Sepetak Langit yang Dikepung Mendung

Original source: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/26/Story-of-The-Week-Sepetak-Langit-yang-Dikepung-Mendung

Ini adalah judul cerpen yang baru-baru ini kubuat. Tidak ada intensi sebelumnya jalan ceritanya akan begitu, tetapi begitulah jadinya… Berhubung sepertinya cerpen-cerpenku belum banyak yang mengomentari, kali ini akan kuceritakan latar belakang di balik judul ini.
 
Cerpen ini berkisah tentang seorang anak SMA yang berusaha mencari uang untuk membiayai kegiatan study tour yang diadakan oleh sekolah. Biasa bukan kalau di tahun kedua sekolah diadakan piknik dan semacamnya? Tidak semua anak mampu menyediakan uang yang jumlahnya ratusan ribu rupiah untuk membiayai perjalanan. Itulah yang terjadi pada anak ini. Ternyata, usahanya berjualan keliling menjajakan camilan tidak berjalan lancar. Sampai pada hari terakhir sebelum batas akhir pembayaran, uang yang terkumpul masih belum cukup. Pada hari terakhir itu ia berjualan sampai jauh malam, menuju perumahan-perumahan yang jauh dengan berjalan kaki. 
 
Dari perjuangannya di hari terakhir itulah ia menyadari kehidupan keluarganya yang sulit, harapan-harapan yang tidak tercapai, pengalaman pahit di masa lalu, penyelesaian konflik dengan sang  ibu, dan pada akhirnya penerimaan yang mengharukan. 
 
Beberapa teman yang mengomentari mengatakan cerita kali ini mengharukan dan kurang panjang. Hahh… aku musti berkata apa, ya? Sering, jalan pikiran orang yang menulis berbeda dengan yang membaca. Bagiku, ketika aku sudah mendapatkan titik akhir di mana aku harus berhenti, aku pasti berhenti karena tidak ada gunanya lagi memandang-manjangkan cerita. Cerita yang dipanjang-panjangkan intinya akan hilang terbawa alur yang panjang itu. Mungkin saja inti lain akan hadir dan ceritamu akan kacau.
 
*Maaf, cerpennya tidak ku-posting di sini.
 
Menulis cerpen ini sesungguhnya membuatku teringat pada salah satu cerpen yang ditulis oleh tanteku (almrh) pada masa hidupnya. Tidak jauh berbeda latar belakang tokohnya: sama sama punya keinginan besar, merencanakan keinginan itu, tetapi tertumbuk pada masalah keuangan. Judul cerpen itu kalau tidak salah “Realita” dan aku teringat kalimat terakhir dari cerpen tersebut, “Aku harus realistis, aku harus realistis.” Mengharukan sekali.
 
Ketika membuat cerpen “Sepetak Langit yang Dikepung Mendung”, aku sama sekali tidak teringat pada cerpen tanteku itu. Setelah kubaca ulang, baru teringat bahwa ada kesan yang sama. Beginilah kalimat akhir dari cerpenku itu:
 
“Memang pedih… tapi mungkin aku seharusnya sudah belajar sejak dulu untuk tidak menginginkan beberapa hal, mengesampingkan beberapa hal yang lain atau menginginkan hal yang lain saja. Jika aku tidak ingin keinginan menjadikanku budaknya… dan cukup permintaan maaf ibu di waktu itu saja…”
 
Aku merasa inilah jawaban realistis mengenai bagaimana menjalani kehidupan: pahami keinginanmu dan pastikan keterbatasanmu. Aku menangisi ending ceritaku sendiri…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s