Tentang Orang-orang yang Lewat

Original source: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/38/Poetry-of-The-Week-Tentang-Orang-Orang-yang-Lewat

Jan 3, ’10 6:29 PM

I

aku hanya orang lelah
yang tak puas pada hari ini
pada akhirnya, aku hanya mengulang mimpi
ingin melihat mentari senja ini
ia yang membelah dunia menjadi merah dan hitam
yang memusingkanku antara tetap tinggal atau tetap berlalu
menunduk atau menengadah
pada akhirnya, aku adalah sebuah bayangan
bayangan yang pernah melintasi jalan ini
 
Angkot, 1 Oktober 2009
 
II
aku melewati jalan panjang menuju sebuah kota
ada jembatan yang kulewati, yang melintasi sebuah laut
di ujung sana ada tujuan, hanya aku bertanya-tanya
apa yang akan membuatku berhenti?
ketika kurasa tidak ada, aku menoleh ke kanan dan kulihat dunia tempat matahari terbenam
hari akan mati… lalu bintang-bintang akan turun
 
Kelas, 13 Mei 2009
 
III
Tidak wajar diperingati jika tidak ada yang bisa diingati.
Mengingati ilusi?
Lupa detik waktu berganti?
Sebentar lagi pagi, lalu malam lagi.
Tak punya bukti, jangan tunjukkan diri.
 
Malu pada dunia.
Jadi manusia tidak bisa apa-apa.
Apa kau makhluk yang sekadar lewat saja?
Mencari tempat yang tidak ada.
Rumah, 31 Desember 2009
 
***
Tentu saja, dengan sudut pandang seperti itu, “orang-orang yang lewat” bisa diinterpretasikan sebagai “aku” pembaca. Coba baca dengan sudut pandang itu. Entah kenapa, bahkan oleh aku sendiri, meskipun kita membaca tulisan dengan sudut pandang “aku”, kita berpikir itu tentang diri si penulis. Dengan begitu, itulah ungkapan hati penulisnya, kita akan tahu seperti apa dirinya.
 
Puisi “Tentang Orang-Orang yang Lewat” selesai hari ini, tetapi aku memulainya setengah tahun yang lalu. Imajinasi kesukaanku adalah tentang orang yang bersepeda melintasi jembatan ketika hari senja, maka muncullah puisi ke dua. Puisi pertama lahir pada waktu aku benar-benar lelah fisik dan psikis, pulang dari kampus sangat terlambat. Sepanjang jalan tirai gelap sudah turun dan yang terakhir kuinginkan saat itu melihat matahari yang terbenam yang membuat langit terlihat warna-warni. Puisi terakhir kubuat untuk memperingati tahun baru 2010. Anggap saja, puisi ini adalah kenang-kenangan tahun 2009 yang sudah lewat.
 
Tahu tidak, betapa banyak hal yang lewat di dunia ini. Tidak hanya hal-hal yang konkret, hal-hal yang abstrak pun lewat. Artinya, segala sesuatu punya masa. Ada awal pasti ada akhir, akhir adalah awal dari sesuatu yang baru. Semuanya begitu. Begitu pula manusia. Sayangnya, adalah manusia, makhluk yang paling ingin dianggap, diperhatikan, diketahui, diingati satu sama lain. Kupikir, masalah melewati dan dilewati dalam lingkup ruang dan waktu menjadi sesuatu yang serius. Itulah yang membuat manusia memikirkan eksistensinya dan hidup untuk itu. Apakah ada manusia yang begitu ikhlasnya hidup tanpa memikirkan eksistensinya dengan kata lain hidup untuk dirinya sendiri dan membiarkan waktu berlalu, berlalu, berlalu sampai berakhir? Apakah dia mayat hidup?
 
Karena aku hidup, kita semua hidup, terimalah hidup: masa lalu yang buruk, kelelahan, kegagalan, duka… Kebahagiaan, hidup yang baik, suka cita, semuanya ada karena mereka. Manusia datang, manusia pergi, manusia yang berlalu, mereka akan muncul untuk berlalu di tempat yang lain. Aku lelah hari ini, tetapi besok tidak. Aku bahagia hari ini, semoga besok juga. Semuanya butuh proses dan aku harus tetap berjalan melalui jalan yang kuhadapi, bukan berhenti atau memutuskan melompat keluar jalur atau terjun ke laut.
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s