Let The Rain Talk

Original source: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/42/Poetry-of-The-Week-Let-The-Rain-Talk

Jan 18, ’10 12:54 AM

Let The Rain Talk

Biarkan hujan bicara dan aku meringkuk dalam kehangatan memeluk diriku sendiri.
Mataku berkedip pelan dan aku berpaling pada suara detik jam.
Aku ingin memejamkan mata saja dan biduan malam…
Malam ini tidak akan sepi lagi.

Biarkan hujan bicara dan aku mencari matahari.
Kupandangi langit dan alam yang menjadi diam.
Apakah gerangan kedukaan atau suka cita yang mendalam.
Aku tak mendengar apapun, aku berbalik dan melangkah pergi.

Biarkan hujan bicara dan aku lagi-lagi hanya bernaung di bawah langit yang tinggi.
Dunia memang bicara dengan caranya, seperti diputar dalam lambat sebuah film.
Memandang ini jalan yang suram, di balik kaca jendela yang menjadi buram.
Aku tidak takut lagi, kebebasan sejati.

Biarkan hujan bicara, aku dengarkan sebuah simfoni.
Merindu juga milik alam.
Hanya saja, aku tak bisa mendengar batinnya yang begitu diam.
Berkatalah, kumohon, buat aku tersentuh kembali.

17 Januari 2010

Aku pernah mengalami hal yang aneh: menjadi penguasa jalanan. Hanya beberapa detik saja. Hari itu hujan begitu derasnya dan kampus sudah menjadi begitu sepi karena hujan: tidak ada yang suka berbasah-basah ria, bukan.

Karena suatu janji, walaupun akhirnya tak bisa kutepati, aku berangkat ke kampus untuk pertama kalinya pukul 12.00 dan sampai pukul 13.00. Aku turun dari bis dalam keadaan dunia yang begitu abu-abu, jalanan banjir, begitu sepi, dan semua orang yang lewat tampaknya ingin cepat-cepat berlalu untuk mencari tempat yang teduh.

Dan, hanya 15 detik, mungkin… aku menikmati berjalan persis di tengah-tengah jalan. Di depanku jalanan tampak kosong, di belakangku jalanan juga kosong. Kanan kiri, apa yang kulihat selain rumah-rumah yang menutup pintu dan jendelanya? Berjalan dengan payung yang bocor, sepatu yang banjir, dan kedinginan… betapa sendiriannya aku di dunia yang berisi begitu banyak makhluk. Rasanya sendirian, seolah ini bukan dunia yang kukenal: sibuk, penuh, ribut, ramai, dan takut tertabrak arus. Aku tak takut dipandang aneh berjalan di tengah jalan begitu dan rasanya… aku seperti mendobrak sesuatu: rasa takut dan rasa tidak percaya diri.

Biarkan hujan bicara, dan menjadi orang yang berbeda seperti apakah dirimu? Dengarkan simfoninya dan roda kehidupan terseret mengikuti iramanya. Ketika manusia menghilang dari jalanan, sesungguhnya ada banyak hal yang kemudian menampakkan diri. Hanya dengan cara begitu rasanya manusia akan menghilang dari jalanan… biarkan hujan turun. Sebagian akan bersyukur dan sebagian akan mengaduh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s