Memahami Menulis

Original source: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/52/Note-of-The-Week-Memahami-Menulis

Baru saat ini aku menyadari bahwa aktivitas menulis jauh lebih kompleks dari yang semula kuduga. Ketika aku mendorong orang-orang untuk menulis, aku menyesal tidak mencoba memahami lebih baik permasalahan mereka yang sebenarnya, terkait dengan tulis-menulis ini. Aku berharap tulisan kali ini mencerminkan pemahamanku atas topik ini dan bermanfaat bagi semua pembaca, terutama dalam usaha kita semua memahami kompleksitas menulis.
Aku memandang menulis itu mudah. Tidak ada yang lebih mudah selain suatu kemampuan yang bisa kita miliki dengan cara yang natural. Bagiku, menulis sama naturalnya dengan tindakan membuka mata dan menceritakan apa yang dilihat. Namun, bagi orang lain, fenomenanya tidak sama, bukan? Yang terlambat kusadari adalah semua tindakan adalah buah dari proses yang terjadi seiiring berjalannya waktu. Kalau kita membicarakan tentang perkembangan diri individu di sini, memang tersajikan penjelasan yang cukup relevan.
Orang-orang yang “pro” pada menulis akan dengan mudah menyalahkan bodohnya kita ketika “memilih” untuk tidak menulis. Seolah menulis adalah kodrat semua orang, mereka lupa bahwa ada banyak hal yang mempengaruhi terjadinya suatu perilaku, kebiasaan, bahkan budaya. Salah satu faktor utama yang bisa kita pertimbangkan untuk menjelaskan isu rendahnya minat menulis (di Indonesia) adalah tidak tersedianya lingkungan yang memungkinkan kita belajar menulis. Jika seseorang dibesarkan di lingkungan di mana ia tidak diajari, diteladani atau dihargai atas aktivitas atau hasil menulisnya, bagaimana ia bisa menulis dengan baik? Dari pertanyaan ini, kita dapat mengevaluasi pengasuhan dan pendidikan yang kita semua alami. Kita dapat mempertanyakan, apa yang dilakukan orangtua dan guru-guru kita sehingga tidak sejak dini mengajari kita menulis.¬†Arah penjelasan di atas bukan menuju pada sesuatu yang reaktif. Karena kita sudah dewasa, memalukan jika kita menyalahkan masa lalu dan orang-orang di sekitar kita atas “keteledoran” mereka. Pengalaman hidup kita layak dijadikan pelajaran, bagaimana agar kita tidak membuat generasi selanjutnya terpuruk dalam kemiskinan kemampuan dan keterampilan untuk hidup mengaktualisasikan diri.
Ketika kita memutuskan untuk menjadi orang yang menulis, sesungguhnya kita sudah memutuskan pilihan besar untuk menjadi manusia yang lebih bermanfaat, atau setidaknya produktif. Banyak orang yang suka membaca, melihat dan mengalami dunia-kehidupannya, tetapi tidak semua orang bersedia dan mampu menerjemahkan semua itu untuk orang lain. Ada begitu banyak hal yang dialami dan diceritakan untuk dimaknai bersama seberapa pun nilainya, tetapi ternyata sedikit orang yang mau menjalani aktivitas produksi ini. Jika disuruh memilih, kebanyakan orang tampak lebih suka menerima daripada memberi, tidak hanya masalah materi, tetapi juga ide. Namun, apakah ini memang sudah digariskan untuk terjadi pada manusia? Kalau begitu, menulis sesuatu yang bermanfaat adalah aktivitas “berlomba-lomba menuju kebaikan”. Sama halnya seperti tidak semua orang masuk surga. Kondisi seleksi seperti ini memang sudah digariskan.
Kalau kita sudah tahu mana yang baik, mana yang benar, mana yang bermanfaat, masalah kita mau melakukan sesuatu kembali pada pilihan kita sebagai manusia yang berkehendak. Kita semua bebas memilih mau menjadi apa, tetapi ada kalanya pilihan akan dibuat ketika kita menghadapi kondisi yang mendesak karena suatu kebutuhan. Mungkin akan ada masanya di mana orang-orang akan dipaksa, didorong-dorong untuk menulis karena suatu keadaan, karena harga diri yang terancam, mungkin… Lihat saja dunia pendidikan di mana baik mahasiswa maupun dosennya kini “berlomba-lomba” manulis demi sesuatu hal yang memotivasi. Namun, masalah terus saja berlanjut sekalipun sudah menulis: kualitas yang dipertanyakan, kekuatan data dan informasi yang bermutu. Aah, aku jadi ingin mencela orang-orang yang asal menulis: orang-orang yang menulis dengan kepalsuan, mereka yang mengejar sesuatu yang salah, bahkan mengajarkan kesalahan. Kasihan dunia ini… Semoga kita bukan orang-orang yang merugikan.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s