Menulis Sesuatu yang Ilmiah

Original source: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/34/Topic-of-The-Week-Menulis-Sesuatu-yang-Ilmiah

Ada suatu dunia yang tidak memungkinkanmu untuk tidak menulis sesuatu yang ilmiah. Itulah dunia pendidikan di mana kau belajar yang  hari ini kau beruntung diberi anugrah untuk menikmati bangku kuliah. Kau diberi kesempatan untuk berstatus sebagai mahasiswa yang maka dari itu kau harus berperan layaknya mahasiswa. Berkarya.

Setiap hari aku berangkat kuliah, naik angkutan umum satu jam lamanya. Aku berangkat bersama banyak orang dari beragam profesi: ibu-ibu pedagang di pasar yang membawa barang dagangan dalam keranjang besar yang dipanggul, bapak-bapak yang membawa alat pancing elektrik (aku tidak tahu apa namanya), nenek-nenek atau ibu-ibu yang mengantar anaknya ke sekolah, siswi-siswi SMU berpakaian trendi, siswa-siswa SMU yang tidak kalah gayanya, mahasiswa-mahasiswi cakep berpakaian rapi dan harum.

Di angkot atau bus, kadang-kadang mendengar supir atau kernetnya yang marah-marah. Di atas bus, para pengamen datang silih berganti, dari anak-anak sampai dewasa, dari yang cuma mengandalkan mulut sampai yang membawa cello. Pengamen anak-anak, sebelum menyanyi mereka membagikan amplop-amplop: Mohon bantuan seikhlasnya, untuk makan sehari-hari, untuk biaya sekolah adik, untuk biaya beli obat, untuk membantu orangtua… Aku menebak-nebak apakah mereka berbohong. Angkot yang ngetemnya seabad kusiasati dengan memutuskan berjalan kaki saja. Di jalan, aku berpapasan dengan orang cacat, penyapu jalan, pengemis yang menggendong anaknya.

Aku puas, sampai di gerbang kampus, aku disambut oleh gedung-gedung megah. Mahasiswa keluar masuk dengan angkot, motor atau mobil pribadi. Kebanyakan berwajah riang, berdandan rapi dengan buku-buku di tangan yang satu dan tas tangan di tangan lainnya…

Berapa banyak mahasiswa yang tahu kalau tanah tempat ia belajar adalah tanah yang pernah dipersengketakan? Di suatu bagian kampus ada tanah yang dipenuhi sumur-sumur yang tak terpakai. Di suatu bagian, ada bekas rumah penduduk yang tinggal puing atau setengah rusak. Penduduk masih memanfaatkan sebagian tanah kampus untuk menggembalakan sapi dan kambing. Kadang kulihat nenek yang mencari kayu bakar. Kadang aku bertemu anak-anak SMP yang rumahnya dekat kampus. Ada juga yang seumuranku yang ketika kutanya, ia menjawab kalau ia tidak kuliah karena tidak mampu. Bagaimana rasanya, ya jika setiap hari kau melihat mahasiswa yang lalu lalang yang berasal dari tempat yang jauh, tetapi kau yang bertempat tinggal persis di sebelah kampus tidak mampu berkuliah?

Aku kemudian berpikiran bahwa tanah yang di atasnya aku belajar tidak selesai hanya dengan penyelesaian materi berupa ganti uang atas tanah yang dibeli dan dipersengketakan. Ada rakyat yang merasa tidak diberi keadilan. Banyak yang juga merasa demikian sekalipun tidak berhubungan langsung dengan kita. Mereka tidak meminta balas jasa apa-apa atas kesediaan menerima ketidakadilan itu. Namun, aku kemudian berpikir, setiap orang yang berkesempatan menjadi orang yang berpendidikan seharusnya menyadari apa yang harus ia lakukan kepada rakyat. Balas jasa kita tetap ada, tetapi nanti ketika kita telah menjadi profesional. Di tangan kita akan bergantung hidup banyak orang.

***

Menulis ilmiah gampang-gampang susah. Akan sangat susah jika kau tidak suka perpustakaan dan berpikir. Akan sangat susah jika kau punya kepribadian suka memanipulasi. Menulis ilmiah berkaitan dengan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan.

Dunia menulis ilmiah adalah dunia yang menurutku sangat menantang. Ketika kau punya ide yang menurutmu sangat jitu, kau akan mati-matian mencari sebanyak mungkin bacaan mengenai topik itu. Dalam pencarian itulah sering sesuatu yang tidak terduga terjadi. Banyak informasi yang sebelumnya tidak kau ketahui menjadi kau ketahui. Setelah itu, ada perasaan bangga: kau termasuk orang-orang yang tahu. Ada perasaan lain kau ingin agar dunia tahu apa yang kau tahu ketika yang kaudapatkan adalah kebenaran. Semakin bernilai informasi yang kau tahu, tetapi tidak banyak orang yang menyadarinya, kau bisa bergetar atau bergidik karena emosi yang tak bebas kau luapkan karena kau harus menahan diri.

Yang tadi itu hanya bagian kecil dari pengalaman menulis sesuatu yang ilmiah. Kau bisa stres berhari-hari karena suatu topik sederhana. Itu karena kau sudah membuka pintu masuk, tetapi tersesat dalam perjalanan menuju pintu keluar. Maka dari itu, kerangka pikir menjadi sangat penting dalam menulis ilmiah. Membuat kerangka juga gampang-gampang susah karena kerangka itu layaknya kau sudah dapat menebak isi karya sebelum kau menuliskannya. Pada detik ini kau perlu duduk tenang dan menghadapi selembar kertas dan memegang sebuah pensil.

Ketika memikirkan pendahuluan, kau perlu tahu pendahuluan itu apa. Mengenai latar belakang, kau perlu benar-benar tahu mengapa kau menulis. Kau bisa flashback pada detik mengapa ide itu bisa muncul dalam kepalamu. Itulah mengapa penting menulis dengan diawali adanya suatu masalah, bukan masalah yang dibuat-buat atau ide yang datang tanpa diundang. Masalah itu yang membuatmu memiliki tujuan dalam menulis. Ketika kau memiliki alasan dan tujuan dalam menulis, kau akan menjiwai apa yang kau tulis. Usahamu akan diwarnai semangat sehingga seberapa pun banyak buku atau sumber yang ada, kau akan mati-matian membacanya sampai kau mendapatkan apa yang kau mau. Pada akhirnya, penutup adalah ekspresi kepuasan dan ketidakpuasanmu. Penutup bukan hal yang susah karena kaulah yang paling memahami isi tulisanmu. Menutup tulisan sama seperti kau menutup pintu, maka tutuplah baik-baik agar tak sembarangan orang melongok-longokkan kepalanya ke dalam rumahmu.

Beginilah sampai hari ini aku memaknai tulisan ilmiah. Tulisan ilmiah adalah salah satu jenis tulisan yang belum kukuasai dengan baik. Tidak sama seperti manulis cerita atau puisi yang tidak tergantung sumber luar kepala, tulisan ilmiah sangat mengandalkan sumber-sumber di luar. Hambatannya ada dua, yaitu: ada tidaknya bahan dan ada tidaknya kemauan serta kesabaran untuk mencarinya. Yang selanjutnya penting adalah menekuninya, betah duduk di hadapan komputer, bermain dengan kalimat, dan bolak-balik berlembar-lembar halaman buku untuk menemukan referensi yang tepat.

Apakah tulisan ilmiah adalah jenis tulisan impianmu? Setiap mahasiswa akan menghadapi apakah itu skripsi, tesis atau disertasi. Belum lagi makalah-makalah untuk presentasi di kelas sampai even-even ilmiah. Sejak saat ini, marilah kita belajar menyukainya agar tidak berat dalam menghadapinya suatu saat nanti. Siapa pula yang tahu mungkin saja hidup kita nanti berhubungan dengan hal-hal ilmiah ini?

Bagiku sendiri, menulis sesuatu yang ilmiah adalah kebanggaan karena aku ingin seperti mereka. Mereka yang namanya ada dalam jurnal-jurnal ilmiah dan buku-buku bacaan mahasiswa. Mereka yang menulis artikel penelitian yang refrensinya berlembar-lembar cermin usaha mereka yang sungguh-sungguh. Mereka yang kemudian mampu memberikan solusi atas suatu permasalahan dan menyarankan banyak hal berdasarkan suatu argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Pada akhirnya, mereka dapat memberikan jalan keluar lewat karya-karya mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s