Mencari Puisi yang Hilang

Original source: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/21/Topic-of-The-Week-Mencari-Puisi-yang-Hilang

Semua orang tahu rasanya kehilangan sesuatu. Semua orang pasti pernah kehilangan sesuatu. Semua orang pernah kehilangan sesuatu yang besar, tetapi mungkin yang paling sering hilang adalah hal-hal kecil. Hal-hal kecil itulah yang ketika terakumulasi menjadi sesuatu yang besar. Sering, kita tidak sadar bahwa wujud sebenarnya dari sesuatu yang besar adalah banyak hal-hal yang kecil.

Beberapa kali aku tidak percaya “aku-bisa-begini”. Flashback pada lembaran-lembaran yang lalu, aku tak percaya bisa membuat lebih dari 15 cerpen dalam waktu 3 tahun (jangan tertawa, bagiku ini prestasi besar), aku membuat berlembar-lembar puisi, dan berlembar-lembar gambar. Ada hal yang kemudian kuketahui bahwa: inilah perkembangan. Perkembangan selalu tampak baik sederhana maupun rumit.

Pada tiga tahun yang lalu, aku membuat suatu gambar dan merasa gambar itu bagus. Namun, ketika kulihat kembali saat ini, kusadari gambar tiga tahun yang lalu tidak begitu bagus. Gambarku saat inilah yang bagus. Itu juga terjadi pada puisi dan cerpen yang kubuat. Jadinya malu sendiri, mengapa sesuatu dari masa lalu bisa tampak begitu sederhana dan remeh di masa sekarang? Aku tak habis pikir, rupanya sejauh mana aku berkembang menentukan bagaimana aku berusaha dan mengapresiasi diri. Tampaknya, akan ada masa di masa depan nanti di mana aku akan berkata bahwa karyaku pada hari ini jelek. Tunggu saja. Begitulah perkembangan diri membuat banyak hal hilang. Sadari ini, kau tak akan kehilangan rasanya hidup.

Sehubungan dengan topik kali ini, beberapa bulan yang lalu aku membeli sebuah novel karya Orhan Pamuk yang berjudul “Snow”. Tahukah kalian siapa Orhan Pamuk? Beliau adalah seorang novelis asal Turki. Beliau mendapat penghargaan Nobel tahun 2006 atas karyanya “My Name is Red” (kapan-kapan akan kubahas). “Snow” berhasil kubaca dalam waktu sekitar satu minggu. Sungguh kisah yang menyedihkan, memilukan, sekalipun aku tak sampai menangis membacanya.

Sungguh tidak bahagia perjalanan hidup Ka, si tokoh utama. Ia berusaha mencari dan mengejar masa lalu dan cita-citanya di sebuah kota kecil di pelosok Turki, kota Kars. Pada akhirnya ia tak mendapatkan suatu kebahagiaan kecuali berhasil menciptakan kumpulan puisi yang bernasib buruk. Buku di mana puisi-puisi itu hilang pada hari ia mati ditembak di suatu jalan, empat tahun setelah ia puisi-puisi itu dibuat. Novel “Snow” tidak berisi puisi-puisi itu, tetapi perjalanan Orhan, sahabat Ka, yang menelusuri kembali hidup Ka dan bagaimana puisi-puisi itu diciptakan selama Ka berada di kota Kars. Novel ini sangat bagus, memadukan konflik politik Turki pada masa itu, dunia dalam kepala  seorang pujangga, dan romance yang menumbuhkan harap sekaligus cemas.  Novel yang tebal ini sebenarnya hanya menceritakan tiga hari keberadaan Ka di kota Kars. Salut kepada author-nya yang mendeskripsikan begitu lengkap dari isi perasaan dan kepala sampai setting di mana cerita terjadi.

Dari novel ini, aku paham bahwa menciptakan suatu masterpiece bukanlah hal  yang mudah dan sederhana. Puisi-puisi dibuat dari suatu kesadaran dan pendalaman atas peristiwa-peristiwa dan pengalaman-pengalaman hidup. Puisi-puisi dibuat dengan suatu  intuisi, refleksi,  fantasi, ekspektasi, bahkan penggalian kembali pengalaman hidup yang telah hilang. Jika ingin membuat sesuatu yang menyentuh perasaan,  kita harus bisa merasakan perasaan itu terlebih dahulu. Perasaan kita harus bisa tersentuh terlebih dahulu, bahkan kita harus membuat agar perasaan kita bisa tersentuh. Bila ingin membuat puisi tentang harapan, kita harus tahu rasanya  memiliki harapan. Bila ingin membuat puisi tentang kebahagiaan, kita harus tahu rasanya memiliki kebahagiaan. Bila ingin membuat puisi yang membuat orang lain menyadari sesuatu, kita harus sadar akan sesuatu itu terlebih dahulu. Karena kalau tidak, kata-kata yang kita inginkan tidak akan keluar.

Kalau puisi adalah seni perasaan, sepertinya aku tahu mengapa. Menuangkan ide lewat tulisan melibatkan suatu aktivitas kognitif, tetapi berpuisi sangat melibatkan aktivitas afektif. Dengan banyak merasakan, puisi-puisi akan mudah tercipta. Dipadukan dengan kemampuan intelektual dan komunikasi, puisi-puisi tak hanya menyentuh, tetapi membuat orang yang membacanya memikirkan sesuatu yang juga kita pikirkan. Karya yang seperti inilah yang jika hilang, dunia akan menangisinya.

Pada akhirnya, apa pun yang kita hasilkan adalah gambaran perkembangan diri kita. Apa pun yang akhirnya akan menghilang, semua itu adalah wujud perkembangan diri. Yang hilang merupakan awal dari sesuatu yang muncul. Sama seperti yang dialami Orhan dalam “Snow”, ia berusaha mencari kehidupan Ka dan puisi-puisinya yang hilang. Namun, karena itulah muncul kisah yang sangat menyentuh, yang membuat para pembaca kisah menemukan hal-hal yang hilang dari kehidupan mereka masing-masing.

Dari novel ini pula, aku jadi belajar bahwa akan ada saat di mana kita semua akan melepaskan dengan penuh kerelaan keinginan-keinginan yang dimiliki. Kita semua memendam keinginan, yang seperti air, kita mencari jalan keluar agar sampai pada tujuan: keinginan yang tercapai. Ada kalanya jalan yang harus kita lalui untuk mencapainya ada di wilayah yang tidak kita senangi, membuat kita mengingati kembali pengalaman-pengalaman yang tidak menyenangkan, dan terhadang begitu banyak hambatan. Ada kalanya melepaskan keinginan lebih baik daripada mempertahankannya dan membuat kita terseret-seret dalam penderitaan atau kebimbangan. Ini artinya kita harus realistis dalam memandang apakah sesuatu bisa dicapai atau tidak.

Sama seperti yang terjadi pada Ka pada hari terakhirnya di kota Kars. Aku tidak tahu apa jadinya jika ia tidak jadi naik kereta api, tetapi mencari Ipek, kekasihnya yang tidak kunjung datang. Ceritanya akan tambah panjang karena Ka akan tahu bahwa Ipek tidak lagi percaya padanya yang dituduh ada di balik pembunuhan seseorang. Ia melanjutkan langkah,  naik kereta api di hari yang bersalju. Sekalipun ia terus-terusan memandang ke belakang, ke arah kota dan harapan-harapan yang ditinggalkannya, ia tetap terus melanjutkan perjalanan. Sekalipun tahu ia tak akan bahagia setelahnya, ia tetap memilih pergi.

Sama juga yang terjadi pada Orhan di hari ia meninggalkan Kars setelah mendapatkan kisahnya tentang hidup Ka dan puisi-puisi yang hilang. Ia melanjutkan perjalanan, meninggalkan keinginannya untuk menemukan kembali hal-hal yang hilang. Misteri belum terkuak, tetapi semuanya cukup sudah. Ia meninggalkan Kars dengan air mata yang menetes.

Akhirnya… perkembangan dunia dan kehidupan di dalamnya juga membuat begitu banyak hal hilang. Tetapi syukurlah, hilang bentuk dan rupa tidak membuat kita kehilangan rasa dan kenangan.

Siapa Orhan Pamuk?
Orhan Pamuk lahir di Istanbul, Turki pada tahun 1952. Selain bekerja sebagai novelis, ia juga adalah profesor Comparative Literature and Writing di Universitas Columbia. Sebagai seorang novelis, ia sangat terkenal, terutama karena ia menjadi orang Turki pertama yang memenangkan Nobel Prize tahun 2006 lewat karyanya “My Name is Red”.
Pada awalnya ia berkuliah di jurusan arsitektur di Universitas Istanbul, Turki karena ia suka melukis. Ia meninggalkan kuliah setelah tiga tahun lamanya untuk menjadi penulis penuh dan lulus dari Institut Jurnalisme di Universitas Istanbul. Sejak usia 22 – 30 ia hidup dengan ibunya dan menulis novel pertamanya. Sebagai seorang muslim, ia menggambarkan dirinya sebagai seorang kultural yang menghubungkan identifikasi historis dan kultural dengan Islam.
Ia menikah dengan seorang sejarawan pada tahun 1982 dan kemudian bercerai pada tahun 2001. Ia memiliki seorang anak perempuan bernama Ruya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s