Syair-Syair dalam Buku “Janji-Janji Islam”

Original source: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/289/Poetry-of-The-Week-Syair-Syair-dalam-Buku-Janji-Janji-Islam

Jun 27, ’11 8:59 AM

*Yang ini indah. Heroik.
 
Dua puluh tahun telah berlalu, dua puluh kekekalan,
aku merasakan ada darah,
dan air mata sebagai luka.
Yang disebabkan oleh dunia kecelakaan.
Dalam urat nadiku terdengar bunyi loncong orang-orang mati,
oh, mempersatukan perjuanganku dengan tenaga para pejuang,
mengulurkan tangan dan memegang takdir.
Cintaku, aku tenggelam dalam darahku,
membawa beban manusia,
dan menggugah kembali kehidupan,
karena matiku adalah kemenangan.
 
–Badr Shakir As Sayyab (1926-1963)
 
*Tentang iman yang membesarkan hati…
 
 
 
 
Engkau menciptakan malam, aku membikin lampu
Engkau menciptakan argilah, aku membikin gelas
Engkau menciptakan hutan, gunung dan sahara,
aku menciptakan jalan kecil, taman dan kebun.
 
 
 
 
***
Apakah hari-harimu dan malam-malammu, jika bukannya perjalanan waktu tanpa siang dan tanpa malam?
Malam mempunyai warna yang tetap dan abadi
suatu karya yang dilakukan oleh manusia dari Tuhan,
O, Masjid Kordoba, beradamu adalah dari cinta
umat Islam tak pernah akan musnah karena
ajakannya menunjukkan rahasia Musa dan Ibrahim
Tanahnya adalah tanpa batas, ufuknya tanpa penghabisan
Suatu ombak dari lautnya: Itulah Sungai Tigris, Sungai Danube, dan Sungai Nil
 
***
Timur mengarahkan pandangannya kepada Tuhan,
akan tetapi tidak melihat alam.
Barat telah menyelami alam material,
tetapi kehilangan Tuhan.
Membuka mata kepada Tuhan, itulah agama.
Melihat diri sendiri tanpa tedeng aling-aling, itulah hidup.
 
–Muhammad Iqbal
 
*Yang ini menyentuh, tentang anak kepada ibunya
 
Kepada Ibuku
 
Aku merasakan nostalgia ibuku
dan kopinya,
serta kesayangannya,
anak membesar dalam diriku
sehari demi sehari.
Dan aku terlalu cinta kepada diriku
karena jika aku mati,
aku akan malu dari air mata ibuku.
Jika pada suatu waktu aku kembali,
jadikanlah aku tutup rambut matamu.
Tutupilah tulang-tulangku dengan tumbuh-tumbuhan.
Karena surga adalah di bawah telapak kaki ibu.
Kembalkanlah kepadaku bintang-bintang masa kecilku
agar aku dapat menggabungkan diri
dengan burung-burung kecil,
dalam perjalanan kembali
ke sarang di mana engkau menunggu.
 
–Mahmud Darwish (lahir 1941), ditulis ketika ia dipenjara
 
*Yang terakhir, merenungkan perjalanan zaman.
 
Apakah yang menunjukkan kita kepada adanya alam yang lain?
Perubahan-perubahan besar, terhapusnya masa lalu.
Hari yang baru, malam yang baru, taman yang baru, dan bahaya-bahaya yang baru.
Pada tiap saat ada pikiran baru, ada kesenangan baru dan ada kekayaan baru.
 
–Rumi
 
*Penutup
 
Apa kata Garaudy tentang syair-syair Islam?
 
Pokok kesusastraan Islam sampai abad ini pada pokoknya adalah syair. Dalam prinsipnya, syair itu adalah syair profetik dan Qurani.
 
Syair-syair tasawuf? Ya, salah satunya. Syair-syair ini bersumber pada Quran, sehingga tugas pertama syair Islam adalah menyadarkan kita, manusia, tentang Ilahi dalam kehidupan kita, mempertemukan Tuhan dan sejarah, yang abadi dan yang ada sekarang, yang nyata dan yang impian…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s