Selepas Shalat

Original source: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/101/Poetry-of-The-Week-Selepas-Shalat…

Aug 28, ’10 10:39 PM

Selepas shalat berjamaah… aku suka berbuat iseng: Berlama-lama di tempat hanya untuk melihat pemandangan yang sangat menyentuh ketika orang-orang selesai shalat. Ada kalanya aku jadi bertanya pada diri sendiri, sudah seberapa baik shalatku, seberapa tulus doaku, seberapa merendahnya aku di hadapan Tuhan… Allah memang tidak meminta kita untuk menjadi malaikat dalam taat kepada-Nya. Lebih dari itu, sungguh bermakna ketika kita hanya diminta untuk senantiasa berusaha untuk menyempurnakan amal… Atas segala kesalahan, pengampunan-Nya memenuhi langit dan bumi.
Selepas shalat… aku mendapati…
Kupendam rasa ingin,
atau bahkan iri…
Wajah-wajah itu, terpekur dalam damai,
seusai wajah terbasuh,
shalat yang khusyuk,
dan doa yang syahdu…
 
Kupandangi dengan penuh tanya.
Apakah gerangan, orang berubah…
Tidakkah ada yang bersenandung dari masa lalu?
Kau memainkan melodimu sendiri,
kumohon… teruslah bergema sampai jauh.
Aku mendengarkan…
aku mendengarkannya.
 
***
Kita sering dihadapkan pada pertanyaan: mana yang lebih baik, mantan orang saleh yang menjadi jahat, atau mantan orang jahat yang menjadi saleh? Berbagai cerita dan kisah teladan seputar pertanyaan itu terus ada. Terkait dengan diri kita sendiri, tidakkah kita jadi berpikir bahwa ketika jawaban kita adalah yang  “mantan orang jahat”, sudah selayaknya kita bercermin pada diri sendiri. Mengapa?
 
Kebanyakan dari kita sudah merasa puas karena berada di golongan tengah: kita bukan orang yang sangat jahat, atau orang yang sangat saleh. Kita menikmati hidup secara tenang dengan tidak beribadah secara “ekstrem” (perhatikan ini tanda petik) dengan mencari standar yang termudah dari ajaran agama yang sudah mudah (artinya, kebanyakan manusia mampu untuk menjalaninya, kecuali manusia dengan kasus khusus). Kita merasa aman dengan tidak menjadi orang yang melanggar pasal-pasal dan karenanya mendapatkan hukuman berat… Hidup ini layaknya kendaraan-kendaraan di jalan… kadang berjalan tersendat macet, kadang lancar… Kita sudah puas dengan keadaan kita sekarang.
 
Bagi diriku sendiri, aku hanya berpikir bahwa hidup ini terlalu berharga untuk hanya dihabiskan dengan menjadi manusia biasa. Aku bertanya, kapan aku (atau kita semua) akan menjadi mantan orang(-orang) biasa. Menjadi biasa itu baik-baik saja. Tetapi, bagaimana dengan menjadi orang biasa yang sedikit lebih baik lagi dari waktu ke waktu? Rasanya ini PR besar untuk sedikit meningkatkan diri untuk menjadi lebih baik: mantan orang biasa, yang biasanya beribadah biasa-biasa saja, yang bekerja biasa-biasa saja, yang berkarya biasa-biasa saja… yang mencari rasa aman di tengah yang biasa-biasa saja.
 
Puisi di atas adalah wujud penghormatanku pada orang-orang yang berubah. Dahulu mereka bukan orang saleh atau orang jahat. Mereka orang-orang biasa. Tetapi sekarang, mereka menjadi orang biasa yang lebih baik lagi. Aku hanya mengenal mereka dari apa yang kulihat ada pada diri mereka, tetapi kuharap, apa yang kusimpulkan dan apa yang kupelajari dari mereka adalah benar adanya. 
 
Sudah saatnya aku mengubah pandangan skeptis pada orang-orang yang kuremehkan dapat berubah… Ya, manusia berubah. Ya, aku berubah. Kita semua, hari ini, adalah mantan “kita” di masa lalu, bukan? Dari menjadi orang biasa yang negatif, menjadi orang biasa yang positif… Sungguh pencapaian yang kaya akan hikmah sekalipun tetap status kita adalah orang biasa yang hobi mencari aman dari segala kejadian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s