Surat Irdan

Original source: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/56/Story-of-The-Week-Surat-Irdan

Lama tidak mem-posting cerita. Karena minggu ini temanya derita dan bahagia, aku akan mem-posting cerita yang pernah kubuat, yang ada hubungannya dengan derita dan bahagia. Ini cerita lama, hampir lima tahun yang lalu. Aku terinspirasi menulis cerita dengan “model” seperti ini karena sebelumnya aku membaca novel “Gadis Jeruk”-nya Jostein Gaarder. Agak seram menulis tentang “gaung masa lalu”, sama seperti kaset-kaset peninggalan Ana untuk keluarganya dalam film “My Life Without Me”. 

Dalam cerpen ini, sebenarnya aku mengungkapkan kelemahankan: Bagaimana mendeskripsikan suatu setting kejadian? Aku tidak punya banyak pengalaman mengunjungi dan mengingat-ingat bagian-bagian dari sebuah kota. Aku berharap, semoga aku bisa lebih banyak jalan-jalan dan menemukan lebih banyak dunia baru.

Selamat membaca  ^^. Thanks.

***

SURAT IRDAN 

            Aku benci Irdan, saudara kembarku. Sangat benci! Ia saudara yang memalukan, merusak nama baik keluarga Atmajaya yang terhormat, membuat ibu menderita sampai meninggal karena jantungnya kambuh dan membuat bapak… Pokoknya saat itu bapak sangat murka.

            Ujian akhir SMA berakhir. Kupikir bapak dan ibu akan senang hari itu. Tapi Irdan mengacaukan impianku itu. Tanpa malu ia menunjukkan ketidaklulusannya dan secara tidak langsung membocorkan penyebabnya yang mengerikan.

            Berbagai laporan masuk ke telinga bapak. Irdan nge-drugs, merokok, dan… Banyak hal yang sulit kupercaya yang ternyata tak kuketahui. Irdan, kau menyembunyaikan banyak hal dariku. Padahal aku saudaramu yang cukup pantas untuk jadi tempat curhat berbagai permasalahan…

            Apa yang terjadi di antara kita?

            Bapak murka. Sangat murka! Irdan diusirnya dari rumah ini, rumah keluarga Atmajaya yang indah. Ibu sudah memohon pada bapak, tapi sia-sia, bapak begitu kecewa sampai tak mampu berkata-kata yang baik.

            Aku yang semula simpati padanya berubah menjadi kecewa yang amat sangat juga. Bayangkan, kami kembar dengan fisik yang identik. Bayangkan jika banyak orang yang salah paham dan mengira aku adalah Irdan? Namaku juga akan hancur! Bayangkan, aku sangat malu. Aku dengan nilai ujian tertinggi di SMA punya saudara yang lulus pun tidak. Bukankah secara tidak langsung aku juga akan jatuh?

            Ah, simpati. Memangnya aku simpati? Kalau dipikir ulang, aku senang Irdan hengkang dari rumah ini. Dasar anak tak tahu diuntung. Irdan itu cucu kesayangan keempat eyangku, kesayangan semua keluarga, kecuali aku. Ya, kecuali aku. Aku senang ia pergi! Ha…ha…ha… Semua keluarga akan berbalik menyayangiku. Aku adalah anak satu satunya dari keluarga Atmajaya yang terhormat. Bagus sekali nasibmu, Irdan.

* * *

            Tiga tahun sudah lewat. Rumah megah ini begitu sepi. Ibu sudah tiada dan bapak hanya bisa tergolek lemah di tempat tidur karena stroke.

            Walaupun aku benci mengakuinya, aku rindu dengan suara Irdan yang dalam. Dulu kami biasa… Sudah ah. Lupakan. Itu sudah lama sekali.

            “Den Irfan, tadi ada surat buat Den Irfan,” lapor Mbak Nah, salah satu pembantu di rumah ini.

            Aku tak mempedulikan perkataannya dan meneruskan meneguk segelas air putih segar dari dispenser. Aku benar-benar haus. Kuliah hari ini benar-benar menguras tenaga.

            “Itu di dekat telepon, surat dari Semarang.”

            Semarang? Aku bertanya dalam hati. Emang ada saudara yang tinggalnya diSemarang?

            “Kayaknya dari… Habis Mbak Nah pernah diajari nulis sama… Tulisannya mirip…” Mbak Nah tiba-tiba ragu mengatakannya.

            “Heem?” Aku terus minum sambil melirik Mbak Nah dari sudut gelas.

            “Den Irdan…” Mbak Nah setengan berbisik.

            Aku tersedak. Irdan? Ngapain dia kirim surat segala?

            “Astaghfirullah. Den, Den.” Mbak Nah berlari mengambilkan serbet. Air yang ada dimulutku tersembur semua.

            Aku meletakkan gelas dan langsung melesat pergi dari dapur. Kusambar suratyang ada di dekat telepon dan berlari menuju kamarku di tingkat dua. Benar, dari Irdan.

 

            “Assalammu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.” Aku tak percaya membaca kalimat pembuka itu. Sejak kapan Irdan begini alimnya? Bukannya dia malah tak pernah shalat? Tapi… itu dulu. Mungkin dia sudah berubah. Sekarang.

            “Maaf, lama tak mengirim kabar. Gimana kabar bapak dan ibu? Irdan, asal kau tahu, ibu sudah meninggal tiga tahun yang lalu. Itu karena kamu! Sampaikan maafku untuk mereka. Aku memang durhaka pada mereka. Sampaikan maafku karena aku tak bisa pulang. Aku tak bisa pulang lagi. Aneh.” timpalku.

            “Selama ini aku pergi ke Semarang. Mungkin kau akan mengira aku pergi ke tempat eyang putri. Tidak. Aku tidak kesana. Aku sadar, aku bukan lagi jadi yang tersayang dan aku tak pantas merepotkan banyak orang.

            Irfan, aku tak membawa bekal apa-apa selain pakaian yang kukenakan dan sedikit uang. Bisa kau bayangkan bagaimana aku? Dan lebih mengerikan lagi jika kau tahu bagaimana caranya aku pergi ke Semarang yang jauh dari kota Bandung. Tak usah kuceritakan, ya?

            Irfan, aku benar-benar ketakutan dan bingung di tempat yang asing ini. Aku terlunta-lunta dan pada hari pertama, aku membayangkan diriku yang mengemis, atau mengamen, atau mengasong di perempatan lampu merah. Aku kembali mengingat keadaanku dulu yang makmur, dengan pakaian bersih, tak usah bertelanjang kaki dan kemana-mana naik Supra X-ku. Bayangan kemiskinan di depan mata dan aku berpikir, apakah bisa salah satu penyebab kemiskinan di negara ini adalah anak yang dibuang orang tuanya? Ah, aku bodoh. Aku sampai di sini, kan, memang karena perbuatanku sendiri.

            Tapi anehnya, kemiskinan tak mampir dalam hidupku. Beberapa hari terlunta-lunta dihadiahi dengan datangnya penyelamat yang mengulurkan tangan, membantuku terus makmur. Dia seorang boss suatu gank, yang terkenal di kotaSemarang. Dia mendekatiku, mengobrol denganku dan bertanya, ‘Apa yang kau bisa?’

            Apa yang kubisa? Kau tahu, aku tak bisa sekolah, tak bisa keterampilan apapun! Jadi kujawab saja, ‘Aku bisa kelahi. Karate.’ Memang itu yang kubisa, aku, kan, jago tawuran waktu SMA dan itu yang memang ia perlukan. Aku masuk dengan sukarela, tanpa, memikirkan bagaimana keluar. Padahal, motto hidupku dulu, kalau bisa masuk, harus bisa keluar. Aku mengabaikannya, aku butuh makan, butuh kawan, butuh tempat tinggal, dan boss itu memberikannya walau dengan imbalan yang sangat tak sebanding.

            Saat itu juga, aku bekeja jadi tukang gebuk. HA?! Irdan yang kerempeng itu?Aku ingin sekali tertawa untuknya. Aku melanjutkan, “Bisa jadi namaku preman sekarang.

            Aku bekerja di tempat-tempat umum, mengekor di belakangnya. Kelihatan sangar. Boss dan preman-preman lain menyebar mencari nafkah. Boss merasa aku lain dan ia memaksaku ikut dengannya. Hampir setiap hari sampai pada bulan keenam.

            Simpang Lima, saat malam purnana di bulan ke…Aku tak tahu.

            ‘Fan!’ panggil Boss. Aku heran, biasanya ia memanggilku dengan nama julukanku. Ada konser, Fan! Mau nyari rejeki, nggak?’

            Aku merasa gerah, ingin mandi. Tiba-tiba saja datang, maka kujawab, ‘Nggak, Mas. Bau banget, ntar malah pada kabur. Aku mau cari aer bentar. Panas banget. Nggak kayak biasanya.’

            ‘Ntar kutunggu di tiang lampu ke tiga belas.’

            Aku tak peduli apa yang dikatakannya. Aku hanya ingin menyejukan diri.

            Aku benar-benar merasa manusia. Tak ada manusia yang dapat melindungi manusia, kecuali Allah. Malam itu ada operasi polisi. Mungkin kau mengira Boss tertangkap, ternyata tidak. Ia mati. Sakaw, kata orang. Ia mati sebelum mencopet. Aku lemas seketika mendengarnya dari Charlie si copet, yang mengajakku pergi. Kabur dari para polisi. Aah, ini resiko perbuatan haram. Kenapa perut ini susah diajak kompromi untuk tidak merasa lapar? Andai aku tak pernah lapar… Bodoh!

            Akankah aku pergi dengan Charlie? Aku putuskan tidak. Aku benar-benar takut dan bingung.

            Aku tak pernah mendapatkan air yang menyejukkan untuk menghilangkan kegerahanku. Malam aku tak bisa tidur dan sampai pagi, aku hanya duduk menunggu orang yang lewat mengatakan suatu obat. Sampai siang, sore dan malam. Sampai besok, ketika matahari datang lagi dan kembali datang. Aku hanya mematung, duduk memeluk lutut di dekat gerbang masjid yang ada dekat situ.

            Aku seperti orang gila yang menjadi penghuni jalan. Aku akan menangis bila melihat matahari datang lagi. Aku ingin mati. Aku terlalu sendirian. Inikah nasib orang buangan? Adakah yang peduli? Andai aku adalah kamu, Fan?

            Kuhitung matahari ada tujuh, bulan yang semakin menyabit, awan yang menggelap dan hujan turun begitu asam. Aku masih duduk. Siang ada tujuh, malam ada tujuh… Aku benar-benar gila.

            Aku ingin melupakan laparku, tapi perutku sangat perih, tubuhku berguncang gemetaran, sendi-sendiku lemas…

            ‘Mas, mau makan?’ Ada suara yang membuatku sadar. Tapi aku diam. ‘Mas? Pak tolong! Orang ini sekarat! Paaaaak! Tolooooong!’

            Aku membuka mata yang berat, kurasakan perutku sangat mual. Seorang gadis berlutut dihadapanku, dikelilingi beberapa orang yang menuju padaku. Masih ada yang peduli rupanya. Mungkin orang akan peduli jika aku sekarat dulu.

            Aku kembali sehat, dirawat di salah satu ruangan masjid. Tapi aku begitu malu, aku kabur begitu tak ada orang. Tapi aku tak bisa kabur, aku dicegat banyak orang. Laki-laki. Mereka memasuki masjid. Aku tak bisa keluar.

            ‘Mas, mau kemana? Nggak Jum’atan dulu?’ Seorang pemuda yang rapi dengan baju kokonya menyunggingkan senyum. Janggut membuatnya gagah, seketika aku merasa menjadi semut. ‘Mau Jum’atan? Tempat wudhunya di sana.’

            Aku ketakutan dan bingung. Tapi pemuda itu membimbingku ke tempat wudhu.

            ‘Masih setengah jam lagi. Masih bisa mandi sama potong kuku. Biar saya bawakan baju bersih, ya?’

            Pertama kalinya air yang menyejukkan itu mengalir. Rasanya aneh.

            ‘Mas bisa apa?’ tanyanya kepadaku setelah shalat Jum’at.

            Aku berpikir dua kali. Karena aku masih muda, punya tangan dan kaki, aku menjawab dengan jawaban yang berbeda dengan yang kuberikan pada Boss, ‘Aku bisa bekerja.’

            Aku menjadi bagian dari masjid itu. Pekerjaanku membersihkan masjid itu, mengepel setiap lantainya, membersihkan setiap daun jendelanya, menyapu setiap jengkal tanahnya… Lebih melelahkan, tetapi lebih menenangkan. Aku pun bisa menikmati rasa lapar. Kujalani bulan Ramadhan bersama mereka, menghabiskan hari-hari dengan sebaik-baiknya. Aku tidak menyesal atas apa yang terjadi. Kejadian dengan Boss malah membuatku lebih mengingati kematian, membuatku bersemangat dan tidak menjadi orang yang sia-sia. Terlalu panjang?”

            Aku menghela napas dan bergumam, “Benar-benar panjang.”

            “Aku menjalaninya selama dua tahun. Waktu yang cukup lama, tetapi sangat cepat. Fan, apa yang kau lakukan selama dua tahun yang lalu? Fan, aku pengen juga bisa kuliah, pengen ketemu bapak sama ibu, pengen pulang, pengen mengembalikan nama baik keluarga, diriku sendiri dan namamu. Aku sangat berharap, kau tidak menyesal punya saudara macam aku.

            Aku duduk-duduk di bawah pohon beringin yang rindang, menjaga tempat parkir. Aku mengingat kembali kegilaanku dua tahun yang lalu. Aku teringat gadis yang pertama kali menolongku saat itu. Aku ingin berterima kasih. Allah mendengar keinginanku  dan mempertemukanku dengannya. Ia berjualan es kelapa di alun-alun.

            Pekerjan tambahanku sekarang membantu gadis itu berjualan, membuka buah kelapa. Selama ini ia membukanya sendiri dan merasa kesulitan. Jemari di tangan kanannya sudah tak lengkap. Apa yang terjadi dengan jari-jari itu, ia enggan cerita.

            Namanya Lien. Hanya Lien. Ia keturunan Tiong Hoa, tetapi tidak sipit. Kulitnya berwarna putih kuning, rambutnya panjang selalu dikucir, menyembunyikan bekas luka yang membuat kepalanya pitak. Sejenak aku ngeri terhadap apa yang terjadi padanya. Mungkin dia pernah menjadi TKW atau mengalami kekerasan dalam keluarga? Tapi dia seorang tetap seorang gadis yang baik, bila kau pikir gadis yang terluka seperti itu biasanya nakal.

            Ia berasal dari Poso, Sulawesi Selatan. Sangat jauh dari Semarang, ya? Ia banyak bercerita padaku. Ia datang ke Pulau Jawa tanpa membawa apapun, hanya sedikit uang hasil kerjanya sebagai pembantu rumah tangga dan beberapa lembar pakaian. Sama seperti aku. Hanya saja aku menjalaninya berbeda. Yang kulakukan buruk sadangkan ia melakukan hal-hal yang baik.

            Di samping bejualan es kelapa, ia mengikuti kursus menjahit yang ia biayai sendiri. Dia ingin punya butik dan dari hasilnya ia ingin kuliah. Ia ingin jadi psikolog. Tinggi sekali cita-citanya. Tapi kapan itu akan terwujud? Kau boleh optimis, tapi jangan melupakan pesimis. Benar tidak, kalau aku punya kata mutiara begitu? Ia juga ingin berjilbab, makanya dia ingin bisa menjahit.

            Hidupnya sangat indah, ya? Walau banyak kesulitan, bagaimana ia bisa tegar begitu? Aku sangat malu saat mendengarnya bercerita. Malu pada masa laluku yang makmur, tetapi kusiakan. Malu pada masa dua tahun yang lalu yang seharusnya aku bisa menjadi seperti dia. Malu pada masa depan yang kuabaikan, padahal ia menantiku membuka kesuksesan.

            Aku tidak ingin menyiakan hari selanjutnya! Entah dari mana asal keinginan ini, aku ingin sekali membantu Lien mencapai cita-citanya, aku ingin ia menjadi psikolog, aku ingin ia sukses. Tapi aku punya apa?

            Suatu hari ia tidak datang. Ia tidak datang, padahal aku ingin mengatakan sesuatu yang mengkin akan membuatnya gembira.

            Aku mencarinya dan aku putus asa, sampai seorang ibu penjual sate ayam memberitahuku di mana ia tinggal. Namun, aku tetap tidak menemukannya. Rumah tripleknya hancur bersama rumah-rumah yang lain. Penggusuran. Aku bertanya pada seseorang yang tampaknya adalah tetangganya. Orang itu sedang memunguti harta benda yang tersisa. Di mana Lien?

            ‘Lien dibawa sama orang yang katanya ibunya. Ibunya mucikari, kalo mau ketemu ke sana aja.’ jawabnya dengan Bahasa Indonesia yang mendhok. Aku benar-benar takut ketika orang itu menunjuk ke tempat lokalisasi.

            Jelas aku gentar ke tempat haram itu. Namun, aku tak ingin gadis sebaik dia memiliki masa depan di tempat macam itu dan kupikir, pasti ia dipaksa.

            Pertolongan Allah memang ada di mana-mana? Di jalan sepi menuju tempat mesum itu, seorang gadis menubrukku. Ia berlari kesetanan, memintaku menolong seorang temannya yang berniat bunuh diri. Temannya disekap di sebuah gudang dan menolak setiap makanan yang diberikan.

            ‘Ia selalu mengatakan, “Haram, haram,” Mas, dia nggak mau makan, udah limahari,’ seru gadis itu. Dalam hati aku yakin, itu pasli Lien.

            Lien ada dalam gudang kotor tanpa jendela itu. Kondisinya menyedihkan, kakinya diikat, wajahnya kotor kusam karena air mata dan begitu pucat. Wajahnya kebiruan dan luka-luka. Napasnya memburu.

            ‘Tolong dia.’

            Gudang itu kosong, tanpa penjaga. Aku dan gadis tak dikenal itu menggotongnya keluar. Baru beberapa langkah kami dicegat segerombolan orang. Serta merta mereka menyerangku. Aku menyuruh gadis tak dikenal itu membawa Lien pergi. Untung aku bisa karate, tapi aku kalah oleh pentungan. Tapi, aku tetap merasa menang. Untuk pertama kalinya kugunakan kemampuanku untuk menolong orang, bukan untuk menyakiti orang atau untuk perbuatan sia-sia.

            Aku ada di rumah sakit ketika aku sadar. Beberapa rekan dari masjid menungguiku. Mereka tahu aku cemas pada Lien dan mengabarkan bahwa Lien juga dirawat begitu aku sadar. Aku mendapat transfusi darah karena luka tusukan yang membuatku mengalami penarahan hebat.

            Alhamdulillah, Allah masih menyayangiku, Ia masih memberiku sedikit waktu untuk hidup sampai hari saat aku menulis surat ini.

            Irfan, aku ingin sekali pulang, tetapi aku harus pulang ke tempat yang lain. Transfusi yang diberikan padaku adalah darah kotor. Aku terinfeksi HIV. Aneh, ya? Mustinya pihak rumah sakit meneliti darah untuk transfusi lebih baik lagi. Tapi aku berusaha menerimanya. Allah menghendaki demikian, ya aku harus demikian. Do’akan aku baik-baik saja, ya. Mungkin sebentar lagi, aku sudah semakin kurus.

            Aku sangat ingin pulang, tapi tak bisa. Hanya surat ini yang bisa pulang mewakiliku. Kuminta Lien yang membawanya ke Jakarta. Kumohon terima dia dengan baik. Satu pesanku, tolong jual saja sepeda motorku, jual saja barang-barangku dan ambil semua tabunganku. Berikan pada Lien. Dia lebih butuh sekarang, dia ingin kuliah. Dia ingin jadi psikolog. What?!” Aku memandang lembar kelima darisurat itu dengan tak pecaya. “Irdan sudah gila. Motor itu kesayangannya!”

            Aku berhenti membaca surat itu dan langsung melesat turun menuju dapur.

            “Mbah Naaah?”

            “Iya, Den?”

            “Tadi siapa yang ngasih surat ini?” tanyaku sambil menunjukkan sampul suratyang baru kusadari tanpa perangko dan cap dari kantor pos.

            “Oooo, tadi ada cewek yang ngasih waktu Den Irfan belum pulang.”

            “Dia ngomong apa?”

            “Den Irfan mending tanya ama bapak saja. Tadi bapak yang ngobrol sama dia.”

            “Sama bapak?”

 

            “Bapak?” Aku membuka kamar Bapak pelan-pelan dan terkejut ada sosok yang sudah duduk di sampingnya. Mungkin Lien yang dimaksud dala surat.

            “Oh, kamu, Fan?” Bapak tampak terkejut dan langsung mengusap wajahnya yang basah. “Masuk sini.”

            “Baik.” Aku menutup pintu kamar pelan-pelan. Kamar kembali remang-remang, hanya secercah cahaya siang yang bisa masuk dan membentuk batang-batang cahaya dari atap.

            “Lien, mereka kembar. Anak bapak sekarang tinggal satu.” Bapak melanjutkan obrolannya dengan Lien. “Mirip, tapi beda.” Bapak tersedu-sedu.

            “Irdan?” tanyaku ingin tahu keadaan Irdan pada bapak yang kelihatannya sudah tahu.

            “Sudah meninggal seminggu lalu. Anak bapak yang tersayang, kenapa bisa begini? Andai bapak tidak mengusirnya. Andai bapak bisa lebih mendalami keadaannya dan menjaganya lebih baik…”

            “Irdan…” gumamku menggantung. Kesedihan yang dari tadi kuabaikan meyesak di dada sekarang. Lututku gemetar, aku jatuh berlutut di samping bapak sambil menangis. Aku meremas ujung selimut bapak, rasa menyesal, kehilangan, sedih, salah dan banyak rasa yang sulit didefinisikan bercampur baur.

            “Tuan…” bisik Lien yang tak tahan melihat apa yang terjadi di hadapannya. “Irdan jangan ditangisi lagi. Insya Allah ia bahagia sekarang. Mau tahu, Irdan meninggal waktu shalat subuh di atas tempat tidurnya. Wajahnya senyum, kenapa kalian malah sedih? Manusia harus berjalan sesuai apa yang sudah ditentukan, makanya Allah mencintai orang yang sabar dan ikhlas.”

            Sabar dan ikhlas? Kenapa dua kata itu begitu hebat menghujam hatiku?

            Setelah menyampaikan surat dari Irdan pada bapak, aku kembali menuju kamarku. Bapak juga harus tahu pesan terakhir Irdan yang menyangkut masa depan Lien.

            Di ujung tangga Mbak Nah memanggilku, “Napa Den?” Mbak Nah rupanya merasakan kesedihan ini.

            “Nggak papa, Mbak. Cuma… Irdan sudah nggak ada.”

            “Innalillah…” Mbak Nah menutup mulutnya, ekspresinya tidak percaya juga. Kenapa tidak percaya? Kematian harus dipercayai! “Den Irdan anak yang baik…”

            “Udah, ya, Mbak?” Aku berlari menaiki tangga.

            “Tunggu Den Irfan, tadi di dapur ada yang ketinggalan.”

            Aku mengambil secarik kertas dari tangan Mbak Nah. Lembar terakhir suratIrdan.

 

            “Fan, aku minta maaf, ya, mungkin aku menjadi saudara yang buruk bagimu. Selamat belajar dan bahagia. Kalau ada sumur di ladang, boleh aku menumpang mandi. Kalau ada umur panjang, yuk kita ketemu lagi. Tapi nggak bisa di dunia, nih. Apalagi di Pulau Jawa (He… he… he…) Irdan masih bisa ketawa? Kutunggu di rumahku yang baru. Pulau akhirat propinsi surga Firdaus, ya? Insya Allah. Siap-siap, ya?” Aku tersenyum membacanya. Irdan tak mau aku bersedih.

            “Wassalammu’alaikum warahmatullah wabarakatuh. Saudaramu yang ingin pulang, Irdan. Ps: entah apa yang kau ambil dari surat ini. The End.”

 

Semarang, 25 Juli 2005 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s