Tatkala Aku Sudah Tua

Original source: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/140/Poetry-of-The-Week-Tatkala-Aku-Sudah-Tua

Oct 17, ’10 9:16 PM

PS: Sorry, bagi siapa pun yang menciptakannya. Izinkan aku mengabadikan puisi indah ini dalam blog-ku ya…
 
***
Tatkala Aku Sudah Tua
Alih bahasa: Wen Jun (Solo)
 
Tatkala aku sudah tua, bukan lagi aku yang dulu
Harap mengertilah sedikit, sabarlah padaku
tatkala kutumpahkan sup sayur di bajuku
Tatkala kulupa bagaimana mengikat tali sepatuku
Ingatlah, semula aku mengajarimu satu demi satu
 
Tatkala aku mengulang kata-kata yang bagimu membosankan
Dengarlah baik-baik, jangan memotong kata-kataku
Saat kau masih kecil, aku berkali-kali mengulang dongeng-dongeng itu
Hingga kau tertidur lelap
 
Saat aku membutuhkan kau membantuku mandi
Jangan memarahiku
Masih ingatkah saat kau masih kecil
Aku dengan segala upaya membujukmu mandi
 
Saatku tak paham dengan teknologi modern
Jangan menertawaiku
Pikirkanlah semula aku dengan sabar
Menjawa setiap apa yang kau tanyakan
 
Saat kedua kakiku tak mampu berjalan karena kelelahan
Tolong gandenglah aku dengan tanganmu yang penuh tenaga
Seperti halnya semasa kecil kau belajar berjalan dan aku memapahmu
 
Tatkala aku tiba-tiba lupa pokok pembicaraan
Berilah sedikit waktu untuk mengingat-ingat
Sebenarnya bagiku membahas sesuatu tidaklah penting
Apabila kau di sampingku dan mau mendengarkanku
Aku sudah puas
 
Tatkala kau melihatku semakin tua renta
Janganlah terlalu sedih
Mengertilah diriku
Dukunglah aku seperti saat kau mulai belajar bagaimana menjalani kehidupan
 
Semula kuajarimu meniti jalan kehidupan
Kini kau mendampingiku menyelesaikan perjalanan hingga akhir hidupku
Berilah padaku kasih dan kesabaran
Aku akan membalasnya dengan senyuman
Senyum ini mengkristalkan kecintaanku terhadapmu yang tak terbatas.
 
***
Ini adalah puisi wajib kelas psikogeriatri yang dapat kunikmati ketika mengikuti seminar nasional yang lalu. Ada beberapa teman yang menangis ketika mendengarkan puisi ini dibacakan. But, I am not a melancholis person. Rationally I think, why not to love them (parents and families, every body) in a better way?
 
Mengapa tidak kita semua mencintai orang-orang yang kita kasihi dengan cara yang lebih baik? Kita tidak dapat mencintai secara sempurna. Tetapi mencintai dengan cara yang lebih baik, itu sangat mungkin.
 
Puisi ini indah… tetapi aku mulai berpikir sulit. Apa yang seharsnya diungkapkan lewat puisi jika kau adalah anak dari keluarga yang berantakan? Itulah yang banyak terjadi saat ini. Tidakah terpikirkan? Orantua adalah sumber kebahagiaan bagi anak-anak mereka. Tetapi keduanya bukan malaikat, bahkan dapat bertindak seperti iblis. Kalau begini, what happen next?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s