The Diary of Anne Frank

Original source: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/39/Topic-of-The-Week-The-Diary-of-Anne-Frank

Suatu hari kita berjalan-jalan di atas bumi__lalu pada hari berikutnya kita mati dan hilang.” 
Hamlet
 
Buku dibeli tahun 2008 yang lalu ini akhirnya selesai kubaca beberapa hari yang lalu.
 

Susah sekali menyelesaikannya. Aku hampir-hampir tidak menemukan point-nya. Apakah karena buku ini adalah sebuah diari? Kalau begitu, memang bisa diterima kalau sedikit membosankan. Hidup manusia memang terkadang membosankan dan terlihat membosankan. Tentang Anne Frank, pada awalnya demikian, tetapi ketika aku sudah mulai memahami jalan cerita buku ini… perasaanku campur baur antara tidak memandang serius kisahnya dan rasa kasihan yang mendalam.
 
 
“Kamu tidak dapat merasakan hidup tanpa menyadari bahwa kamu nantinya harus mati, sama mustahilnya bagi kita untuk menyadari bahwa kita harus mati tanpa memikirkan betapa menakjubkannya hidup itu.” (Dikutip dari Dunia Sophie)
 
Begitulah yang, menurutku, dipikirkan Anne pada akhirnya. Pada tulisan awalnya ia begitu fokus menceritakan konfliknya dengan orang lain, cara pandang yang agak self-centered. Baru kemudian berangsur-angsur kehidupan di Secret Annex yang menyedihkan (bersembunyi dari “para pemburu Yahudi” selama 2 tahun) membuatnya berpikir sesuatu yang lebih besar; kehidupan orang lain, kehidupan di luar penjara, kehidupan di masa depan, cita-cita, selain tentu perasaan dan kehidupannya sendiri. Pada awalnya ia menunjukkan ketidapuasannya pada hidup, lama-lama hal itu mereda. Dengan cara pikir yang berbeda, sesuatu yang buruk dapat dilihat dengan cara yang lain bahkan disyukuri. Tidakkah itu mengangumkan? 
 
Aku sendiri tidak bisa membayangkan seandainya aku yang berada di posisinya atau hidup di tahun 1942 – 1944. Aku hanya berusaha berpikiran baik; aku bukan Yahudi, aku bukan orang yang diburu-buru untuk menerima hukuman mati, aku bukan korban perang, aku hidup bebas, dan lihat, aku punya pendapatku sendiri hari ini! Di luar segala debat apakah itu holocaust atau bukan, aku hanya sadar perasaanku bermain dan berkata, “Kamu sedang merasa kasihan.” Di luar segala debat apakah ceritanya dibuat-buat, dilebih-lebihkan, aku hanya berpikiran itulah manusia yang sedang berusaha mengekspresikan dirinya di tengah hidup yang penuh tekanan. Tidak salah jika seseorang melebih-lebihkan sesuatu dalam jurnalnya, sama seperti kita yang juga sering melebih-lebihkan kejadian-kejadian dalam hidup kita, entah kita sadari atau tidak.
 
“Biarkan segalanya cepat terjadi, bahkan serangan udara sekalipun. Tidak ada yang lebih menghancurkan daripada kegelisahan ini. Biarkan kiamat datang, meskipun menyakitkan; paling tidak kita akan tahu nanti apakah kita menjadi pemenang ataukah menjadi orang-orang yang kalah.” (hal. 444)
 
Aku diajari cara “baru” memandang masalah yang bagitu  berat. Bagaimana menganalogikannya… apakah kau pernah merasa kau sedang ditakdirkan untuk menjadi sesuatu melalui hidup yang begini (kehidupan saat ini)? Atau_”orang yang tangguh akan mendapat (dan mencari) tantangan yang lebih besar dalam hidup dibandingkan pengecut”_karena itu ia menjadi orang yang berbeda? Aku jadi berpikir hidup bukan masalah besar karena masalah sebenarnya adalah bagaimana kau menyikapi hidup sehingga hidup menjadi “alat” untuk menjadikanmu manusia yang mengagumkan di masa depan. Aku mungkin menyinggung kecenderungan banyak orang yang tidak menemukan urgensi masa kini, suka dan dukanya. Semuanya dibiarkan mengalir tanpa sadar semua itu akan bermuara di suatu titik dengan terlalu mengharapkan suka dan memandang sebelah mata duka.
 
Aku mendapatkan pikiran di atas karena membaca salah satu bagian diari yang bunyinya begini:
 
“Aku sering merasa sedih, meski tidak pernah putus asa. Aku menganggap kehidupan kami di dalam persembunyian sebagai pengalaman yang menyenangkan, penuh dengan bahaya sekaligus romantika… Aku telah mengarahkan pikiranku pada kehidupan yang berbeda dari gadis-gadis lainnya, dan kelak tidak akan tumbuh menjadi ibu rumah tangga biasa. Apa yang sedang aku alami di sini adalah permulaan yang bagus bagi kehidupan yang menarik, dan itulah alasannya_satu-satunya alasan_mengapa aku harus tertawa pada sisi-sisi humoris dari momen-momen yang sangat berbahaya.” (hal. 406)
 
Sikap positif menghadapi kehidupan yang berat tidak dimiliki semua orang, bukan? Kita tidak salah karena merasa sedih, itu manusiawi. Tapi, apakah manfaat dari kesedihan itu? Apakah itu membuatmu bergerak untuk mencapai sesuatu atau malah menjadikanmu terpuruk dan kaku seperti mayat? Kembali, itu pilihan atas cara pandang hidup.
 
Hal yang paling membuatku terharu sekaligus bersedih adalah, bersama dengan pemikiran Anne, aku berpikir betapa manusia selalu berseteru dengan isu kebebasan. Keinginan akank ebebasan itu seperti angkasa yang tidak berbatas: ketika bebas pada level yang satu, kau ingin bebas pada level yang lain. Kita ingin bebas dari kerangkeng fisik, kita ingin bebas dari peraturan manusia, kita ingin bebas dari pengaruh manusia lain, dan akhirnya yang paling ekstrem, kita ingin bebas menjadi manusia (padahal manusia tidak pernah bebas).
 
Kita semua pernah muak dengan keberadaan orang lain dan orang lain, mungkin pernah muak dengan keberadaan kita. 
 
“… karena ketika semua orang mulai menunggu di dekatku, aku menjelaskan, kemudian sedih, dan akhirnya ditutup dengan hatiku yang bolak-balik ke dalam dan keluar, bagian buruknya di luar dan bagian baiknya di dalam, dan mencoba menjadi cara yang tepat untuk menjadi apa yang aku inginkan dan apa yang aku bisa seandainya… seandainya tidak ada orang lain di dunia ini.” (hal. 488)
 
Tiga hari setelah menulis tulisan di atas, tempat persembunyian Secret Annex terbongkar pada Agustus 1944. Itulah tulisan terakhirnya. Anne dipisahkan dengan keluarganya, bersama kakaknya ditempatkan di kamp konsentrasi di Jerman. Setengah tahun kemudian Anne meninggal dunia karena tipus yang menjadi epidemi pada Februari/Maret 1945. Mayatnya hanya dibuang di pemakaman umum. 
 
Anne tidak tahu bahwa pada April 1945, kamp konsentrasi tersebut dibebaskan. Ia punya kesempatan bebas dan menjadi ibu rumah tangga yang tidak biasa seperti yang dimimpikannya. Tetapi… hari ini hidup, besok kita mati. Kematian tidak pernah menunggu.
 
Kembali tentang kebebasan, aku membayangkan sebuah film dalam kepalaku pada hari persembunyian Secret Annex terbongkar dan penghuninya ditangkap.
 
“Apakah ini karena aku belum keluar untuk waktu yang sangat lama hingga membuatku begitu mencintai alam? Aku ingat, suatu saat langit biru yang cerah, nyanyian burung, cahaya bulan, dan bunga-bunga yang bersemi tidak akan memikatku.
 
Semuanya telah berubah sejak aku tiba di sini.
 
Oh, sungguh kemelaratan yang sia-sia, terlalu banyak cahaya yang menyilaukan dan aku tidak berani menempuh risiko membuka jendela. … suatu malam aku tengah berada di atas, saat jendela itu terbuka. Aku tidak kembali turun ke bawah sampai jendela itu harus ditutup lagi.
 
…itulah kali pertama setelah satu setengah tahun berjalan, aku dapat menyaksikan malam dengan mata kepalaku sendiri.
 
Banyak orang berpikir alam itu indah… dan banyak orang di dalam rumah sakit dan penjara merindukan hari saat mereka kembali bebas menikmati alam yang telah disediakan …kegembiraan sebenarnya dapat dinikmati semua insan, baik si kaya maupun si miskin.
 
Itu bukan hanya imajinasiku; menatap langit, awan, bulan, dan bintang gemintang benar-benar membuatku merasa tenang dan penuh harapan.
 
Seolah menjadi suratan nasib, bahwa aku hanya bisa_kecuali untuk sedikit kesempatan yang jarang_memandang alam dari balik korden yang berdebu yang terpaku di atas jendela dan kotorannya sudah mengering…” (hal. 458-469)
 
Penggrebekan Agustus 1944! Semua penghuni Secret Annex ditahan. Mereka dikeluarkan dengan paksa dan diangkut dengan kendaraan bak terbuka. 
 
Anne berjalan terseok-seok, silau karena  matahari yang sudah dua tahun tidak dirasakannya. Akhirnya… entah kebahagiaan apa yang mungkin, ia melihat alam dan segala warna-warninya. Tangannya diikat dan kamp konsentrasi menanti di depan sana. Sepanjang perjalanan ia merenung… kesedihan, ketakutan, kematian, semua ada di dalam pikirannya, harapan akan kebebasan yang kandas. 
 
Ia menatap langit, inilah keinginannya. Tercapai dengan cara seperti ini.
 
***
 
Penutup… seandainya buku harian itu masih ada bersama Anne sampai detik-detik terakhir kehidupannya, apa yang akan diceritakannya, ya?
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s