Sahabat Jangan Meminta Maaf

Original source: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/10/Story-of-The-Week-Sahabat-Jangan-Meminta-Maaf

Cerita yang satu ini kubuat setelah beberapa waktu lamanya aku kehabisan ide. Satu tahun? Aku lupa. Idenya muncul ketika aku kemalaman di jalan dan hujan rintik-tintik… Beberapa teman berkata kalau cerita ini membingungkan? Benarkah? 

 

***

            Sahabat seharusnya tidak meminta maaf karena seharusnya ia tidak berbuat salah. Tak ada yang mengucapkan kalimat itu kepadaku kecuali hati kecilku yang memberontak karena penyesalan yang mendalam. Aku membayangkan wajahnya, aku termenung, tidak peduli lagi hujan yang mulai membuatku basah kuyup. Aku berjalan dalam diam, berharap segera pulang dan menyembunyikan diri agar dunia tidak menyadari bahwa ada orang yang baru saja membuat kesalahan.

            Ketika kau berkata pada seseorang bahwa kau sudah mengikatkan diri padanya sebagai sahabat, apa yang kau pikirkan? Kau mungkin berpikir ia adalah orang terbaik yang kau miliki saat ini. Kau merasa kebahagiaan tidak akan mati untukmu dan dia. Kau menjaga dia dalam kotak kaca yang indah. Kau tersenyum kepadanya dan dia juga. Kau merasa kau dan dia adalah orang yang paling saling mengerti sedunia. Kau merasa tak mungkin melupakannya dan dia tak akan melupakanmu pula. Kau merasa semua akan baik-baik saja.

            Hanya saja kau lupa sesuatu bahwa kau dan dia bukanlah malaikat. Ada iblis dalam hati kalian yang membuat kalian saling memendam perasaan-perasaan yang tabu dimiliki oleh sahabat. Kalian menutupnya rapat-rapat untuk menjaga agar esok masih dapat saling tersenyum. Tidakkah disadari bahwa yang tertutup pasti akan terbuka ketika Tuhan menghendakinya demikian?

            Aku menyadari semua itu hari ini, kebingungan antara harus diam atau bersuara. Tapi sepertinya Tuhan Menghendaki yang kedua, ketika aku ”memberanikan” diri berkata aku tidak menyukai perbuatannya. Dia membelalak menatapku, tidak percaya. Sejenak mulutnya membuka seperti ingin berkata sesuatu, tetapi ia menutupnya lagi. Wajahnya yang semula mengeras, kembali seperti biasanya, tetapi dengan menyisakan warna darah yang mulai pudar sedikit demi sedikit. Ia berbalik, aku pun berbalik. Tapi apakah yang kami rasakan sama?

            Apakah ini hanya cerita bohong? Benarkah sahabat akan saling mengetahui dan memahami isi hati tanpa harus berkata-kata? Ketika aku mencoba melakukan hal itu sesungguhnya perasaanku mulai memburuk. Aku tidak mampu mengetahui dan memahami tentang dia. Prasangkalah yang muncul, yang membuatku tak berani menghadapi hari esok dengan dia ada di dunia yang sama. Entah siapa yang harus mengalah dan pergi.

***

            Aku tidak tahu apa yang seharusnya kulakukan setelah kejadian hari ini. Aku menatap bulan yang mengintipku dari jendela, mengikuti detik demi detik perjalanannya, dari terbitnya sampai ia tak terlihat lagi oleh mataku. Itu artinya waktu berlalu dan aku masih duduk kaku menunggu sesuatu muncul dari pikiran-pikiran yang berseliweran tak henti-hentinya.

            Betapa mudahnya mengubah sahabat menjadi musuh. Aku tak pernah punya musuh sebelumnya walaupun aku tak punya banyak teman. Aku menghargai sedikit teman itu dan mungkin akan merasa tak berdaya jika ada yang memusuhiku. Tidak seperti beberapa orang yang kukenal yang lebih memilih konfrontasi untuk menyatakan langsung permusuhannya. Jika ada yang tak kusuka, aku akan menikmatinya sendiri sebagai bagian dari pendapatku tentang dunia bahwa ada hal-hal buruk yang tidak pantas bermain-main di depan mata.

            Apakah semua orang begitu?

            Aku jadi teringat salah seorang yang kukenal yang kulihat menangis tersedu-sedu menghadapi persahabatannya yang hancur. Ia jatuh ke pelukanku pada suatu malam dan kata-kata penyesalan berhambur dari mulutnya, betapa ia tidak bermaksud melakukan hal yang terlanjur ia lakukan. Hanya emosi yang membuatnya demikian kepadaku dan hanya emosilah yang membuat ia melakukan hal yang terlanjur tadi. Aku mengelus-elus kepalanya, rambutnya yang lembut masih tetap sama seperti waktu ketika aku menyaksikan dia dan sahabatnya itu kembali dari salon dan saling memuji keindahan rambut mereka. Saat itu, setelah mengantar sahabatnya berpamitan ia bercerita padaku akan keberuntungannya hari itu bersama seorang sahabat pergi bersenang-senang. Ia tak pernah memperhatikan penampilannya sebelumnya sampai pada suatu saat sahabatnya itu menyadarkan dirinya bahwa wanita harus menjaga penampilan. Saran itu membuat dia mengubah diri dan mendapatkan kekasih karenanya.

            Saat itu sebenarnya aku berpikiran lain. Mengapa ia memilihku untuk menangis seperti itu? Mengapa tidak pergi saja mencari sahabatnya itu dan menangis seperti itu di hadapannya? Karena kurasa persoalan akan cepat selesai setelah penyesalan yang luar biasa itu. Ketika aku bertanya tentang itu, tentu dengan bahasa yang berbeda, ia tidak menjawabnya, tetapi aku memahaminya sebagai ketakutan atas kemarahan sahabatnya. Ia tak mampu menerima jika ”ditampar” balik. Ia tidak dapat memahami arti rasa sakit yang harus diterima sebelum melanjutkan kebahagiaan yang mungkin masih dapat dilangsungkan kembali.

            Suatu hari ia mengemas barang-barangnya untuk pergi. Saat ini ketika mengenang peristiwa itu aku masih ingin mengingatkannya untuk jangan lari. Tetapi ia memutuskan untuk kalah. Ia pergi dan beberapa lama setelah itu ada yang datang ingin menemuiku. Sahabatnya. Apakah aku menyaksikan hal yang sama karena ia melakukan persis seperti yang dilakukan kenalanku itu? Ia menyesal mendiamkan kenalanku itu, berpuluh-puluh pesan diabaikannya karena sakit hati. Ketika ia menyadari kesepiannya, ia mencari obat bagi hatinya, yaitu sahabat. Ia mencarinya, tetapi sahabatnya telah pergi jauh. Mengingati punggungnya yang menjauh ketika ia memutuskan pergi, aku menyadari bahwa ia juga merupakan orang yang kalah. Waktu telah melenakannya. Persahabatan juga dapat usang dan berakhir karena dimakan waktu. Waktu dapat mengubah perasaan-perasaan dan itu sangat mengerikan bagiku.

            Aku mendekapkan tanganku ke dada dan merasakan sendiri kasih sayang yang masih kumiliki untuk dibagikan kepada sahabatku.

***

            Seandainya kami bukan sahabat. Hanya menjadi orang yang saling mengenal dan bertukar senyum ketika berpapasan. Hanya menjadi orang yang saling bicara seperlunya. Hanya menjadi orang yang tertawa ala kadarnya. Hanya menjadi orang yang saling tahu bahwa hubungan kami biasa-biasa saja. Apakah kami akan mengalami hari ini?

            Aku jadi tak ingin mengenalnya seperti aku mengenal dengan sangat baik saat ini. Karena itu aku jadi mengetahui banyak hal. Begitu banyak hal yang tak ingin kuketahui. Tapi apakah ia juga mengenali dirinya sebagaimana aku mengenalnya sebagai orang di luar dirinya? Begitu banyak hal yang tak ingin kulakukan karena pengetahuanku itu.

            Pada suatu hari aku menemani salah seorang rekanku melaksanakan tugas piketnya di tempat kerja. Apakah kami pernah mengikat janji sebelumnya untuk menjadi dua orang yang bisa menjaga rahasia? Sepertinya tidak. Aku ingin menolak mendengar kisah dirinya, tetapi aku sadar bahwa ia hanya ingin didengarkan.

            Kurasa seharusnya aku menanggapi dengan sungguh-sungguh kenyataan bahwa pada hari itu ia tidak seperti biasa bersama seorang sahabatnya yang kuketahui adalah sahabat dari masa kecilnya. Sungguh aku takjub menyaksikan ada persahabatan yang berlangsung begitu lama, tetapi aku juga tahu satu hal bahwa ada banyak hal juga yang akan diketahui. Seperti halnya ada jeruk yang busuk di antara jeruk-jeruk yang baik setelah kau memperhatikan sekeranjang jeruk beberapa lama.

            Ia terlihat begitu kebingungan, bergerak dengan ragu-ragu seakan-akan ada yang mengawasi dan menegurnyanya jika perbuatannya salah. Tiba-tiba ia menoleh kepadaku dan curahan hatinya seperti air yang tercurah deras dari kantong yang bocor.

            Bukankah menyenangkan jika merasa dimiliki dengan limpahan kasih sayang dari orang lain? Bukankah menyenangkan jika dalam hari-harimu ada orang yang begitu setianya dan menyambutmu dengan senyum merekah kepadamu? Bukankah menyenangkan memiliki sahabat yang begitu mengenalmu? Tetapi dia, tanpa dapat mendengarkan isi kepalaku, menjawab betapa semua itu tidak menyenangkan baginya lewat cerita yang ia tuturkan.

            Apa yang akan terjadi ketika ikatan itu telah kau dapatkan, tetapi kemudian kau ingin mengakhirinya? Itulah yang terjadi padanya. Inilah buah rasa memiliki yang mengerikan. Kau tak dapat berbuat apa-apa tanpa disertai rasa khawatir bahwa mata cemburu sahabatmu bisa saja ada. Kau dijaga habis-habisan, seperti merpati yang dirawat dengan baik dalam kandangnya. Pada awalnya memang menyenangkan, tetapi ketika kau tahu apa artinya bebas kau ingin lepas dan memutuskan untuk membuka gerendelnya, mungkin dengan merusaknya sebagai cara terakhir.

            Merusak gerendel itu bukan keinginan karena sebenarnya ia hanya ingin didengarkan betapa inginnya dia bebas. Tapi, apakah kau tahu perasaan sahabat yang merasa kehilangan sahabatnya? Ia akan mencari sahabatnya itu dan benar saja. Begitu kami keluar ruangan, sosok sahabat itu kami temui sedang bersandar di salah satu tiang di koridor, memandang kami dengan pandangan aneh. Rekanku hanya membeku sesaat dan kemudian melewatinya begitu saja. Aku tahu perasaannya tak karuan, udara telah menghantarkan suara kami ke semua penjuru, salah satunya ke telinganya. Ada aura yang aneh, hawa yang ganjil, ketika dua orang itu seperti akan memulai perang. Aku bertanya dalam hati akankah mereka akan perang mulut mengetahui ada rahasia hati yang sudah terungkap? Ternyata yang terjadi adalah tidak terjadi apa-apa. Sampai rekanku itu menghilang dari pandangan, sosok sahabat itu masih termangu. Aku menunggunya mengucapkan sesuatu.

            Aku merasa bersalah ikut bermain dalam kisah mereka. Aku ingin langsung pergi ketika peranku kupikir sudah selesai, ternyata tidak demikian. Ia memintaku tinggal dan aku duduk di sampingnya.

            ”Aku tidak memintamu merasakan apa yang aku rasakan hari ini. Aku hanya ingin kau tahu, aku baik-baik saja. Semua perilakunya akhir-akhir ini adalah pertanda. Aku sadar hari ini suatu saat akan terjadi dan hari ini aku sungguh-sungguh mencarinya untuk mengatakan sesuatu kepadanya. Aku ingin memintanya jujur mengenai apa perasaannya kepadaku. Tetapi aku tak bisa menemukannya yang ingin bertemu denganku seperti dulu. Dia tak mau kutemui sekalipun aku tahu di mana ia berada. Aku menunggunya di sini dan aku mendengar semuanya. Syukurlah…” Ia menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan cepat. Matanya mengerjap-ngerjap, ia berusaha menahan tangis. ”Kalau dia menginginkan demikian, aku tak akan berpura-pura lagi bahwa persahabatan ini sudah sangat berbeda dengan persahabatan masa kecil kami. Aku tak punya seseorang yang bisa kujaga lagi. Aku benar-benar menganggapnya seperti adikku. Rasanya sekarang, ini benar-benar konyol.”

            ”Apa kau tidak akan mengejarnya? Mungkin masih ada waktu untuk memperbaiki keadaan.”

            ”Sekalipun masih ada waktu, aku tidak mau melakukannya. Bicara denganmu menunjukkan ia tak mau aku tersinggung dan bertengkar denganku. Aku tak akan repot-repot muncul di depan hidungnya.”

            ”Kau baik-baik saja?”

            Aku berniat menguatkan hatinya, tetapi ia buru-buru beranjak dari tempatnya dan melangkah pergi. Baru berlalu beberapa langkah ia berhenti. Hanya menoleh sedikit untuk mengucapkan terima kasih bahwa aku telah menjadi tempatnya berbicara. Ia berjalan, semakin jauh.

            Seandainya bukan padaku rekanku itu bicara, tetapi langsung kepada sahabatnya… Mungkin rasa sakitnya tidak akan sesakit ketika membicarakannya diam-diam kepada orang lain dan terpergok bicara begitu.

            Tak ada kebenaran sebelumnya dari apa yang kubayangkan walaupun kemudian bayangan itu seolah-olah terjadi. Aku hanya menafsirkan dalam hati apa-apa yang mereka lakukan setelah hari itu. Ketika mereka bertemu lagi, mereka tak saling memandang dan mungkin hanya mengingati masa lalu sebagai masa lalu. Apakah rekanku itu merasa tidak dimengerti sebagai seseorang yang menginginkan kasih sayang yang tidak membelenggu dan sahabatnya itu merasa dikhianati atas segala kebaikan yang telah ia berikan? Tak ada yang mau mengalah untuk menjelaskan lebih dulu perihal mengapa mereka begitu. Mereka tak akan pernah tahu.

***

            Bagaimana rasanya jika apa yang kau lakukan tidak dihargai lagi? Apakah rasanya seperti dunia sedang membodohimu? Rasa sayangmu tidak mendapatkan penghargaan yang pantas, apakah kau akan hancur karenanya? Apakah rasa sayang itu adalah dengan mengatakan bahwa segala sesuatunya baik-baik saja? Jika demikian, sungguh aku yang membodohi diriku sendiri.

            Apakah ia memahami rasa sayang yang kuberikan untuknya ketika aku menunjukkan penilaianku atas retak-retak dalam dirinya yang mungkin akan mencoreng wajahnya kelak? Sekalipun berat, aku ingin menunjukkan bahwa aku tidak buta sebagai sahabat. Aku ingat bagaimana aku mengatakannya hari ini. Aku ingat betapa aku bergetar ketika mengucapkan maaf sebelum berbicara panjang lebar tentang kesalahannya. Aku ingat ekspresi terkejutnya dan ia yang tidak mengatakan apa-apa setelah itu.

            Apakah aku akan membiarkan ketakutan akan kehilangan menguasaiku? Setelah kuputuskan tidak, kehilangan itu mulai membayangiku saat ini. Apakah aku akan kuat menghadapinya dan memulai hari baru tanpa dirinya sebagai bagian dari hidupku?

            Aku tak ingin menyesali hari ini. Seharusnya aku tidak perlu meminta maaf karena sebenarnya aku tidak berbuat salah kecuali mungkin membuatnya tidak enak hati. Tetapi sakit itu adalah masalah baginya. Apakah ia bisa menerimanya? Itu saja.

            Aku pergi tidur dengan keyakinan seperti itu. Di tengah keremangan cahaya bulan di luar sana, aku tahu matahari akan tetap memulai esok. Tapi apa yang akan kulalui besok aku belum memutuskannya…

***

            ”Keranjang sampah… Keranjang sampah… Kalau tidak ada kamu, ke mana aku harus membuang sampah-sampah ini… Kalau tidak ada kamu, bagaimana aku mencari keranjang sampah yang lain… Karena tak ada yang mau menjadi keranjang sampah… Mereka bilang, jangan bermain-main dengan sampah.”

            ”Sahabat… Sahabat… Kalau tidak ada kamu, kepada siapa aku harus menceritakan ini… Kalau tidak ada kamu, bagaimana aku mencari sahabat yang lain… Karena tak ada yang mau menjadi sahabat… Mereka bilang, jangan main-main dengan ikatan…”

            ”Sampah akan membuatmu kotor, tetapi kamu akan belajar untuk bersih. Ikatan bisa membuatmu sedih ketika ia putus, tetapi kamu akan belajar untuk menyambungkannya lagi… ”

            Aku terbangun karena suara itu.

            Alarm HP yang belum kumatikan melantunkan lagu yang kami buat untuk merayakan persahabatan kami. Aku mengenang mengapa kami membuatnya dulu. Dengan hati-hati dia berkata padaku bahwa dia khawatir karena kami tidak pernah bertengkar seperti layaknya kebanyakan orang yang kemudian berpisah jalan. Karena pertengkaran akan selalu ada di dunia ini…

            Aku beranjak menuju jendela dan membukanya lebar-lebar, membiarkan hawa pagi yang dingin masuk. Aku tidak tahu bahwa semalam hujan turun. Cahaya matahari menjadi kabur karena kabut. Daun-daun memantulkan cahayanya. Awan berarak ke arah timur, sebentar-sebentar langit biru mengintip lalu bersembunyi lagi.

            ”Ada banyak hal yang membuat dua orang berpisah jalan, tetapi harus ada yang membuat kita bertemu kembali, kan? Bagaimana kalau lagu ini saja? Dengarkan seandainya pada suatu saat kita nyaris berpisah jalan…”

            Apakah kita menganggap diri kita selalu menjadi orang yang tak pernah salah? Tentu tidak. Apakah kita menganggap diri kita selalu menjadi orang yang baik hati? Tentu tidak. Mungkin pada suatu saat kita akan menangis berdarah-darah sebagai sahabat karena kita tiba-tiba melakukan hal-hal yang tak terduga.

***

            Aku memutuskan meneleponnya pagi itu juga. Baru separuh jalan aku mengetik nomor teleponnya, teleponku sendiri berdering. Aku melihat namanya ada di layar. Tiba-tiba saja, jantungku berdebar, ia menyesak seperti ingin keluar.

            ”Halo…”

            ”Rei?”

            ”Maaf…”

            ”Maaf kenapa?”

            ”Aku membuatmu sedih… Seharusnya aku tidak langsung pergi meninggalkanmu… Seharusnya aku bisa mengatakan sesuatu.”

            ”Kau salah, seharusnya aku yang meminta maaf… Seharusnya aku tidak berkata tentang kamu seperti itu.”

            ”Kamu jangan meminta maaf, akulah yang salah. Aku seharusnya malah berterima kasih padamu, tetapi aku tak sanggup mengatakannya waktu itu. Tak banyak yang berani mengutarakan kejelekanku sebelumnya. Sebenarnya aku hanya terkejut. Aku tak tahu harus berbuat apa…”

            ”Kau benar-benar mengujiku kemarin, antara tak mau kehilanganmu atau menjadi sahabat yang sebenarnya untukmu.”

            ”Apa kamu begitu serius menanggapi perilakuku kemarin?”

            ”Bagaimana bisa tidak?”

            ”Kita akan tetap menjadi sahabat, kan? Aku tak bisa menyimpan kesedihan ini lebih lama lagi.”

            ”Iya… semalam pun aku tak bisa tidur… Aku ingin kembali bisa tidur nyenyak.”

            ”Hahahaha…”

            ”Senangnya, bisa tertawa lagi!”

            ”Tahu tidak, apa yang kudapat semalam?”

            ”Apa?”

            ”Lagu baru, dong!”

            ”Aku mau dengar!”

            ”Begini… Hemmmp… Huffffff… Terima kasih, sahabat, matamu melihat panu di punggungku ketika aku tidak melihatnya… Terima kasih, sahabat, tanganmu menggarukkan panu di punggungku yang aku tidak bisa menyentuhnya… Terima kasih, sahabat, atas sakit dan geli yang engkau buat aku merasakannya… Terima kasih, sahabat, biar aku melihat dan menggarukkan panumu juga…”

            ”Terima kasih, Rei…”

            ”Aku senang kau menjadi sahabatku.”

            ”Kutunggu kau hari ini di tempat biasa.”

            ”Tenang saja, aku tidak akan lari karena malu melihatmu.”

            Aku mengakhiri pembicaraan di telepon pagi itu dengan perasaan yang luar biasa. Aku juga tahu dia merasakan hal yang sama. Yeah, kalau begini… dunia tetap akan menjadi tempat yang indah bagi ikatan kami berdua. Bisakah kau membayangkan seperti apa wajahku? Kalau tidak bisa, bayangkan saja aku yang tersenyum lebar dengan mata berbinar-binar. Artinya aku sedang berbahagia.

 

Semarang, 10 April 2009

Untuk semua yang kekenal… Yang ”hidup” dan yang ”mati”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s