Surrealisme dalam Menulis

Original source: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/44/Surealisme-dalam-Menulis

Ada banyak cara untuk memunculkan ide menulis cerita atau apa pun. Beberapa cara yang kuketahui dan sebagiannya benar-benar kupraktikan. 
 
Yang paling mudah dan membahagiakan: insight menghampiri dan BUM! Kau punya ide dan seluruh jalan cerita. Kau bersemangat, berdebar-debar karena tahu “ini akan berakhir bagus”, tidak bisa berkonsentrasi pada hal lain kecuali tulisanmu. Sayangnya, yang paling mudah ini yang paling jarang terjadi. Aku baru mengalaminya satu kali.
 
Yang paling ruwet, menghabiskan banyak kertas, membuat tulisan menjadi cakar ayam, dan lebih baik kau gunakan pensil: menulis dengan kerangka. Kau cuma punya topik dan kemudian sibukkan diri dengan mencari celah “jalan keluar” bagaimana penutupnya. Kau butuh banyak bacaan tambahan, mulai dari artikel  yang ditulis iseng oleh orang tak dikenal sampai buku berbahasa asing super tebal yang terpaksa harus dibaca. Melalahkan dan sumber stres yang tidak main-main. Dalam menulis cerita, aku belum pernah melakukan cara ini. Adakah cerita yang dibuat lewat jalur “karya ilmiah” begini? Ternyata ada! Inilah cerita yang juga berisi tentang pengetahuan, yang sayangnya, sebagai pembaca (bukan penulis) aku suka cerita yang seperti ini. Penulisnya benar-benar serius, bukan?
 
Yang moderat. Lihat orang lain, apa saja yang dialaminya dan bayangkan seandainya, seandainya, dan seandainya. Nah, kau sudah punya cerita “seandainya” itu. Beberapa ceritaku menggunakan cara ini. Contohnya, cerpen Pak Sasro dan Uang Sumbangan yang sebelumnya pernah ku-posting di blog ini. Aku mengandai-andaikan tentang seseorang yang namanya kusamarkan menjadi Pak Sasro. Tentu saja, jalan ceritanya suka-suka aku.
 
Yang mengandalkan fantasi. Inilah kebanyakan dongeng sebelum tidur yang kuceritakan pada adik kecil. Benar-benar ngawur, tapi jadi cerita juga. Binatang bisa bicara, bulan ada dua, makhluk-makhluk aneh… Aku belum pernah menulis cerita fantasy begini, belum tertarik pada cerita anak-anak.
 
Yang mengandalkan cerita yang suda ada. Yah, lagi-lagi seandainya, seandainya, dan seandainya. Bukankah kita pernah tidak merasa puas dengan suatu cerita dan berharap cerita tersebut berakhir lain? Cerita-cerita seperti ini banyak muncul, mungkin diistilahkan sebagai fiksi dari seorang fan sebuah cerita. Aku membuat cerita seperti ini hanya di dalam kepala saja (tidak ditulis), terlalu banyak cerita di dunia ini yang tidak memuaskan dan membuat seorang fan menangis darah ^^ karena kecewa atau emosi lainnya. Hahh… sehingga menulis menjadi tempat mencurahkan kekecewaan itu dalam bentuk alur cerita yang diinginkan.
 
Yang mencerminkan harapan atau keinginan. Ketika kenyataan berperan sebagai antagonis dan kau punya ide yang tampaknya mampu secara langsung atau tidak langsung memperbaiki keadaan. Inilah tulisan-tulisan yang mengkritik! Kurasa, penulis yang demikian adalah warga teladan, mereka pehatian pada lingkungannya dan tidak diam saja ketika hati mereka berontak. Mungkin mereka sering mendapat ancaman dan buku-bukunya dibakar… Jadi, menulis tampak merupakan jalan untuk mengungkapkan harapan yang dimiliki, di samping ada cara lain selain menulis.
 
Yang paling sering kulakukan akhir-akhir ini dan akhirnya aku tahu istilahnya: cara surrealis. Semoga aku tidak salah menjelaskannya. Cara bodoh yang kulakukan ketika tidak punya ide: tuliskan saja apa yang ada di dalam kepalamu, apa saja, lama-lama akan muncul alu cerita yang tidak disangka-sangka. Agak ajaib… Dari awal, aku hanya mengeksplorasi dirimu saja, tetapi akhirnya terbentuk sebuah cerita yang idenya datang di tengah-tengah eksplorasi itu.
 
Mudah memahami tentang surealisme ini dari sudut pandang psikoanalisa (tidak menyangka, kan?), salah satu mazhab psikologi. Semula, aku memandang 1/4 mata terhadap psikoanalisa ini karena kesannya yang “angker” (maaf, istilahku ini mungkin berlebihan). Aku hanya merasa betapa manusia punya begitu banyak rahasia dan sisi diri yang tak dikenalnya. Kenyataan bahwa rahasia dan sisi diri tersebut disembunyikan dan tidak ingin disadari membuatku berpikiran bahwa psikoanalisa seperti berusaha membangkitkan hantu yang lama tertidur. Hantu? Wow, kita seperti sedang takut pada diri kita sendiri ^^. 
 
Seorang penulis yang surealis, “… mereka mempunyai selembar kertas putih dan mereka mulai menulis tanpa memikirkan tentang apa yang mereka tulis.” (Dunia Sophie). 
 
Kalian mungkin bingung mengenai apa yang dimaksud “tanpa memikirkan apa yang ditulis”. Maksudnya di sini adalah jangan terlalu banyak berpikir karena akal dapat menghambat imajinasi. Sering dialami oleh sebagian dari kita: sulit memulai suatu tulisan karena terlalu banyak menimbang alias berpikir.  Jadi, kenapa tidak menulis bebas saja, tulis apa saja, isi hati, atau isi pikiran spontan tanpa berpikir panjang-panjang? Jika pada awalnya tampak tulisanmu ngalor-ngidul tak jelas, ide yang akhirnya kau dapat akan meluruskan ketidakjelasan di awal ketika kau membaca kembali tulisanmu.
 
Kesimpulannya: menulis tidak susah, sayangnya penghargaan yang diberikan memang tidak pasti. Menulis hal-hal yang baik, semoga bermanfaat.
 
Note:
Tulisan di atas hanya bercerita tentang pengalaman… beda jenis tulisan, beda caranya. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s