Menulis dan Sebuah Kebebasan

Original source: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/18/Note-of-The-Week-Menulis-dan-Sebuah-Kebebasan

Seperti semesta yang berkembang, manusia berkembang… Untunglah bagi semesta. Tuhan menyediakan space yang sangat luas tak berhingga. Tanpa batas itu membuat perkembangnya tidak akan membuat dunia bertubrukan. Untunglah bagi manusia. Tuhan menyediakan space yang memiliki batas. Batas itu membuat perkembangnnya tidak akan membuat dirinya dengan  manusia-manusia lain  saling bertubrukan.
 
Menulis adalah aktivitas kebebasan, sama seperti berkarya. Menulis adalah buah karya ada yang ada di pikiran kita: ide. Ide ini dibatasi oleh tempurung kepala, jika tidak dikeluarkan, kepala akan pecah. Ide ini juga dibatasi oleh nilai dan norma. Jika ia tidak berusaha menjadi seperti air yang mencari celah “jalan terbaik untuk mengalir”, ia akan terbendung dan menjadi banjir pada suatu hari.
Mereka yang tidak membiarkan apa yang seharusnya mengalir untuk mengalir… akan kita lihat bersama, mereka tidak akan mempu menemukan cara terbaik lagi untuk mengungkapkan diri. Ingin menulis, mereka akan mencoret-coret. Ingin berbicara, mereka akan berteriak-teriak. Ingin membentuk, mereka akan merusak bahan. Ingin menari, mereka akan membuat gerakan kacau. Itu karena mereka tidak belajar untuk mengalir sedikit demi sedikit layaknya selokan kecil, tetapi langsung menjadi bah yang tidak pandang saluran. Karena mereka tidak belajar sabar dengan diri mereka sendiri, sabar untuk mengelola kebebasan untuk mengungkapkan diri. Mereka ingin segera mencapai sesuatu, padahal belum waktunya.
Begitu banyak orang yang menulis dalam penjara. Mereka tidak peduli jeruji yang ada di hadapan mereka. Banyak orang yang menulis dalam penderitaan. Mereka tidak peduli penderitaan, karena penderitaan adalah sumber ide bagi mereka. Sayangnya, ada yang labih menyedihkan. Tidak ada penjara fisik atau penderitaan berarti, kebanyakan orang tidak dapat mengungkapkan apa-apa. Apa yang ada dalam pikiran mereka, ya? Bukankah sebaiknya kita sama-sama menyadari: Diri kita adalah sumber kebebasan maupun kekangan itu sendiri. Tinggal kita akan memilih menjadi bagaimana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s