
Dari lembaran itu, yang ia sentuh dengan tangan kecilnya, ia melihat.
Bagaimanakah bentuk-bentuk itu mengambil maknanya?
Apa makna lingkaran ataupun garis-garis?
Apa itu yang ada di langit?
 
“Berlian-berlian raksasa, bermain-main bersama tangan Tuhan.
Aku tak melihat tangan-tangannya, tetapi kutahu itu indah.
Karenanya ada fajar dan senja, mataku terbuka dan tertutup, burung-burung pergi makan dan pulang untuk tidur, ibuku menciumiku, lalu memelukku penuh sayang, atau aku yang kemudian tersenyum pada dunia.
 
Aku melihat hujan dan tangga-tangga pelangi menuju surga. itulah bunga-bunga yang ditaburkan di angkasa. Titik airnya sama dingin seperti sepercik ombak samudra. Warna awannya seindah putih huih. Dan biru di mana-mana… Apakah dunia ini sungguh satu?
 
Inilah tarian semesta, apa yang tidak berhasil diciptakan indah? Hijau warna daratan, gurun yang merah, dan merona wajahmu.”
 
***
Aku menutup mata menyesapi semua ini.
Dunia layaknya penjara ini, tak memiliki bentuk dalam kegelapan dengan cahaya-cahaya yang mati.
Namun, apa yang dapat kutera dan cintai?
Inilah jalan menuju damai, ketika aku seharusnya tidak perlu menginginkan apa-apa lagi.
Kesyahduan mimpi…
Lupa sejenak, tak ada yang tabu dan layak dibui.
 
DUNIA CAHAYA-CAHAYA MATI
 
Kenapa merindukan terang di tengah gelap? Kenapa merindukan gelap dalam terang?
Inilah dunia orang-orang bosan sehingga kupikir, akan ada masa di mana manusia akan mencari-cari dunia di mana cahaa-cahaya mati.
Agar langit benar-benar terang, agar dapat melihat sinar-sinar yang redup, berlian-berlian itu.
 
Apa yang membuat semua ini terwujud? Inilah kata dunia yang tengah menghilang:
 
Benarlah cerita, pada suatu hari bumi menunjukkan rasa iri pada langit, ketika masa tak ada manusia merajai.
Apakah cahaya-cahaya itu? Mereka membentuk bayang-bayang, membuat terlihat apa yang tak terlihat, mencipta beragam warna sehingga terbentu apa yang mengagumkan.
 
Manusia turun, mereka mencari cahaya-cahaya otu, mencari-cari sumber ketenangan di dalam kegelapan itu. Apa jadinya ketika manusia berhasil menyimpulkan bahwa sumber ketenangan itu diciptakan oleh kekuatan? Bukan kekuatan yang mengalahkan halilintar, tetapi kekuatan yang menguak rahasia, cerita, kisah-kisah penciptaan… Lalu Tuhan tersenyum.
 
Apa itu api, minyak, terbakar? Kilatan, hantaran, dan pijaran? Apa itu surya, yang panas, dan bersinar?
 
Dunia tersulap dalam gerak hidup lampu-lampu yang berpendar, mewarnai setiap musim… dan bunga-bunga langit di bawa turun menuju bumi. Berlian raksasa menemukan bentuknya… Tapi, tidak akan pernah sama.
 
Seiring langit kehilangan nadanya, bumi semakin merasa haus.
Masa-masa tidur panjang yang nyenyak ketika tak ada aturan untuk mencipta, untuk mengubah, untuk menggunakan sesuatu, untuk menggali makna, dan  berburu manfaat.
 
Adakah masa untuk diam sejenak? Sebentar saja untuk merasakan masa di mana cahaya-cahaya mati karena kerelaan diri, demi melihat dunia langit sana yang tengah menjauh dari kehidupan bumi,
menikmati apa yang bergerak pelan-pelan… proses menuju akhir dunia yang menyenangkan…
di mana
cahaya-cahaya mati.
 
Solo, 25-27 September 2010
 
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s