Salatiga, 30 April-1 Mei 2010

Original source: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/57/Poetry-of-The-Week-Salatiga-30-April-1-Mei-2010

May 1, ’10 6:59 PM

Akhirnya, senangnya, bisa menulis lagi! Satu tantangan hidup sudah berlalu… Wah, siap-siap untuk tantangan berikutnya!
Syukur alhamdulillah, Allah Memberiku kesempatan untuk bisa ikut seleksi mahasiswa berprestasi tingkat universitas. Cerita lengkapnya, nanti. Hari ini aku akan berbagi tiga puisi yang kubuat selama tiga hari dua malam ikut “Pembinaan dan Seleksi Mawapres”. Tidak ada niat lain dalam membuat tiga puisi ini kecuali sebagai upayaku mengurangi (bahkan melupakan) kecemasan ketika mengikuti acara itu. Tidak ada acara yang pernah membuatku stres seperti acara ini. Tiga hari “roller-coaster”… sangat bermakna bagiku.
***
I
 
Tuhan… aku berharap,
atas nikmat yang Kau Berikan, 
aku bersyukur.
Kupandang bintang yang gemerlap,
aku bertanya, di manakah jalan?
aku berdebar… lebur,
dalam mimpi aku terkejap
oleh keinginan yang indah, bukan lamunan:
Panahku sudah lepas dari busur.
 
II
 
Mentari bagaikan mata yang memandangku.
Sinar jingganya menyorot, tajam… begitu terang.
Langit menjadi lembayung, awan seperti rumah-rumah yang indah.
Ada dunia yang tampak semakin rapuh.
Ketika tirai malam turun, dan cahaya diminta kembali oleh Pemiliknya.
Bintang-bintang gemerlap seperti mata yang berkaca-kaca.
Aku mengaduh, tak ingin pulang.
Terpaku, pada keindahan yang tak kekal,
tapi mampu membuatku, sesaat, berbicara pada Tuhan.
 
III
 
Harapan adalah nyawa,
ketika aku memandang masa depan,
ketika ketidakpastian seperti dinding yang membutakan.
 
Ialah, sesuatu yang membuatku memiliki jalan…
yang tidak akan tersapu oleh apapun.
***
Ketika menjalani hari-hari seleksi, aku teringat-ingat perkataan seseorang. Kalimat itu sangat berharga sehingga aku mulai belajar untuk tetap tegak, tetap kuat, tetap bertahan untuk memiliki sebuah mimpi. Aku hanya bisa membahasakannya dengan kata-kataku sendiri… Suatu hari, aku ditanya mengenai apa manfaat ikut mawapres. Aku diam saja dan menganggap itu adalah rahasia. Beberapa hari berikutnya, aku ditanya lagi, kenapa aku ikut mawapres. Aku mendapatkan makna dari  jawaban yang kuberikan:
“Ada tekad dan mimpi, yang meskipun kau mengalami kegagalan dalam mencapainya, mereka membuatmu memiliki jalan dan mendorongmu untuk menitinya.”
Ya, aku sedang memelihara suatu harapan. Beberapa kali aku merasa jatuh oleh hal-hal yang membuatku putus asa: kelemahan diri, omongan orang, kondisi di sekitarku… Banyak hal yang membuatku menanyakan kembali keabsahan harapanku, apakah ia terlalu muluk untuk dicapai? Berharap sesuatu yang besar adalah sesuatu yang sangat menguras tenaga. Ada harga untuknya, ada pengorbanan untuknya, ada yang tidak enak yang akan dirasa… Aku ingin sekali bisa bertahan tetap pada jalan menuju kenyataan. Yang kurasakan saat ini adalah harapan itu mengalahkan hal-hal yang membuatku menderita karena gagal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s