The Oldman and The Sea

Original source: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/5/Topic-of-The-Week-The-Oldman-and-The-Sea

Oct 31, ’09 4:39 PM

Yang rajin berkunjung ke toko buku atau cari-cari info tentang buku, mungkin pernah tahu judul buku yang satu ini: The Oldman and The Sea karya Ernest Hemingway (atau jika dibahasa Indonesiakan menjadi Lelaki Tua dan Lautan*). Bukunya tipis dan mungkin tidak akan disangka bahwa buku yang tipis ini memenangkan penghargaan bergensi, Pulitzer tahun 1953 dan Hadiah Nobel tahun 1954. Artinya, buku ini benar-benar bisa memberi kita banyak pelajaran berharga, kan?

Motivasi utamaku memiliki buku ini adalah karena aku sedang mengumpulkan karya-karya sastra yang mendapatkan penghargaan internasional (artinya: bacaan bermutu). Tetapi, bagaimana aku sampai pada buku itu ada ceritanya. Aku memang tertarik dengan buku-buku Hemingway, tetapi kulihat harganya….wow, lumayan. Untungnya, ada yang paling murah di antara semua itu. Lelaki Tua dan Lautan inilah yang termurah.

 
Novella (novel pendek) ini berkisah tentang perjuangan seorang nelayan tua bernama Santiago di hari ke083 ketidakberuntungannya dalam mendapatkan ikan. Dengan keyakinan bahwa ketidakberuntungannya itu akan berakhir, seorang diri ia melaut, bertekad mendapatkan ikan besar.

Santiago berhasil menangkap ikan besar, sebenarnya luar biasa besar. Karena ia seorang diri, ia tidak bisa menaklukan ikan tersebut dan memutuskan menunggu sampai ikan tersebut benar-benar kelelahan sehingga bisa dibunuh. Ikan, dengan kail yang terkait di mulutnya, berenang sambil menyeret perahu Santiago ke tengah lautan. Di tengah lautan, Santiago berjuang melawan si ikan yang juga melawan, melawan kelemahan fisiknya, dan melawan kesendiriannya. Pada hari ke-3, akhirnya ikan tersebut dapat ditaklukannya. Tidak pernah disangka, Santiago menangkap ikan yang sangat besar.

Ikan yang sangat besar itu tidak dapat dinaikkan ke dalam perahu. Maka, ia ikat ikan  tersebut di salah satu sisi kapal. Perjuangannya belum berakhir. Di perjalanan pulang, ia harus mempertahankan tangkapannya dari hiu-hiu yang mengincar ikan tersebut. Pertarungannya dengan hiu sangat berat, terutama karena ia hampir-hampir tidak bersenjata. Ia akhirnya harus merelakan ikan tangkapannya yang luar biasa itu tercabik sepotong demi sepotong oleh hiu dan hanya menyisakan kepalanya sesampainya ia di pelabuhan.

Begitulah singkat cerita… Agak sedih mengetahui ia tidak mendapatkan ikannya. Tetapi, sangat membahagiakan mengetahui ia berhasil mendapatkan ikan terbesar yang pernah ditangkap nelayan, terutama pula ketika ia sendiri tidak tahu bahwa ia berhasil juga membunuh seekor hiu besar. Ia tidak tahu, sementara para nelayan dan turis tahu bahwa ada bangkai hiu yang mengapung di dekat dermaga! Ending seperti itu membuatku ingin cepat-cepat membangunkan Santiago dan mengabarkan bahwa ia tidak perlu sedih, ia sudah mengalahkan seekor ikan besar lainnya.

Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari membaca karya yang satu ini. Intinya:

JANGAN MENYERAH PADA KETIDAKBERUNTUNGAN, tentu saja itu karena kita tidak tahu kapan ketidakberuntungan akan berakhir atau kapan keberuntungan dapat terjadi. Ketika kita berani memutuskan suatu tindakan, yakin dan bertindaklah dengan sungguh-sungguh dan jangan berandai-andai tentang sesuatu yang tidak terjadi. Keyakinan adalah power tersendiri bagi terwuudnya suatu harapan.

JAGALAH KEJERNIHAN PIKIRAN, karena hanya dengan berpikir jernihlah jalan keluar atas masalah bisa kita dapat. Seperti air yang menemukan celah untuk mengalir di antara bebatuan, kalau kita bisa menjaga kejernihan pikiran, solusi akan senantiasa ada di depan mata kita.

Ada banyak pelajaran lain, tetapi… bacalah sendiri kisah ini, kawan. Kisah yang indah ini, jangan dilewatkan!

*Lelaki Tua dan Lautan. Selasar Surabaya Pub, 2008.

 

Sekilas tentang author The Oldman and The Sea

Ernest Hemingway

(Gambar diambil dari jfklibrary.org)

Ernest Hemingway (1899 – 1961) lahir di Oak Park, Illinois, memulai kariernya sebagai penulis di sebuah surat kabar di Kansas pada usia 17 tahun. Setelah AS terlibat dalam Perang Dunia II, ia bergabung menjadi sukarelawan dalam unit medis pada angkatan perang Italia. Ketika bertugas di garis depan, ia terluka dan menghabiskan beberapa waktu di rumah sakit. Sekembalinya ke Amerika, ia menjadi reporter bagi koran Kanada dan Amerika dan segera dikirim kembali ke Eropa untuk meliput peristiwa, seperti Revolusi Yunani.

 Pada usia 20an, Hemingway menjadi anggora kelompok ekspatriat Amerika di Paris, yang ia deskripsikan dalam karya pertamanya, The Sun Also Rises (1926). Karya yang juga sama suksesnya adalah A Farewell to Arms (1929), suatu studi tentang kekecewaan seorang petugas medis dan perannya sebagai desertir. Hemingway menggunakan pengalamannya sebagai reporter selama perang sipil di Spanyol sebagai latar belakang novel ambisiusnya, From Whom the Bell Tolls (1940). Di antara karya-karyanya yang terakhir, yang paling luar biasa adalah The Old Man and The Sea (1952), yaitu kisah tentang perjalanan seorang nelayan tua, perjuangan yang panjang dan sendirian menghadapi seekor ikan dan lautan, dan kemenangannya dalam kekalahan. Karya inilah yang memenangkan Pulitzer tahun 1953 dan Nobel Prize tahun 1954 atas keunggulannya dalam seni narasi.

 Hemingway meninggal dunia di Ihaho tahun 1961.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s