Seri Tokoh Dunia

Original source: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/24/Topic-of-The-Week-SERI-TOKOH-DUNIA

Ingat-ingat kembali masa kecilmu, buku apa yang paling kau senangi? SERI TOKOH DUNIA!!!
 
Seri tokoh dunia adalah jenis bacaan anak-anak, berupa biografi tokoh-tokoh dunia yang dikemas dalam bentuk cerita bergambar yang sangat menarik. Serinya ada banyak. Dahulu yang kutahu hanya ada 25 seri, tetapi sepertinya sudah bertambah saat ini dan tidak kuikuti lagi. 
 
Perkenalanku dengan buku-buku ini terjadi pada masa kelas 3 SD, zaman di mana aku baru bisa pinjam dan belum bisa beli. Aku lupa apa yang kubaca waktu itu, tetapi aku teringat salah satu percakapan dengan teman sekelas, tentang kekecewaan. Bersamaan dengan seri tokoh dunia ini, aku juga membaca sekilas “100 Tokoh Paling Berpengaruh”-nya Michael Hart. Aku terkejut mengetahui bahwa Nabi Muhammad berada pada peringkat pertama. Aku ingin mencocokkannya dengan seri tokoh dunia, tetapi yang kudapat… tidak ada nama Nabi Muhammad di-list-nya. Kupikir aku salah baca, kuulang-ulang, yang paling mirip adalah Mahatma Gandhi. Sama-sama M-nya. Sedihnya… padahal aku sudah koar-koar kalau Nabi Muhammad ada pada peringkat pertama… Memang, yang buat seri-seri itu tampaknya tidak mengenal Nabi Muhammad. Ahh… seandainya aku jago membuat komik, aku ingin membuat anak-anak muslim bangga: Nabi tercintanya diakui sebagai tokoh dunia karena dibuat komik sama seperti tokoh-tokoh lainnya. Tapi, tentu saja Nabi Muhammad lebih dari sekadar tokoh dunia karena beliau adalah kecintaan semua muslim.
 
Aku benar-benar mengumpulkan seri tokoh dunia sejak kelas 5 SD dan yang pertama kubeli adalah tentang Hans Christian Andersen. Banyak hal yang membuatku terkesan: masa kecilnya yang fantastis, semangat hidupnya, karya-karyanya (dia seorang pujangga)… intinya, dia mengubah ketidakbahagiaan menjadi kebahagiaan lewat kerja keras. 
 
Karena aku ingin jadi penulis, Hans Andersen menjadi bacaan favoritku dan sekarang aku sadar bahwa untuk menjadi sesuatu membutuhkan proses dan beragam penolakan. Begitulah perkembangan membuat seseorang memperbaiki diri. Untuk menjadi penulis, kau harus berani menuangkan ide dan membaginya dengan orang lain, belajar pada banyak orang yang lebih berpengalaman dan mengalami banyak pengalaman sendirian, serta tidak pantang menyerah. Tak masalah dari keluarga macam apakah kau berasal, semuanya dapat berubah tergantung usahamu. Bagitulah…
 
Tentang Andersen, aku sangat ingat pada puisi yang katanya diukirkan pada batu nisannya:
 
Jiwa adalah benih alam abadi.
Sekalipun raga telah lenyap, namun jiwa tidak pernah hancur.
 
Puisi Andersen ini merangkum semua pemahamanku atas semua tokoh (orang) yang diabadikan dalam buku, diabadikan dalam monumen, atau hanya diingat dalam kenangan banyak atau hanya seseorang. Ketika seseorang memiliki sesuatu, ia akan diingat karena sesuatu itu. Sama seperti peribahasa, gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama. 
 
Tidakkah membaca biografi seorang tokoh menumbuhkan aspirasi tertentu? Aspirasi seseorang juga berkembang, lho. Pada awalnya mungkin kita ingin terkenal seperti mereka, ingin hebat seperti mereka, tetapi pada akhirnya kita ingin menjadi orang yang juga dikenang. Apakah itu puncak aktualisasi diri? Entahlah… semuanya akan terbukti mungkin bertahun-tahun setelah kematian kita. Pada hal yang paling akhir, intinya: hidup adalah keikhlasan bertindak demi orang lain. 
 

Tokoh selanjutnya yang paling kusuka adalah Alfred Benhard Nobel. Cermati namanya dan akan mudah ditebak bahwa dialah pemrakarsa Nobel Prize. Aku termasuk orang yang sangat kagum pada dunia ilmu pengetahuan dan aku akan tambah kagum jika ilmuwan yang membidani ilmu pengetahuan itu berjiwa mulia. 
 
Nobel berasal dari keluarga miskin dan bertubuh lemah sejak lahir. Sekalipun sakit-sakitan, ia tidak menyerah dan terus menuntut ilmu sampai akhirnya ia menjadi seorang ahli bahan peledak (dia penemu dinamit) dari Norwegia. Bisa dikatakan dia adalah penemu mesin perang, negara-negara berebut menggunakan jasanya untuk membuat peledak (saat itu Eropa sedang dilanda perang). Sekalipun ia menciptakan peledak, tetapi ia sangat mencintai kedamaian. Ia meninggal dunia dengan mewariskan banyak harta, tetapi semua itu ia hibahkan sehingga hari ini kita tahu Nobel Prize adalah penghargaan bergensi atas ilmu pengetahuan yang menjadikan para ilmuwan berlomba-lomba untuk mendapatkannya.
 
Namun, apakah sebagai ilmuwan seseorang pantas mengejar suatu penghargaan? Rasanya, sangat baik jika kita berlomba-lomba untuk bermanfaat bagi umat manusia, tetapi pantaskan jika ada orang yang berlomba-lomba menciptakan sesuatu untuk mendapatkan penghargaan? Di mana keikhlasannya? Aku jijik mendengar ada orang yang berharap-harap dia akan mendapatkan ini dan itu atas kerja kerasnya. Penghargaan bagi suatu penemuan bukanlah Nobel Prize, bagiku itu hanyalah simbol. Yang  menghargai suatu penemuan adalah kemanusiaan, karena itulah Nobel Prize ada. Sekalipun salah satu kriteria pemenangnya adalah penemuan yang berpengaruh, tetapi sejauh mana ia bermanfaat bagi umat manusia adalah yang terpenting. Maka, apakah ada yang bisa meyakinkan bahwa setahun, lima tahun, sepuluh tahun kita akan mendapatkan hadiahnya hanya karena kita adalah ahli dan intelek? Jawabannya: tidak. Kemanusiaanlah yang menjawab.
 
Tokoh ketiga yang kusuka adalah Helen Keller. Hampir semua orang tahu siapakah Helen Keller. Dia adalah seorang wanita buta, tuli dan bisu yang berhasil mencapai suatu pencapaian yang tidak didapatkan oleh banyak wanita (manusia)  normal. Aku sangat kagum pada perjuangannya agar bisa berbicara dan bersekolah. Lagi-lagi: tidak pantang menyerah dan ia akhirnya menginspirasi banyak orang agar memperlakukan orang cacat dengan baik. Apakah perjuangannya singkat? Tidak. Sama seperti tokoh-tokoh lainnya: perjuangannya seumur hidup.
 
Jadi, bagaimana dengan kita, ya? Helen Keller dari yang bisu dapat berbicara, bukankah seharusnya kita dari yang bisa berbicara dapat berbicara lebih lantang lagi? Hans Andersen yang berasal dari keluarga miskin dan tidak sekolah tinggi-tinggi seperti kita bisa memberikan banyak kebahagiaan lewat tulisannya, kenapa kita yang berasal dari keluarga mampu tidak dapat menulis lebih banyak lagi? 
 
Semua orang mungkin akan mengatakan bahwa hidup setiap orang berbeda-beda jalan. Tetapi, jalan apakah yang kita punya adalah pilihan, bukan?
 
Membaca biografi seseorang sesungguhnya sangat menyederhanakan kehidupan orang tersebut. Tetapi, kehidupan manusia memang sederhana… semoga tidak hanya sekadar hidup lalu kemudian mati. Sebentar sekali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s