Perburuan

Original source: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/20/Story-of-The-Week-Berburu-Wajah

Inilah cerpen pertamaku di usia 14 tahun. Kubuat sebagai bentuk sikapku terhadap Pemilu tahun 2004 yang lalu. Tidak kusadari, sudah hampir enam tahun (sekarang delapan tahun) aku menuliskannya. Kukenang-kenang, aku menuliskannya diam-diam di dalam kamar, di kertas buku. Fantasiku melambung, suatu saat aku bisa menulis di Kompas. Tokoh dalam cerpen ini berusia 17 tahun, aku yang baru 14 tahun berusaha menjadi pemuda 17 tahun. Saat ini, aku hampir 20 tahun (sekarang 23 tahun) dan rasanya 17 tahun sudah jauh sekali. Judul aslinya “Politik Desa” dan judulnya sekarang adalah hasil berpikir kilatku karena judul yang lama tampak terlalu… aneh. Aku lupa apa yang membuatku sebagai anak 14 tahun geregetan pada pemilu tahun 2004. Tapi kurasa, jawabannya akan tersirat dalam cerpen ini.

***

Saya ini pengangguran. Sekarang umur saya baru tujuh belas tahun. Inginnya, sih, meneruskan kuliah. Seandainya jadi sarjana, emak pasti bangga dan saya akan lebih berguna bagi desa saya. Tapi, sayang sekali karena mimpi itu hanya sekadar mimpi. Kuliah itu biayanya banyak. Buku-bukunya, uang transport-nya, biaya makan, dan biaya membuat tugas-tugas sebagai seorang mahasiswa. Emak, sih, mana mampu. Bapak sudah tidak ada. Kebanyakan anak-anak di desa memang begitu, punya banyak cita-cita, tetapi tidak bisa diwujudkan. Padahal banyak juga yang pintar.

Kita-kita ini memang tidak seperti anak kepala desa, Rohimin. Usianya lima tahun lebih tua. Senangnya, dia sudah jadi sarjana. Katanya jadi sarjana pertanian. Itu sudah jelas, pak kepala desa kan, orang terkaya di desa, jadi Rohimin pasti dipaksa sekolah tinggi-tinggi. Namanya pun ikut terangkat; anaknya jadi satu-satunya sarjana di desa. Bangga sekali si kades itu. Acara syukurannya tiga hari tiga malam. Saya ikut senang saja.

Pedoman hidup saya, biar sedikit ilmunya yang penting berguna bagi orang lain. Buat apa jadi sarjana, kalau sehari-hari cuma duduk-duduk, santai-santai, dan makan. Itulah keseharian Rohimin setelah tiga bulan di desa. Saya jadi tidak malu lagi kalau bertemu dia, saya merasa berbesar hati karena saya ternyata lebih berguna bagi masyarakat desa. Saya biasa dimintai tolong oleh orang kampung.

Sejak keci, saya memang terbiasa begitu. Umur empat sudah dibawa emak ke sawah, bantu-bantu menghalau burung liar yang suka memakan padi. Umur tujuh saya sudah bisa memandikan kerbau mencari rumput atau kerja kecil-kecilan memandikan kerbau orang lain dan menggembalakannya. Umur sepuluh sudah bisa menanam padi. Umur lima belas sudah bisa mencari uang sendiri karena saya mencoba-coba untuk menjadi buruh di sawah orang. Sekarang saya sudah mendapat banyak ilmu dari sekolah, sudah bisa mempraktekkan bertanam cara hidroponik dan tahu fungsi tanaman polong-polongan.

Biar kerjanya informal begini dan tidak tetap, kalau dipikir saya termasuk bukan pengangguran. Yang pengangguran itu Rohimin. Sudah lama jadi sarjana tidak dapat kerja juga sampai sekarang. Dipaksa ibunya juga tidak mau. Mungkin masih mau dekat orang tua atau malas kerja saja.

Tapi sama kawan tidak baik berburuk sangka. Kita sering kumpul-kumpul bersama-sama anak-anak yang lain. Pikiran jelek disimpan saja, jangan disebut-sebut, nanti marah dia saya yang dosa.

Lama Rohimin di desa kepikiran juga bagaimana di kota itu. Pada suatu hari ada kumpul bersama teman-teman, saya tanya kepada dia bagaimana keadaan di kota.

“Waah, kota itu besar! Gedungnya tinggi-tinggi, rame, penuh hiburan, dan perempuannya cantik-cantik…!” katanya semangat. “Mau kesana, Kamu?”

Masya Allah! Kota itu bisa saya gambarkan penuh maksiat dari ceritanya saja. Hihh, ngeri! Pak Kyai bilang maksiat itu dosa. Keinginan saya ke kota akhirnya lenyap. Akhirnya saya tahu hikmah tinggal di desa. Saya bersyukur.

“Lalu gimana sekolahnya, Mas?” tanya saya lagi.

“Sekolah ya kayak gitu! Tinggal masuk sama keluar, kok sulit.”jawabnya.

“Lha, belajarnya?”

“Belajar? Nggak kepikiran tuh. Yang penting lulus, dapat gelar, bapak saya senang.”jawabnya.

“Kalau kita-kita ini baiknya gimana, Mas?” tanya saya lagi dibarengi anggukan kepala anak-anak yang lain.

“Ha, kalian? Kok nanya saya, sih! Kan tinggal kerjakan sawah yang ada atau mau nggak ke kota sama saya? Saya rencananya mau merantau ke kota bulan depan. Nanti kita berangkat bareng, mau nggak?”

“Emangnya di kota ada apa, sih?”tanya anak yang lain.

“Kasian banget, sih! Di kota ya nyari kerja. Gajinya besar, lapangan kerja banyak, fasilitasnya banyak perempuannya juga cantik-cantik,”katanya membujuk.

Pak Kyai yang ada dekat dengan kita langsung kaget dan langsung saja menyeret anaknya yang ikut kumpul masuk rumah sambil membaca istighfar keras-keras. Pintu rumahnya dibanting keras. Tak tahu apa yang terjadi dengan anaknya itu.

Setelah sebulan, yang ikut dengan Rohimin ke kota banyak juga. Tahu di kota keadaannya seperti itu, kok masih mau. Tapi kata mereka, mereka ingin hidup lebih baik dan dapat uang banyak. Siapa tahu berhasil. Siapa tahu tidak, kan? Coba kalau jadi gelandangan. Di desa juga butuh orang. Daripada uangnya untuk ke kota, lebih baik buat membiayai keluarga di desa dan mengerjakan sawah orang tua. Kasihan orang tua mereka (yang ditinggal pergi sendiri), kecuali Rohimin, semua pada nangis. Saya lihat ada yang menjual perhiasan dan lain-lain untuk biaya ke kota. Tapi, pak kepala desa tenang-tenang saja tersenyum. Pikirnya, anaknya berjiwa modern.

Setelah Rohimin dan kawan-kawan pergi, desa kembali tenang dan biasa-biasa saja. Yang pergi ke sawah tetap yang tua-tua dan beberapa pemuda termasuk saya.

Hari ini saya disuruh emak menjaga sawah. Hampir musim panen, banyak burung liar yang nakal. Sambil menjaga, saya menikmati angin di siang hari yang panas itu, mendengar kicauan burung dan gemericik suara air sungai. Entah apa yang terjadi dengan Rohimin dan kawan-kawannya sekarang di kota besar. Mungkin sedang kepayahan bekerja jadi buruh bangunan? Mungkin kepanasan, merasakan polusi, kebisingan, sedang mengemis atau sekarang sudah jadi orang kaya. Jadi apa mereka? Pikir saya sambil mengkhayalkan keadaan mereka. Tapi, saya sekali lagi bersyukur menjadi anak desa dan mensyukuri pekerjaan saya ini.

Tak terasa sudah dua tahun berlalu sejak kepergian Rohimin dan kawan-kawannya. Kerbau emak sudah tambah satu dan saya juga sudah dapat membeli motor. Saya jadi tukang ojek sekarang, untung-untung hasil lumayan.

Akhirnya satu persatu perantau pulang. Benar khayalan saya dulu, mereka jadi gelandangan semua, kecuali Rohimin. Ternyata ia mampu bertahan di kota, semua orang kaget melihat keadaannya sekarang yang tampak mentereng ketimbang yang lain. Setelah diusut, ternyata ia jadi tukang jambret dan pencopet di kota. Itu bukan pekerjaan yang dihormati di desa dan haram dilakkan. Pak kepala desa sampai malu dan istrinya langsung pingsan. Sekali lagi saya bersyukur kepada Tuhan karena menjadi anak desa yang tergolong berhasil.

Beberapa bulan setelah itu, tiba saatnya pergantian kepala desa. Bapak Rohimin sebagai kepala desa yang sekarang mulai cemas setelah menyadari anaknya berkelakuan buruk dan menyebabkan banyak penduduk yang tidak simpati lagi padanya. Rohimin dimarahi habis-habisan. Tahulah sifat anak muda yang biasa hidup bebas tanpa peraturan. Rohimin sekarang marah pada bapaknya. Katanya, ia juga ingin menyaingi bapaknya jadi kepala desa. Entah jadi atau tidak.

Beberapa hari setelah itu, muncul calon-calon kepala desa dan nama kelompoknnya. Pak kepala desa yang bapaknya Rohimin membuat Kelompok Padi dan Kapas yang punya tujuan mensejahterakan masyarakat desa dengan memasyarakatkan hidup modern, seperti anaknya. Mantan kepala desa yang lama, membuat Kelompok Durian yang bertujuan memeratakan pembangunan desa seperti duri pada badan durian dan menyaingi Kelompok Padi dan Kapas. Pak Kyai juaga mencalonkan diri dan membuat Kelompok Peci yang bertujuan menegakkan kebenaran dan keadilan sesuai syariat Islam. Pak hansip juga mencalonkan diri dan membuat Kelompok Pentungan yang bertujuan memerangi tindak kriminalitas (terutama yang dilakukan Rohimin). Yang tidak disangka-sangka, Rohimin juga mencalonkan diri dengan membuat Kelompok Kaos Oblong lambang anak muda dan memiliki tujuan memperjuangkan kebebasan anak muda.

Semua calon saling memusuhi. Pak Kyai dan hansip lawan Rohimin karena Rohimin itu berandalan, Rohimin lawan bapaknya, pak kepala desa lawan mantan kepala desa. Semuanya tidak mau akur, saling mengagungkan kelompoknya sendiri dengan berbagai alasan.

Pada akhirnya terjadi hal mengejutkan setelah pemilihan karena semua suara tidak ada yang mayoritas. Banyak yang abstain rupanya dikarenakan tak ada calon yang cocok. Akhirnya timbul usulan untuk saling bergabung saja, tetapi tidak ada yang mau.

Tapi capek juga akhirnya bila bertengkar juga. Penggabungan diadakan. Rohimin baikan dengan bapaknya dan sisanya yang tiga kelompok bergabung jadi satu dan mencalonkan Pak Kyai.

Enaknya apa, sih jadi kepala desa? Tanggung jawab kepala desa sangatlah besar. Kalau gagal mengelola desa itu, berarti menyalahi amanat dan bisa masuk neraka. Pak Kyai yang sadar lebih dahulu langsung membatalkan diri jadi calon kepala desa. Setelah diketahui penyebabnya, yang lain juga ikut-ikutan batal. Rohimin langsung sadar dan tingkah lakunya berubah 180 derajat. Pada takut neraka semua rupanya.

Masalahnya sekarang bukan rebutan jabatan, tetapi tidak adanya orang yang mau jabatan tersebut. Terjadi kekosongan calon kepala desa sekarang. Kebutuhan pemimpin yang semakin mendesak membuat banyak orang saling tunjuk.

Ada yang mengetuk pintu rumah saya malam itu. “Siapa, ya?”tanya saya.

“Saya mau bicara,” kata orang di luar. Saya membukakan pintu dan yang diluar ternyata banyak yang datang, pak kepala desa, Rohimin, mantan kepala desa, Pak Kyai dan Pak hansip. Semuanya berwajah serius.

“Ada apa, ya kok pada datang,” tanya saya heran.

“Ayo, kamu yang jadi kepala desa!” seru mereka serempak.

Saya kaget setengah mati. “Kepala desa ?? Kenapa saya ?”

Akhirnya dijelaskan pertanyaan saya tadi bahwa seorang kepala desa harus menguasai berbagai bidang yang ada di desa. Saya seorang yang giat bekerja memajukan desa sebagai pemuda yang masih berusaha di bidang pertanian, kepandaian saya di bidang pertanian dapat ditularkan kepada masyarakat, kelebihan saya menjadi aktivis musala yang manguasai agama, pandai bergaul dengan siapa saja, disukai masyarakat dan jiwa muda saya yang diharapkan dapat berpikiran modern untuk kemajuan desa.

Semula saya tidak mengerti dan tidak berkenan menerima tawaran tersebut, tetapi emak atas dorongan emak saya bersedia. Dengan mengucap basmalah saya menjadi kepala desa termuda yang pernah ada di desa saya. Alhamdulillah nasib saya sekarang. Tidak sarjana dan orang kaya atau orang terkenal, rahmat Tuhan memang bagi siapa saja.

Semarang, 1 Juli 2004

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s