Si Ruwet, Jalanan Egoisme

Original source: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/161/Poetry-of-The-Week-Si-Ruwet-Jalanan-Egoisme

Dec 2, ’10 9:50 PM

Menguraikan jalanan yang kusut…
Mengapa orang-orang berjalan, melaju dengan egoisme?
Mengapa berpikir tujuan sendiri, padahal kita semua sama-sama ingin pulang, sama-sama ingin di kantong ada uang…
Sama-sama ingin bergerak untuk sesuatu, sama-sama ingin menuju suatu tempat?
 
Ah, aku lapar…
Tak seharusnya aku di sini sebagai korban ketidaksabaran.
Mengapa memenuhi jalan dengan keegoisan?
Di mana Pak Polisi? Di mana Pak Polisi?!
Priiit… Priiit… Teet… Teet… Buum… Buum…
 
Ah, aku lapar…
Denda saja semua, orang-orang ini!
Tilang semua, barang-barang yang berseliweran itu!
Penjarakan egoisme…
Menguraikan jalanan ruwet…
Menguraikan egoisme di jalan, memberikan jalan, memberikan kesempatan.
 
Agar orang-orang tak mencari celah, tak menyelinap, tak berkelit, tak menyikut, tak menonjok, tak saling tabrak, lalu saling labrak…
Agar tak saling menyalip, lalu sama-sama terjatuh…
Agar tak sama-sama saling menghancurkan, kebahagiaan, rasa ingin pulang, kantung beruang…
 
Bergerak untuk sesuatu, menuju suatu tempat…
 
Ah, aku lapar…
 
2 Desember 2010
***
Di tengah kemacetan lalu lintas, entah mengapa selalu ada orang yang berpikiran aneh. Mereka mengorbankan kesabaran 30 menit untuk mendapatkan kemacetan parah 2 jam lamanya. Mobil, motor… akhirnya orang-orang memutuskan berjalan kaki saja.
 
Berkali-kali dari jendela angkot aku menyaksikan fenomena menggeramkan ini. Bukannya bersabar untuk antre mendapatkan giliran jalan di tengah kemacetan, banyak orang malah memilih melangkahi kemacetan itu dengan mengambil alih jalur sebelah. Beginilah ceritanya… pengendara kendaraan pribadi atau angkutan umum yang tidak paham etika dan moral di jalan.
 
Terlalu sulit, mungkin, diwujudkan di jalan-jalan kotaku agar…
Orang tak usah dikejar-kejar lagi untuk pakai helm, untuk tidak mengebut, untuk hemat bahan bakar, dan untuk mematuhi berbagai peraturan lainnya.
 
Dari mana asalnya slogan “Peraturan ada untuk dilanggar?”
Dalam hati aku merutuk… Dasar. Orang-orang dengan “need of deference & interception” rendah, “self-regulation” rendah, “self-awareness” rendah… Orang-orang ini bertransformasi menjadi pengejar kepentingan pribadi jempolan. Pasti TKD persoalan I mereka parah karena tidak tahu bahwa peraturan ada untuk kebaikan bersama.
 
Ya Tuhan, ini bencana sosial! Yang bikin masalah itu bukan mobil yang macet itu, tetapi kesadaran diri yang macet. Betapa sulit memahami kecuali hidup ini untuk kepentingan diri sendiri!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s