Lupa

Original source: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/72/Poetry-of-The-Week-Lupa…

Jul 3, ’10 8:42 PM

Lupa.
Satu kata.
Mudah.
 
Lupa.
Satu kata.
Selesai.
 
Lupa.
Satu kata.
… dan aku seperti ditinggalkan oleh kenyataan yang pernah membuaiku.
 
Ingat rasanya ingat,
seolah makna berhasil kurangkum,
untuk kepuasan yang kubawa pulang,
lalu kujaga dalam tidur panjang penuh mimpi.
 
Saat di mana aku tidak bisa ingat:
Seolah gambaran dunia meninggalkan mataku,
melodi yang semakin samar,
sentuhan yang kehilangan rasa…
 
Hidup seperti cerita yang berakhir.
Aku seperti sosok yang terbang, tertiup angin musim dingin.
 
***
Itulah rasanya lupa. Banyak orang yang sengaja membuat dirinya “lupa” padahal ingat. Tahukah teman-teman, betapa nikmatnya bisa mengingat atau ingat sesuatu. Jika boleh memilih dan benar-benar mendapatkannya, aku ingin punya memori super, sehingga:  mudah menghafalkan Al Quran, tidak sulit menghadapi ujian, tidak tersesat ketika jalan-jalan, mudah mengenal orang-orang, bisa hafal nomor-nomor HP, tidak usah punya kalkulator, tidak usah membuat catatan kuliah dan… cukup otakku saja🙂
 
Hahaha… sayangnya dengan begitu aku juga akan menderita karena aku akan selalu tahu sampai mati nanti segala sakit hati yang kurasakan dengan begitu detilnya. Kesimpulannya… Cukuplah aku yang sekarang dengan potensi untuk lupa juga potensi untuk ingat.
Tetapi, ada yang sedikit mengesalkan dari melupakan sesuatu. Ketika lupa membuatmu kehilangan hal-hal penting dalam hidupmu, makna-makna sederhana yang tidak akan tersimpulkan lagi karena kesempatan tidak datang dua kali. Yeah, otak manusia memang digempur oleh begitu banyak informasi baru dan begitu kau meleng… whuzz… pertanyaannya: “Apa itu tadi???”
Begitulah… Sejak menyadari hal ini, aku menjadi semakin banyak mencatat, sekalipun itu hanya satu kata atau satu huruf di buku catatan, HP, atau di telapak tangan. Aku hanya tidak ingin menderita karena lupa… Sering, kata-kata mutiara datang dalam benak sekelebat-sekelebat saja sehingga bahagia yang dirasakan juga sebentar saja. Tetapi, dengan mencatatnya agar aku tidak lupa, maka aku sedang mengabadikan suatu kesan indah yang sering sangat filosofis.
Seandainya tidak ada kertas atau pena… memang ada hal-hal yang tidak dapat kauabadikan dengan sempurna dalam hidup ini.  Kalau begini, aku berharap pada Tuhan semoga ia menajamkan perasaanku. Mengingat dengan jalur perasaan tampak lebih kekal daripada jalur akal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s