No Pain, No Gain

Original source: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/54/Topic-of-The-Week-No-Pain-No-Gain

“No pain, no gain” bukan sekadar motto hidup atau tulisan dalam sebuah stiker. Ungkapan ini pertama kali kudengar waktu SMA. Waktu masih bodoh-bodohnya, aku bertanya apa sih artinya? Artinya sebenarnya sama seperti makna peribahasa berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. “No pain, no gain” adalah fenomena kehidupan, bukan? Manusia perlu menempa dirinya, dibakar dalam pendiangan yang berisi sejuta masalah kehidupan, dibekukan dalam kesedihan… Tetapi kemudian, bagaikan kupu-kupu setelah bermetamorfosis atau ubi manis yang baru saja selesai dipanggang ^^ 
 
Hitam dan putihnya kehidupan menghiasi hampir seluruh cerita yang ada di dunia. Hitam dan putih mencerminkan kompleksnya proses manusia untuk hidup dan menjalaninya dengan cara masing-masing. Apakah itu kisah nyata atau rekaan imajinasi, proses hidup ini dituangkan menjadi hal yang menarik untuk dibaca, tidak hanya untuk hiburan, tetapi juga pelajaran. Sebagian orang tersentuh dengan kisah-kisah kehidupan seperti ini. Banyak orang yang tersadar dan menjalani kehidupan yang lebih baik setelah membaca, sekalipun sebelumnya mereka tidak mempedulikan berbagai nasihat dari orang lain. 
 
Ternyata, ada begitu banyak hal yang bisa dilakukan oleh sebuah cerita. Kita belajar berempati terhadap kesedihan tokoh dalam buku, merefleksikannya, mensyukuri hidup kita sendiri, dan melangkah pasti menuju hidup yang lebih berarti. Terkadang dalam membaca, perasaan kita terkoyak dan kita menangis. Ugh, agak memalukan… “Ya Tuhan, ini hanya cerita!” Tapi bagaimana lagi? Semua ini karena kita manusia yang punya perasaan ^^.
 
***
 
Buku terakhir yang kubaca adalah “Yakuza Moon”, memoar seorang wanita, anak Yakuza (mafia Jepang). Ketika membacanya, kita semua akan menyadari potensi untuk menjadi baik dalam diri manusia. Hanya saja, jalan hidup tak selamanya lurus… Anak baik yang menyayangi kedua orangtuanya dapat melenceng karena salah bergaul. 
 
Begitulah Shoko Tendo, sebagai anak Yakuza, hampir setiap malam ia melihat kelakuan buruk ayahnya. Ibunya yang tak berdaya hanya bersabar dan tetap menjadi istri serta ibu yang baik. Kakak perempuannya yang menjadi yanki (semacam remaja nakal) kemudian mengajaknya turut bergabung menjadi yanki. Dari situlah ia meninggalkan keluarga, putus sekolah, menghabiskan malam di klub malam, berkenalan dengan free sex dan narkoba. Ia sempat dipenjarakan, tetapi setelah dibebaskan ia kembali kepada kehidupannya yang dulu.
 
Semakin bertambah dewasa, masalah kehidupannya bertambah. Ayahnya bangkrut sebagai Yakuza dan mulailah keluarga Tendo menjadi miskin. Keluarganya terlilit utang yang begitu besarnya kepada seorang rekan ayahnya yang juga Yakuza. Untuk bertahan hidup, Shoko bekerja mati-matian, tetapi kemudian ia berakhir sebagai simpanan beberapa pria. Dalam menjalin hubungan, berkali-kali ia menjadi korban kekerasan.  
 
Shoko menyadari kegagalan hidupnya dan berusaha keluarga dari situasinya yang menyedihkan. Akhirnya ia menemukan pria yang menyayanginya dan bersedia menikahinya. Saat itulah ia menemukan titik balik kehidupannya. Ia berusaha berubah, terutama setelah ibunya meninggal dunia, ia menemukan kembali dirinya yang dulu. Tetapi tetap saja ada harga yang besar untuk sebuah perubahan.
 
….
 
Sebuah memoar adalah kisah nyata kehidupan yang dianggap bermakna sehingga berharga jika diceritakan kepada orang lain. Tidak mudah menuliskan sebuah memoar, terutama karena kita harus berduel dengan diri kita sendiri, untuk berusaha jujur terhadap pengalaman-pengalaman yang tidak enak, memalukan, dan membuat kita dicela orang. Itulah “pain”-nya, yang dinikmati pembaca sebagai bahan refleksi. Namun, bukan “pain”-lah yang membuat sebuah memoar bermutu sebagai media belajar. “Gain”-lah yang berperan sebagai penyadar pembaca. Apa yang membuat tokoh berubah, proses menghadapi tantangan perubahan, langkah-langkah payahnya menemukan harapannya, sehingga sekalipun hasil yang indah tidak didapat, tetap ada hikmah yang bisa kita petik.
 
Menulis tentang ini sebenarnya membuatku memikirkan kehidupanku sendiri. Tidak ada yang sia-sia di dunia ini, sekalipun itu hidup yang begitu gelapnya. Apa yang sebenarnya direncanakan Tuhan dengan membuat kehidupan sebagian orang bahan pelajaran bagi sebagian orang yang lain? Bukankah semua ini seperti berusaha mengajari kita berpikir dengan sudut pandang lain yang lebih luas? Ketika menghadapi bacaan-bacaan seperti ini, apakah sikap kita terhadap hidup berubah? Bagiku, ini adalah pelajaran untuk senantiasa bersiap menjalani kesukaran-kesukaran. Siap, tidak hanya siap fisik, tetapi seluruh aspek diri sehingga bila aku yang ditakdirkan menjadi orang yang hidup (super) susah, aku tetap bertahan dan bangga: aku menjadi tempat orang lain belajar untuk hidup. 
 
Begitulah… Menjadi orang susah yang keren… Tidak semua bisa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s