Tak Punya Kata-katamu Sendiri

Original source: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/174/Poetry-of-The-Week-Tak-Punya-Kata-Katamu-Sendiri

Jan 13, ’11 10:29 PM

Tidak punya kata-katamu sendiri…
memandang langit dan itulah ironi.
Sementara, gagak berkaok, “Duh, zaman…
kusantap bangkai, cipratan tawa gemasmu. “
 
Disegel sejuta gembok, lidah digantungi ratapan-ratapan bohong?
Berperang tanpa musuh…
kau bawa ke mana nyanyian sungai air mata dan sesenggukan kodoknya?
Mengail ikan-ikan kurus, menggiringnya dengan umpan-umpan plastik.
 
Itulah ironi, dan kau menjambangi langit?
Bahkan kakinya menendangmu!
Menggulita dengan petir dalam dada?
Sementara, gagak berkaok, “Ganyang… kenyang… ganyang… kenyang…”
 
Tak punya kata-katamu sendiri…
Hatimu tikusmu mencicit, “Cicit… cicit… CIIITTT… CIIIIIIIIIIIIT”
 
Semarang, 14 Januari 2011
 
***
Aku kesal dengan negeri ini, elit politiknya, penegak hukumnya, dan presidennya. Kesal pula pada diri sendiri, aku tak punya mulut berbisa untuk menyerang kebobrokan. Sering kupikir, mengapa mudah membunuhi “teroris” layaknya itu terjadi di film-film aksi? Kupikir, asyik juga bisa membunuhi para koruptor dan penggelap pajak. Kita bisa membuat kisah baru, seperti film-film Barat yang berbau penegakan hukum itu…
 
Aku berpikir, jika dicari siapa si sapu bersihnya, presiden bukan, polisi bukan, hakim bukan, semuanya bukan. Ya, tak punya kata-kata sendiri karena lidah itu sudah disetir oleh ketakutan-ketakutan lantaran begitulah kelakuan hati jika dihadapkan pada kesalahan. Dengan kondisi begini, sepertinya kita perlu bersabar untuk waktu empat tahun ke depan. Sabar menjadi ikan kurus yang teriakan protesnya hanya dipandang layaknya nyanyian kodok. Kita diumpan janji-janji agar diam, sementara pondasi dan bangunan kehidupan kita rontok satu-satu.
 
***
Menunggu, untuk mati dan semua selesai? Salah. Manusia ingin hidup.
Siapa berharap revolusi? Tidak benar jika itu gerak kemarahan belaka.
Ada banyak rupa dan suara yang minta diselamatkan…
 
Ingin punya kata-kata sendiri, karena yakin berkata benar…
Mungkin akan ada saatnya di mana mimpi terwujud satu-satu
Atau… malah semakin jauh.
 
Seperti menyaksikan film yang berakhir dengan kebisuan.
Tokoh utama melambai, sementara kereta menjauh.
Lalu melodi mengalir bersama angin yang menerbangkan debu-debu.
 
Lalu sama tak terlihat dan menyisakan pemandangan besar dunia yang ditinggalkan.
Yang ada adalah diri sendiri
Menekuni saat ini, terpekur.
 
***
Aku membayangkan akhir film Doctor Zhivago yang dulu kutonton sambil terkantuk-kantuk… Saat ini bukan zaman perang di mana orang berurai air mata karena mendengar bunyi bom dan peluru yang berdesing. Tidak ada kereta-kereta yang disesaki pengungsi, orang-orang yang bersembunyi, atau pengemis yang membanjiri jalanan… Yeah, sama-sama butuh makan, tetapi bagaimana bisa hidup kita sebegitu terpengaruhnya oleh geliat dan gelora perang orang-orang yang sibuk dengan jabatan?
 
Jelaskan dengan teori ekosistem Breufenbrenner! (Tenang, itu bukan soal ujian :D)
 
Ingin, tidak perlu bisa menjawabnya. Sayangnya, iya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s