Mari Menyindir Pemerintah

Original source: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/27/Topic-of-The-Week-Mari-Menyindir-Pemerintah

Seharusnya pemerintah tidak boleh marah atau bad mood jika rakyat menyindirnya. Benar-benar tidak dewasa… kalau dihubungkan dengan tes WAIS yang baru saja kupelajari, pemerintah yang tidak peka begini: pemahaman norma sosialnya suaaangggaaaat baik, tetapi penerapannya buruk disebabkan kemampuan persepsi sosialnya yang tidak berkembang dikarenakan oleh kemampuan analisis sintesisnya yang payah. >_< Berapa IQ (prestatif-nya, setidaknya)  kalau begini?
 
Dihubungkan dengan EPPS: kebutuhan berprestasi pemerintah tinggi, tetapi kenapa hasilnya sangat jauh dari lumayan bagi rakyat, ya? Ooo… ternyata, kebutuhan berafiliasi pemerintah dengan orang “titik-titik” tinggi, makanya tindakannya tidak bisa tegas dan sangat dipengaruhi debur ombak dan badai kelompok. Diketahui lebih lanjut, abasement pemerintah tidak begitu baik, diketahui dari perilaku yang suka ngeles alias tidak mau disalahkan. Hal ini disebabkan oleh kebutuhan change yang sedang-sedang saja (tapi karena afiliasinya sangat tinggi, change-nya jadi lemah sekali!). Yang dimaksudkan change adalah kemauan untuk menerima pengalaman, salah satunya adalah bersedia dikritik… Capek juga berpikir begini. Wajah pemerintah begitu banyak. Begitu banyak orang yang lelah menghadapi kelakuan pemerintah. Bagaimana kalau kita rehabilitasi saja???
 
Begitulah kelakuan rakyat. Aku ini rakyat. Kalian pembaca juga rakyat. Layaknya wanita yang cenderung melakukan agresi secara verbal karena lemah secara fisik… kita rakyat juga cenderung membuka mulut menghimbau pemerintah. Mungkin ada teriak-teriaknya sedikit… ada juga jerit tangis… ada juga tangis yang tertahan… Mungkin juga ada yang diam… Mungkin juga ada yang menemukan cara-cara unik yang agak keterlaluan. Agak dalam dan nyelekit, maksudnya…
 
Ada lampu yang menyala di kepalaku bahwa karya sastra dapat berfungsi seperti ini. Kebanyakan orang mungkin berpikir cara memperlakukan pemerintah seperti ini terlalu kompleks: menyusun alur cerita, isi cerita, tokoh dan setting yang mencerminkan suatu kondisi yang jatuh, berhulu pada ketidakbecusan pemerintah, baik disengaja atau tidak. Inilah kepekaan sosial yang dipadukan dengan keunggulan inteligensi. Tetapi, entahlah… skak mat terjadi atau tidak… karena pemerintah pandai ngeles.
 
Aku menunggu banyak cerita perihal menyindir pemerintah. Cerita pertama sekaligus yang paling kuingat tidak berasal dari buah karya orang Indonesia. Cerita adalah cerpen (yang panjang) yang berjudul “Mantel Kematian” karya Nikolai Gogol, sastrawan Rusia. Cerpen ini kutemukan dalam buku Antologi Cerpen Rusia yang sudah kumiliki sejak hampir 10 tahun yang lalu, tetapi belum kutamatkan. Aku bertanya-tanya ketika membaca cerpen-cerpen dari Rusia itu: kenapa gaya berceritanya begitu, ya? Kau tahu? Panjang paaaanjaaang, aku hampir merasa cerpen-cerpen itu adalah novel karena sangat deskriptif dan eksplanatif. Aku bosan dibuatnya.
 
Nikolai Gogol (1809 – 1852) adalah sastrawan Rusia (orang Ukraina sebenarnya)  yang pertama kali menyatakan tragedi keprihatinan orang Rusia yang dihancurkan oleh campur tangan kekuasaan Tsar. Gaya menulis Gogol yang impresif merupakan tindakannya yang hebat melawan ke-Tsar-an Rusia. 
 
“Mantel Kematian” berkisah tentang nasib sial seorang pegawai pemerintah yang miskin bernama Akaky Akakievich. Penampilannya menarik: pendek, agak bopeng, rambut kemerahan, dan penglihatannya rabun. Ia bekerja di bagian pelayanan umum dan tidak pernah naik jabatan sehingga ia sering diolok-olok pegawai lain. Sebagai juru ketik, tak ada seorang pun yang menghormatinya. Sekalipun ia menerima perlakuan yang tidak mengenakkan, ia tak pernah menanggapinya. Pekerjaannya tidak pernah terganggu, ia tidak pernah salah ketik. Gaji Akaky sangat kecil, bisa dikatakan dia adalah pegawai miskin.
 
Akaky hanya memiliki sebuah mantel yang sudah dipakainya bertahun-tahun. Mantel itu sudah rusak di beberapa tempat, bahkan penampilannya sudah seperti kain lap. Mantel itu sudah tipis, nyaris transparan. Menyadari keadaan ini, Akaky pun pergi ke tukang jahit bernama Petrovich untuk memperbaiki mantelnya, tentu dengan biaya yang murah. Namun, karena keadaan mantel itu sudah parah sekali, mantel itu tidak bisa diperbaiki lagi (sudah terlalu banyak tambalan). Akaky kemudian terpaksa membeli mantel yang baru. 
 
Tentu saja Akaky tak punya uang. Ia berpikir keras untuk menyelesaikan masalah ini. Ia kemudian memutuskan melakukan penghematan besar-besaran selama satu tahun: berhenti minumteh, berjalan tanpa penerangan lilin, berjalan dengan hati-hati agar sol sepatu tidak rusak, mengurangi mencucikan pakaian ke tukang cuci, tidak makan malam… semua itu demi mantel baru. Selama setahun ia sangat memikirkan, sampai gelisah, mantel itu. Ketika mantel itu jadi, hari itu menjadi hari yang paling menggembirakan bagi Akaky. Akhirnya dia punya mantel yang hangat dan nyaman. Semua orang di kantor sangat ingin tahu perihal penampilan Akaky yang baru. Yang jelas, Akaky sangat berhati-hati memperlakukan mantelnya.
 
Pada suatu hari seorang pegawai mengundang Akaky ke pesta di rumahnya. Di rumah pegawai itu, Akaky kembali disambut dengan hangat dan orang-orang tertarik sekali pada mantelnya yang ia gantung di luar ruangan. Karena bosan, ia kemudian memutuskan pulang. Di perjalanan pulang rupanya ia sial. Mantelnya dicuri paksa oleh orang tak dikenal. Ia berteriak-teriak minta tolong dan menuju pos polisi terdekat. Ia kemudian bertemu dengan polisi malas yang menyarankanya agar bertemu polisi lain (inspektur). Ketika bertemu inspektur, ia disuruh bertemu inspektur wilayah dengan alasan polisi lokal suka mempermainkan orang lain, membuat janji palsu dan menipu. 
 
Keesokan harinya ia pergi langsung ke rumah inspektur wilayah. Sejak pagi ia menunggu, tetapi selalu saja ada alasan inspektur tidak bisa bertemu. Setelah bertemu inspektur, ia malah dilecehkan. Pada hari itu, untuk pertama kalinya Akaky tidak masuk kerja. Hari berikutnya ia kembali memakai mantel usangnya dan berita perampasan mantel itu tersebat. Sebagian pegawai ada yang bersimpati, tetapi ada pula yang menertawakannya. Seorang teman yang bersimpati kemudian menyarankan agar ia tidak mempercayakan masalahnya pada polisi, tetapi pada orang penting
 
Ketika ditemui, orang penting ini sedang mengobrol dengan teman lamanya. Ia mengacuhkan Akaky. Baru setelah orang penting ini bosan mengobrol, barulah Akaky diperbolehkan bertemu. Akaky yang hanya orang kecil tentu canggung berbicara di hadapan orang penting ini. Akaky malah dibentak, betapa beraninya ia melapor hal yang demikian kepada orang penting tanpa memperhatikan prosedur. Orang penting itu menceramahi Akaky soal prosedur yang benar  dan menyalahkan Akaky yang membuatnya menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidak penting. Akaky dimarahi betapa beraninya ia bertemu dengan orang penting.
 
Akaky meninggalkan rumah orang penting layaknya orang mati. Ia tak punya harapan lagi untuk menyelamatkan mantelnya yang berharga. Ia belum pernah diperlakukan seburuk itu sebelumnya. Ia pulang dalam terpaan badai salju dan kedinginan. Sampai di rumahnya, Akaky langsung jatuh sakit dan sehari kemudian ia meninggal dunia. Akaky meninggal tanpa keluarga dan harta. Orang di kantor tak ada yang tahu ia sudah meninggal sampai pada beberapa hari setelahnya petugas pos yang menyamaikan surat pemanggilan atas Akaky dari kantornya datang ke rumah Akaky yang kosong.
 
Yang mencengangkan: muncul desas-desus hantu Akaky di kota.  Hantu pegawai negeri yang mencari mantelnya. Hantu itu merebut mantel siapa saja tanpa pandang bulu. Keluhan mantel hilang pun mengalir ke kantor polisi dan polisi diperintahkan menangkap hantu itu. Hantu itu kemudian mengincar di orang penting yang membuat si orang penting sangat ketakutan dan merebut mantelnya. Setelah memperolah mantel si orang penting, barulah hantu pegawai negeri itu menghilang. 
 
Namun, desas-desus hantu lain muncul. Bukan hantu pegawai negeri, tetapi hantu dengan postur yang berbeda, yang gentayangan di jalan-jalan Rusia.
 
***
Kuharap kalian menangkap poin dari cerita di atas. Aku sudah meringkasnya seringkas mungkin. 
 
Bersyukurlah… cerita itu fiktif. Seandainya nyata orang-orang yang dizalimi pemerintah menjadi hantu… horror!

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s