Pak Sasro dan Uang Sumbangan

Original source: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/6/Short-Story-of-The-Week-Pak-Sasro-dan-Uang-Sumbangan

Note: Cerpen ini dibuat dalam waktu tiga jam pada tanggal 16 Oktober 2009. Waktu itu aku sedang stres memikirkan sebuah event yang akan diadakan oleh organisasi yang kuikuti pada minggu berikutnya. Ada banyak stres, salah satunya memang mengenai sponsorship… begitulah…butuh dana.

***

Pak Sasro tidak tahu dan ia tidak akan pernah tahu karena tidak ada yang mengharuskannya untuk tahu. Ia tidak tahu bahwa di antara mereka yang berkunjung ke “istana”nya ada yang berasal dari panti asuhan yang jauh. Ia tidak tahu bahwa di antara mereka ada yang terus mengulang ayat terakhir surat Al Insyirah “dan hanya kepada Tuhan-mulah hendaknya kamu berharap” sepanjang perjalanan sampai ke depan pagar rumahnya. Ia tidak tahu pula bahwa di antara mereka ada yang rela mengeluarkan sedikit uang bagi pengemis yang mereka temui di jalan agar Allah berkenan membalas dengan lebih baik lagi pengorbanan mereka di rumahnya nanti. Ia terlebih lagi tidak tahu bahwa setiap senyum yang terlukis di wajah mereka adalah topeng untuk menyembunyikan rasa cemas, malu sekaligus takut ketika berhadapan dengannya. Pak Sasro hanya melihat mereka sebentar dengan pandangan tak peduli dari balik koran yang ia baca sepanjang hari dengan susah payah lantaran mata tuanya. Atau, jika Pak Sasro tidak tampak sedang membaca koran di depan rumahnya, mereka yang datang dengan maksud meminta sumbangan akan digentarkan oleh tulisan yang ditulis besar-besar merah di atas putih: “Ngamen dan Infak hari Jumat”, “Tidak Menerima Perminataan Sumbangan dalam Bentuk Apapun”, dan “Tidak Menerima Proposal Apapun”. Ia hanya tahu bahwa dia menolak semua itu.

Dalam kamus hidupnya tidak ada istilah meminta dan meminta-minta. Kalian semua akan segera paham mengenai harga dirinya sekaligus bagaimana ia begitu mencela perbuatan “tangan di bawah”. Baginya, meminta dan meminta-minta adalah suatu katastropi: memalukan, tak tahu diri, menyusahkan, merugikan, merepotkan, rendahan! Itulah sebab ia pada awal debutnya sebagai penolak sumbangan yang ia lakukan adalah menjadi pemberi uang receh (padahal sebelumnya uang ribuan, lima ribuan, atau sepuluh ribuan). Selanjutnya dia memasang tulisan merah di atas putih yang sudah kita tahu sebelumnya. Ia melatih matanya bertahun-tahun untuk tampak tak acuh atau memperingatkan siapun yang datang dengan proposal atau kotak sumbangan. Ia melatih anggota keluarganya, penjaga rumahnya, penjaga toko miliknya, dan siapa saja yang sepandangan dengan dia bagaimana menolak orang-orang yang datang. Selanjutnya, bagi mereka yang nekad meletakkan proposal dan kotak sumbangannya di rumahnya, ia menjaga etiket dengan tetap membacanya (sekilas), tersenyum simpul, menarik kertas dari mana saja ia bisa mendapatkannya dan menuliskan “Tidak (atau pada kesempatan yang lain, belum) berminat memberikan sumbangan” untuk kemudian diselipkan dalam proposal dan kotak sumbangan terkait.

Kalian pikir Pak Sasro akan mendapatkan karma atas perilakunya. Tetapi kenyataannya tidak demikian. Baru tahun lalu Pak Sasro berhasil membuka dua tempat usaha baru. Baru beberapa bulan yang lalu ia pulang dari naik haji. Baru beberapa minggu yang lalu ia dinobatkan menjadi “Usahawan Sukses Tahun Ini” oleh pemerintah daerah. Baru beberapa hari yang lalu ia menandatangani kontrak usaha dengan suatu perusahaan dalam hal pemasaran produk. Beberapa jam lalu ia memutuskan merenovasi rumah dan beberapa menit yang lalu ia memutuskan merayakan ulang tahunnya yang ke-65 di Pulau Dewata bersama istri dan putri satu-satunya.

Pak Sasro merasa dirinya beruntung, betapa kerja kerasnya sejak usianya yang sangat muda telah menghasilkan sesuatu. Berkali-kali ia mengenang perjuangannya di masa lalu; hidup merantau, mencoba peruntungan di bawah majikan, mencoba peruntungannya sendiri dengan kredit bank, hidup dengan gali lubang tutup lubang sampai pada suatu hari hidupnya berubah 180 derajat lewat toko emasnya. Berkali-kali ia berpikir betapa beruntungnya ia hidup karena satu prinsip yang sangat diyakininya: “jangan memberi orang yang tak mampu membalas”. Inilah awal dari strategi receh sampai training singkat menolak sumbangan yang kita tahu bersama di awal tadi.

Hoho… kalian mungkin berpikir mengapa ia bisa berprinsip semacam itu. Pikiran sehat kita (yang kita pikir sehat) akan berpikir sebaliknya bahwa “biarlah Tuhan yang bermain wilayah ajaib ini”. Tetapi bagi Pak Sasro, pikiran semacam itu adalah omong kosong yang sakit dan tidak realistis.

Terlalu dalam ia merasakan bahwa Tuhan telah meninggalkan dirinya. Itulah yang aku tahu dari apa yang kudengar mengenai pengalaman hidupnya yang pahit dan, maaf, apa yang ia antikan hari ini adalah dirinya di masa lalu. Ia lahir dari keluarga miskin yang pada masa kecilnya ia menjadi peminta-minta di alun-alun kota bersama saudara-saudaranya. Ketika ia meminta bantuan kepada kerabatnya, ia mengalami penolakan dan dipermalukan. Apakah hal yang traumatis ini dapat kalian pahami? Tapi mungkin sebaiknya kalian berpikir dua kali untuk menyimpulkannya. No excuse in this life!

***

Cerita ini dimulai pada suatu hari Pak Sasro bertanya pada anak semata wayangnya, Arina.

“Proposal yang kemarin di meja tidak ada.” Wujudnya pernyataan, tetapi Arina tahu ayahnya ingin jawaban mengapa.

Arina diam, ragu-ragu menjawab dan dia memutuskan berbohong, “Sudah diambil yang bawa ke sini.”

“Lho, kapan? Ayah tidak ketemu tamu kemarin.”

“Ayah…” pinta Arina agar percakapan itu tak perlu diteruskan. Ia ingin fokus pada PR Kimianya. Ia merasa tidak nyaman bersama ayahnya kali ini.

“Mereka teman-temanmu, kan?”

“Iya, iya…” jawab Arina seadanya seolah-olah dia tahu dia tak akan menang berargumentasi dengan ayahnya itu. “Kami hanya sedang membutuhkan uang ayah. Karena tahu tidak ayah terima, ya sudah, aku kembalikan ke mereka.”

“Mau ada gawe kok minta-minta. Mbok kerja sana…” kata Pak Sasro sambil bersungut-sungut.

“Sudah kerja… cuma uangnya belum cukup buat acaranya. Kalo ayah mau, sumbanglah sedikit…”

“Selanjutnya mereka akan datang lagi ke rumah, meminta lagi,” potong Pak Sasro tak peduli. Ia tetap menekuni koran yang tak selesai-selesai ia baca sejak pagi. Ia tak lihat mata anaknya sudah basah.

“Jangan berpikiran begitu soal teman-temanku, Yah…” Arina segera membereskan buku-buku dan alat tulisnya, berniat meninggalkan ruang keluarga. Dalam perjalanannya ke kamarnya sendiri ia masih sempat mendengar ayahnya berkomentar, “Kebiasaan nggak baik jangan dibudayakan. Meminta-minta…”

“Sumbangan, Yah… Please deh…” rutuk Arina. Dadanya terasa terbakar karena marah. “Arina malu sama teman-teman.”

“Malu karena ayah?” tanya Pak Sasro tajam. Ia tak membiarkan Arina melarikan diri ke kamarnya, ia menahan Arina tetap terpaku di tempatnya berdiri dengan bertanya lagi, “Apa yang bikin malu?”

“Ayah pelit, begitu mereka bilang,” jawab Arina buru-buru, bersiap-siap menerima reaksi ayahnya.

“Kenapa terpengaruh sama omongan orang?”

“Arina punya teman, Yah,” jawab Arina putus asa. “Ck.”

“Ayah punya pendapat sendiri soal orang yang suka minta-minta itu.”

“Itu bukan alasan, Yah. Ayah memang pelit. Uang nggak dibawa mati, Yah.” Arina berbalik memunggungi ayahnya yang merah padam mukanya. Ia masuk ke kamarnya, mengunci diri, mencoba mencegah suara ayahnya yang masih tetap dapat menerobos gendang telinganya karena selanjutnya samar-samar ia mendengar, “…tidak tahu diuntung…” yang Arina jawab dalam hati sambil berleleran air mata, “Aku memang tidak merasa beruntung.”

***

Keesokan harinya Arina muncul di ruang keluarga dengan wajah tanpa ekspresi, seolah ada tekad tersembunyi. Tanpa sarapan, untuk menghindari ayahnya, ia pergi ke sekolah juga tanpa pamit. Supir mengantarnya ke sekolah. Sekembalinya supir di rumah, Pak Sasro bertanya tentang Arina dan supirnya menjawab, “Mbak Arina biasa-biasa saja, Pak. Tadi dia bilang hari ini pulang terlambat.”

Pak Sasro buru-buru menelepon anaknya yang ia bekali handphone. Setelah ia sadar, ternyata bunyi dering berasal dari kamar anaknya sendiri. Pak Sasro buru-buru ke kamar dan mendapati handphone plus dompet penuh uang milik Arina teronggok di kolong tempat tidur. Pak Sasro hanya geleng-geleng karena tidak paham kelakuan anaknya itu.

Arina belum pulang pada malam harinya. Istri Pak Sasro cemas bukan main. Dia tahu kemarin malam Arina dan suaminya bertengkar, tetapi ia tidak membayangkan hasilnya begini. Pak Sasro diam saja melihat istrinya yang berjalan bolak-balik di dekat jendela, berharap setiap mobil atau motor yang lewat di depan rumah adalah kendaraan yang membawa Arina pulang. Pak Sasro tetap sibuk menekuni buklet perjalanan wisata ke Bali untuk minggu depan.

Tiba-tiba telepon rumah berdering, sekonyong-konyong aura rumah terasa gelap karena firasat buruk. Itulah yang dirasakan kedua orang tua yang tidak pernah melepaskan pandangan dari anak kesayangannya, sekalipun cara mereka mengekspresikannya berbeda. Benarlah, yang terjadi, yang didengar oleh sang istri yang kemudian kehilangan kesadaran: Arina mengalami kecelakaan lalu lintas.

Wajah Pak Sasro langsung pucat pasi. Dengan kasar ia menginterogasi pembawa kabar buruk yang merupakan teman Arina sendiri. Kejadiannya, Arina sepanjang sore ikut teman-temannya berjualan di alun-alun kota untuk memperoleh dana bagi acara yang mereka rencanakan minggu depan. Rencana perjalanan ke Bali langsung tersingkir dari kepala Pak Sasro. Ia buru-buru memanggil supir dan pergi ke rumah sakit di mana Arina di rawat di ICU.

Semoga kalian dapat memahami perasaan Pak Sasro yang kacau-balau. Setelah istrinya dapat berpikir jernih setelah pingsan beberapa lama, sang istri terus-terusan menyalahkan pertengkaran kemarin malam yang berhulu pada ketidaksediaan Pak Sasro menyumbang bagi acara Arina dan teman-temannya. Pak Sasro tetap bersikukuh bahwa kecelakaan Arina dan peristiwa kemarin malam hubungannya tidak seperti itu. Kecelakaan lalu lintas adalah hal biasa yang dialami pengguna jalan. Tetapi kehilangan anak satu-satunya? Pak Sasro tidak bisa tenang. Ada rasa bersalah yang muncul, terlihat dari betapa cemasnya ia menunggui Arina seminggu lamanya di ruang ICU bersama istri. Ia tak peduli lagi rencana perjalanan ke Bali, renovasi rumah, pernghargaan yang baru saja ia dapatkan… apa saja! Urusan di rumah ia serahkan pada pengurus rumah tangganya.

Pada hari ke-7 Arina koma berita menggemparkan lainnya sampai ke telinga Pak Sasro, tepat pada hari ulang tahunnya yang ke-65: Toko emasnya yang terletak di tengah kota dirampok. Kerugiannya mencapai 5 miliar rupiah. Pak Sasro langsung menjambaki rambutnya dan mengerang sekeras-kerasnya. Sementara istrinya, tangisannya semakin keras. Para pengunjung ICU lainnya sampai mengira bahwa keluarga mereka yang dirawat di ICU meninggal hari itu.

Pada hari ke-9 ketika Pak Sasro akhirnya meninggalkan rumah sakit untuk mengurus masalah perampokan yang pelakunya belum tertangkap di kantor polisi, muncul berita menggemparkan lainnya: nyawa Arina tidak berhasil diselamatkan. Pak Sastro terpaku sesaat mendengar berita itu dan tak sadarkan diri karena serangan jantung.

Baru beberapa hari sejak bendera kuning yang dipasang di pagar rumah Pak Sasro dilepas, pertengkaran langsung tersulut antara Pak Sasro dan istrinya. Histeris istrinya tak kuasa menahan beban penderitaan yang bertubi-tubi. Sepanjang hari ia berteriak-teriak karena marah, menyalahkan suaminya yang hatinya begitu keras. Merasa tak tahan berada di rumah yang suram itu, si istri akhirnya memutuskan hidup sementara di rumah orangtuanya. Itu terjadi pada bulan ke-3.

Bersama pengurus rumah tangga, penjaga dan supirnya yang setiap, Pak Sasro tinggal dalam rumah yang kini sangat sepi. Cukup aneh mengetahui bahwa Pak Sasro dapat hidup seperti biasanya sebelum semua cobaan terjadi. Pak Sasro memandang semua yang terjadi adalah cobaan.

Ia tidak tahu bahwa orang-orang di sekitar dia dan para tetangga berpikiran berbeda bahwa semua itu adalah azab dari Tuhan. Semua orang yang tahu peristiwa itu mengiyakan, bahkan rekan bisnisnya. Bisa dikatakan, 6 bulan selanjutnya, semua usaha milik Pak Sasro mengalami kebangkrutan. Sebab utamanya yang menjadi buah bibir masyarakat adalah kebakaran pada toko emas satu-satunya yang masih tersisa di masa di mana perekonomian negara sedang krisis. Ia tidak tahu bahwa banyak orang yang memandang hidupnya yang malang sebagai pelajaran berharga kehidupan mereka sendiri.

***

Orang-orang yang lewat di depan rumah Pak Sasro tidak tahu dan tidak akan pernah tahu karena tidak ada yang mengharuskan mereka untuk tahu. Hanya mereka yang inign tahu dan berusaha mencari tahulah yang akan mendapatkan jawabannya. Mereka hanya tahu bahwa di rumah yang kondisinya sudah jauh berbeda (lebih sederhana, begitu bahasa halusnya), di depan toko kelontongnya yang berhasil ia buka dengan kredit usaha dari bank, Pak Sasro membaca koran setiap paginya. Tak ada Pak Sasro yang sehari-harinya berbusana batik. Yang ada hanyalah Pak Sasro yang mengenakan kaos oblong dan celana pendek selutut.

Pak Sasro sadar bahwa dirinya dibicarakan, ditunjuk-tunjuk, bahkan dicela orang. Ia tetap berpegang teguh pada prinsip: tak perlu mendengarkan apa kata orang, seperti yang ia katakan pada anaknya, Arina, 10 tahun yang lalu.

Setelah membaca koran, Pak Sasro menyapu beranda berlantai semennya sendiri (tentu saja penjaga dan sebagainya tidak ada lagi dalam kehidupan Pak Sasro). Ia membuka tokonya pada pukul 7 pagi, menyirami tanaman yang jumlahnya tak seberapa, dan berolahraga ringan untuk menjaga kesehatan di hari tua. Ia menyapa istrinya yang berdaster, yang sedang menyiapkan sarapan sederhana. Ia mendapati ia akan sarapan ikan kaleng, menu yang langka di tahun-tahun belakangan ini. Ia bertanya, “Kapan beli ikan kaleng?”

“Nggak beli,” jawab istrinya yang sedang mengambilkan air untuk mencuci tangan serta serbet. “Dapat dari pertemuan ibu-ibu di masjid.”

“Tidak minta, kan?” selidik Pak Sasro.

“Dikasih, Pak…” tegas istrinya. “Kenapa, sih, minta nggak minta selalu dipermasalahkan? Sekarang ini kita butuh banyak biaya untuk hidup, saya berencana pinjam uang lagi.”

Pak Sasro hanya termanu-mangu mendengar semua itu. Ia tak berkata apa-apa lagi. Tak lama kemudia ia bertanya, “Susah pinjam uangnya?”

“Nggak susah-susah amat, yang penting kita bisa kasih jaminan kita bisa mengembalikan pinjaman uang dengan bunganya.” Istrinya tiba-tiba mendongak menatap suaminya, “Tapi saya nggak dapat-dapat juga uangnya, Pak.” Air mata mengalir, melintasi pipinya yang keriput.

Entah apa yang dipikirkan Pak Sasro. Setelah sarapan, ia mencari-cari kertas. Ia menuliskan dengan tinta hitam, dengan tangannya yang kurus: “Berminat menerima permohonan sumbangan”, dengan huruf yang besar-besar.

***

Dengan penuh kagum aku memandangi hasil kerja Pak Sasro di hari tuanya. Sekarang ia menekuni pekerjaannya kembali, menganyam bambu untuk dibuat kipas. Ia duduk bersama para orang tua lainnya, bersila di atas tikar pandan. Kipas itu kemudian akan dijual untuk membantu pembiayaan panti jompo.

“Sudah, Mbak?” tanya seorang ibu pengurus panti jompo tempat aku melaksanakan penelitian kualitatifku.

“Sebentar lagi, saya ingin mengambil foto.” Aku mengeluarkan kamera digital untuk mengabadikan para lansia yang penuh semangat itu mengerjakan kipas dengan tangan-tangan tua mereka. Pertama aku mengambil foto hasil karya mereka yang dipajang di sebuah lemari baru kemudian mengambil foto mereka yang tengah bekerja. “Bu, bisa berdiri di sudut sana?”

“Bisa, bisa.” Ibu itu segera menuju posisi yang kumaksud. Aku mengatur sebentar kameraku dan memberitahukan kamera sudah siap. Suasana berhasil kuabadikan. Beberapa saat setelah itu aku berpamitan. Tak sempat aku berpamitan secara khusus dengan Pak Sastro karena aku tak ingin mengganggu dirinya yang asyik bekerja.

Pada akhir cerita, aku tidak tahu dan tidak akan pernah tahu apa yang Pak Sastro perbuat pada secarik kertas yang sebelumnya kusebutkan. Aku tak sempat menemui Pak Sasro. Di pertemuan selanjutnya karena tak disangka ia berpulang malam itu juga.

Pikiranku kacau: aku kehilangan subjek penting bagi penelitianku? Kalian mungkin berpikiran serupa, terutama yang pernah merasakan beratnya mengorek-ngorek informasi. Lebih dari itu, itu bukan alasan bagiku. Lebih dari itu, aku seolah kehilangan bagian akhir dari sebuah cerita kehidupan yang luar biasa. Seperti novel yang lembaran terakhirnya hilang dan bagi kasusku, bagian yang hilang itu adalah tentang secarik kertas pernyataan terakhir yang menurutku mengubah segalanya dalam kehidupan Pak Sasro.

Bagaimana kalian akan menebak akhir kisah ini?

Aku lebih suka akhir yang menyedihkan, begitu aku mengistilahkannya: tentu saja secarik kertas itu bukan untuk ditempel dan isinya bukan untuk diumumkan. Orang tak berpunya biasanya selalu dipandang sebagai orang yang tak bisa memberi apa-apa, jadi buat apa kertas itu dipajang di depan umum? Memalukan diri sendiri. Aku tak tahu apakah secarik kertas penyataan terakhir itu adalah bukti perubahan 180 derajat sikap hidup Pak Sasro. Aku tak tahu, tidak akan pernah tahu, sekalipun aku ingin tahu.

–End–

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s