Syair-syair dalam Buku “Ruh dan Jiwa” Ar Razi

Original source: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/270/Poetry-of-The-Week-Syair-Syair-dalam-Buku-Ruh-dan-Jiwa-ar-Razi

Jun 6, ’11 10:49 PM

“Ruh dan Jiwa” adalah terjemahan dari “Imam Razi’s ‘Ilm al-Akhlaq” yang mana edisi bahasa Inggrisnya merupakan terjemahan dari manuskrip aslinya yang berjudul “Kitab an-Nafs war-Ruh wa Syarh Quwahuma”. Buku ini adalah salah satu karya dari Fakhruddin ar-Razi (543-606 H/1149-1209), seorang ilmuwan muslim terkemuka pada zamannya dan namanya harum sampai hari ini. Dia terkenal sebagai seorang mujaddid dan polymath, tetapi, tentu saja, yang menarik perhatianku adalah fakta ia termasuk ilmuwan di masa lalu yang mendalami Psikologi Islami.
Buku ini belum selesai dibaca, tetapi yang menyenangkan adalah adanya beberapa syair indah di halaman-halaman pembukanya. Salah satunya begini…
Alkisah Imam ar-Razi memberikan kuliah di madrasahnya yang terkenal di Khawarizm pada suatu hari yang dingin. Sebuah mimbar khusus dan ruangan yang indah telah disiapkan untuknya, para pembantunya berderet di sekitarnya, pimpinan dan kelompok elite duduk di dekatnya bersama sultan penguasa kota. Ketika para hadirin asyik mendengarkan ajarannya, tiba-tiba seekor merpati lepas dari cengkraman seekor burung pemangsa dan jatuh tak berdaya ke pangkuannya. Imam ar-Razi merasa kasihan dan dengan lembut menangkap burung tersebut. Peristiwa tersebut tertangkap oleh seorang muridnya, Syarafuddin ibn ‘Unain, dan disusunlah bait-bait syair tentang hal itu (h. 5):
Seekor merpati mendekati Sulaiman masa kini,
dengan keluhannya,
sementara kematian menyala-nyala di sekujur
sayap-sayap burung.
Siapa yang memberitahu burung itu
bahwa singgasanamu itu suci (terlindung)
dan merupakan tempat perlindungan yang aman
bagi yang merasa takut…
***
Ibn ‘Unain (h. 34):
 
Hai putra dermawan yang banyak memberi makan
Jika musim dingin telah tiba
masing-masing membawa gemuruh dan salju beku
Hai orang-orang yang menjadi pelindung
Jika jiwa-jiwa tercerai-berai, di antara keinginan baik
dan gemerincing lembing-lembing memekakkan
Dari musim kemarau tempat engkau diharamkan
dan menjadi andalan bagi orang yang takut
Telah datang menjemput engkau dan sudah pasti
berdekatan kematiannya, pemberiannya
yang langgeng sungguh mengikat
Dan sekiranya ia terpilih karena harta semata
maka tak ubahnya baginya membawa seonggok fitnah
disebabkan keadaan-keadaan yang berjalan begitu cepat
Amboi! Kehidupan telah tunduk kaku
di depan makanan, dan terus berlari
dengan mengandalkan hati yang berdebar
***
Syair pujian bagi ar-Razi dari ibn ‘Unain:
Jika mereka berkumpul di sekelilingnya,
mereka dengan yakin menjelaskan, “Keutamaan
tidak diperuntukkan mereka yang terdahulu!”
***
Dengan sedikit penyederhanaan dari syair aslinya (h. 34):
 
Angin utara berkelok-kelok menahan penderitaan dengan sabar
pengabdianku kepada tokoh para Imam yang lebih utama
Tempat berhentiku kepada wadi al-Muqaddas
sedang pertimbangan-pertimbanganku cahaya anugrah
yang bersinar tak kenyang
Kumanfaatkan kedua tangannya
selama ditemui kelainan dengan hujan
setiap tahun yang gersang
Haus pengetahuan-pengetahuan dan orang-orang memperhatikan
haus menimpa sebelumnya di tempat pertemuan
Bersiap sedia demi agama berguna bagi takwa, sedang
agama merupakan obat pelindung yang dikucurkan ke bawah
Orang yang bodoh mati karenanya meski usianya panjang
dan dengan terpaksa dan hampir saja gelap dulitanya
tak memercikkan seberkas sinar pun
Sekiranya Aristoteles menyimak kata-katanya
dari kata-katanya terngiang seribu sorak
segerombolan manusia;
Pikiran Ptolomeus akan kacau sekiranya ditemui
dari pembuktiannya setiap bentuk yang musykil
Dan sekiranya mereka bersatu kata, sudah tentu itu haknya…
 
***
Menjelang akhir hayatnya, ketika ilmunya telah mencapai titik klimaks, ar-Razi dihadapkan pada ide-ide skeptik. Keyakinannya pada akal budi manusia tergoncang dan ketidakmampuannya untuk mengerti eksistensi digugat dan terkadang mengalami sejenis ekstasi (h. 20-22). 
 

Dalam khutbah-khutbahnya, ar-Razi kerap kali mengalami suasana psikis dan ia berkata (h. 7 & 20):

 

“Wahai Raja!

Kekuasaan Anda tidak akan pernah abadi,

juga tidak akan mengabadikan kecongkakan ar-Razi.

Sungguh,

kita akan dikembalikan menghadap Allah.”
 
***
Akal budi yang meninggi berakhir dalam keadaan terbelenggu;
Kebanyakan usaha orang-orang semesta menemui kegagalan.
Jiwa-jiwa kita khawatir
kalau-kalau menyalahi tubuh-tubuh kita;
Dan seluruh prestasi dunia kita
menyusahkan dan menyengsarakan
Kita tidak memperoleh keuntungan
dari diskusi-diskusi abadi,
kecuali sejumlah ungkapan: “Kataku,” dan “Kata mereka.”
Betapa banyak tokoh-tokoh dan negara yang kita lihat;
Tapi semuanya bersegera menyudahi mereka sendiri
dan kemudian menghilang
Dan berapa banyak puncak gunung
diinjak manusia yang binasa,
sementara gunung tetap abadi seperti semula.
 
***
Jiwa-jiwa kita lenyap di suatu tempat
yang tidak kita ketahui. Tubuh-tubuh ini
bersembunyi di balik tanah.
Suatu angkatan ditampakkan,
dan sebuah kerusakan mengikuti.
Allah lebih tahu bahwa tidak ada yang sia-sia
dalam ciptaan-Nya.
 
***
Sekiranya jiwaku puas dengan sesuap,
tidaklah ia mengungguli orang-orang utama
dalam cita-cita tinggi dan sifat-sifat kedermawanan.
Andai dunia cocok bagi jiwaku,
ia tidak akan meremehkan kesempurnaan dan
kekurangan duniawi
Aku tidak melihat dunia dengan mata kebangsawanan,
juga tidak gentar dengan kejahatan dan kekacauan.
Karena, aku tahu akan ketidakkekalan
dan yakin akan kehancuran dan kepergiannya
Aku menunjuk pada peristiwa-peristiwa besar,
sebelumnya tampak kecil.
Bahkan langit tetap dianggapnya begitu tinggi,
untuk digapai mereka.
 
***
Ar-Razi (h. 26):
 
Selama manusia masih hidup, ia dipermalukan.
Tapi kemalangan yang hebat terasa ketika ia telah tiada.
 
Abu al-‘Ala’ al-Ma’arri (h. 36):
 
Hai manusia! Berapa orbit yang dimiliki Allah
berkeliling padanya bintang-bintang, matahari dan bulan
Mudah bagi Allah melewati kita
dan kita akan ditimpa bahaya bila tergelincir darinya.
 
 
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s