Life of My Life

Original source: aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/14/Hidup-Hidupku

Mengingat perkataan dari seorang dosenku, tulisan ini akhirnya dibuat.

Apakah teman-teman adalah orang yang suka mengungkapkan dirinya kepada orang lain? Konsekuensi kita ada bersama dan menampilkan diri ke hadapan orang adalah pengungkapan diri kita. Nah, kadang-kadang… memang muncul suatu ironi: Apakah kau mau dirimu diketahui orang? Jawaban yang beberapa kali muncul: Tidak. Alasannya, “nanti dalam-dalamnya ketahuan juga (sifat, karakter, pengalaman masa lalu, dan sebagainya)” atau “nanti dinilai orang”. Sebenarnya ini terjadi pada orang-orang yang enggan berinteraksi, terutama dengan mahasiswa psikologi. Tapi, sama-sama manusia, tidak hanya mahasiswa psikologi yang bisa menilai atau mengamati dalam-dalam manusia. Banyak orang yang bisa melakukan hal serupa, bahkan lebih ahli (punya sixth sense, kali!!).

Sekecil apapun keberadaan kita membuat kita kelihatan, selama orang lain mengetahui keberadaan kita, itulah pengungkapan diri kita. Kita mengungkapkan diri dari apa yang kita tampilkan secara fisik, apa pemikiran kita, apa ucapan kita, apa sikap dan perilaku kita. Segala macam perbuatan yang biasa saja kita lakukan, semuanya mengungkapkan diri kita. Nah, apakah kita perlu ragu untuk membuat diri kita diketahui orang lain? Apa yang perlu kita khawatirkan dari apa yang coba kita ucapkan atau perbuat?

Setelah beberapa lama membuat blog (sekitar 1 tahun), aku menyadari satu hal: mengungkapkan diri dan membuat diri diketahui orang lain memang memungkinkan orang lain menyalahpahami siapa dan apa diri kita. Namun, kekhawatiran akan hal tersebut yang membuat kita lebih memilih diam malah akan membuat kita tidak dipahami orang lain. Kalau kita hanya mengungkapkan diri pada satu orang, hanya orang itulah yang mungkin akan memahami kita. Sebaliknya, jika kita mengungkapkan diri pada lebih banyak orang, orang-orang itulah yang akan memahami (di samping tidak memahami kita) dan mendukung (di antara orang-orang yang mencemooh kita). Kita sebagai individu bukanlah penduduk bagi kehidupan kita sendiri, kita adalah penduduk di lingkungan kehidupan yang lebih besar (desa, kota, atau negara). Bahkan, kita adalah penduduk dunia! Banyak fasilitas yang membuat kita menjadi penduduk dunia, sudahkah kita menggunakannya untuk menjadi penduduk dunia teladan dan produktif? Siapakah diri kita, apa yang kita lakukan, semua itu adalah sumber penilaian orang, kan?

Pada akhirnya, tulisan ini dibuat sebagai penghormatan saya kepada orang-orang yang menulis dan membuat tulisannya diketahui orang. Karena mereka, sebuah pemikiran turut dipikirkan oleh orang banyak, orang-orang memiliki perasaan-perasaan baru atas hal-hal yang terjadi yang sebelumnya tidak mereka sadari terjadi, orang-orang ikut menulis, dan orang-orang merubah diri mereka.

Menulis, tak lain dan tak bukan, merupakan pengungkapan diri: pengalaman, ide, keyakinan, perasaan… Membaca tulisan seorang penulis, tak lain dan tak bukan, adalah  membaca diri penulis itu sendiri. Sungguh hebat mereka yang dapat mengolah apa yang diri mereka ketahui dan miliki menjadi sesuatu yang dapat bermanfaat bagi orang lain.  Sekalipun apa yang mereka ketahui dan miliki itu adalah hal yang sangat sederhana atau pengalaman masa lalu yang buruk atau indah, semua itu menjadi sesuatu yang lain di pikiran orang lain. “Hidup hidupku” di tangan seorang penulis menjadi “hidupmu” pula. Begitulah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s