To Kill The Mockingbird

Original source: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/12/To-Kill-The-Mocking-Bird

Tulisan kali ini melanjutkan tulisanku sebelumnya tentang novel Harper Lee “To Kill The Mocking Bird”.
 
Novel ini kubaca tak ada seminggu, ketika ada waktu luang, sambil makan sekalipun, aku membawa novel ini bersamaku. Di angkot, di jalan yang bergelombang-gelombang itu… Di kelas, aku nekad baca di hadapan dosen. Tapi nggak ditegur kok… Aku buru-buru ingin selesaikan baca novel ini karena ingin segera kubagi-bagi isinya untuk teman-teman sekalian. Mumpung, momen sedang tepat.
Jadi ingat kasus cicak vs buaya, kan? Begitulah… BTW, cicak itu kepanjangannya apa sih?
Menulis ini, mau tak mau ingat komentar-komentar keluarga di rumah soal kasus yang sedang booming ini. Gemes! Sebenarnya, begini-begini, kita punya kesempatan untuk menulis novel dengan nada sejenis, lho…^^’ Bersemangatlah! Mungkin jalan ke sana masih jauh…
Ada yang penasaran bagaimana ceritanya?  Mengingat pada pengalamanku sendiri… ada temanku yang bilang ceritanya agak membosankan. Yang benar saja?! Jadi, kita mulai saja sekarang!
Diawali dengan rasa penasaran Jem Finch, Scout Finch dan sahabat mereka, Dill, pada tetangga sebelah rumah mereka, Boo Radley anak keluarga Radley. Boo dianggap gila dan menakutkan. Keluarga Radley dikenal oleh warga kota sebagai keluarga yang aneh, mengisolasi diri dan tidak mau bergaul layaknya warga kota lainnya. Mereka kemudian menyusun suatu “keisengan”, taktik, bagaimana membuat Boo keluar rumah (dalam pikiran anak-anak, keadaan di luar rumah tentu sangat mengasyikan!)
Ayah mereka, Atticus, seorang pengacara yang dihormati, mengetahui keisengan ini. Dari pengalaman ketahuan ini, anak-anak itu kemudian belajar untuk memahami posisi orang lain, sekalipun mereka tidak paham pada waktu itu.
Tak disangka dan tak diketahui oleh anak-anak itu bahwa Boo ternyata sangat baik pada mereka. Diam-diam Boo memberi mereka hadian lewat sebuah lubang di pohon: permen karet, boneka sabun, jam tangan rusak… Menjahitkan celana Jem yang sobek karena tersangkut pagar rumah Radley pada malam mereka berbuat jahil… Menyelimuti Scout (diam-diam) ketika Scout dan Jem menyelamatkan diri dari musibah kebakaran yang menimpa tetangga mereka pada suatu musim dingin… dan yang terakhir, menyelamatkan Jem dan Scout dari seorang pembunuh! Bagaimana bisa?
Ini terkait dengan kasus yang ditangani ayah mereka, kasus Tom Robinson, pria kulit hitam yang dituduh memperkosa seorang gadis kulit putih dari keluarga Ewell. Keluarga Ewell tidak disukai oleh penduduk kota lantaran perilakunya yang buruk. Atticus berusaha keras meluruskan semua hal: kasus dan prasangka rasial yang dimiliki penduduk kota. Secara logis ia membuktikan bahwa Robinson tidak bersalah, Mr. Ewell-lah yang salah. Mr. Robinson-lah yang memfitnah lantaran tidak ingin penduduk kota tahu bahwa semua masalah ini dimulai dari anaknya sendiri, Mayella. Sebagaimana keluarga Ewell yang lain, penduduk kota menghormati mereka. Mayella yang kesepian (sepertinya) menaruh simpati pada Robinson yang baik hati, yang selalu mau membantunya melaksanakan pekerjaan rumah tangga yang berat secara sukarela. Ayahnya yang mengetahui tindakan Mayella marah besar, maka untuk menutupi masalah ini, Mayella berbohong.
Setelah kebenaran dibeberkan, sekalipun Robinson pun tetap dinyatakan bersalah (karena kecenderungan rasial, tak pernah ada sebelumnya orang kulit hitam memenangi kasus atas orang kulit putih), Mr. Ewell tetap menaruh dendam pada Atticus. Pada malam festival di sekolah Jem dan Scout, di perjalanan pulang yang melewati jalan yang gelap, mereka dicegat dan terancam dibunuh oleh Mr. Ewell yang berpisau. Scout selamat karena terlindungi oleh kostumnya, sementara itu Jem mengalami patah tangan karena bergumul dengan Mr. Ewell untuk menyelamatkan adiknya. Akhir semua itu terungkap, Boo-lah yang menyelamatkan mereka dari Mr. Ewell. Boo yang membopong Jem pulang ke rumah. Sungguh baik hati Boo yang selama ini kedua anak itu anggap menyeramkan.
Novel yang sangat menyentuh… aku tak bisa menggambarkannya dengan mendetail, sayangnya. Bersama dengan kedua kakak-beradik, Jem dan Scout, aku ikut belajar tentang moralitas, keadilan, persamaan hak manusia, bagaimana memahami orang lain… Sebagai pembaca, rasanya aku sama seperti anak-anak itu, mendengarkan nasihat Atticus. Aku juga membayangkan bagaimana rasanya menjadi Atticus, seorang ayah, orang tua tunggal yang berusaha menjadi ayah terbaik untuk anak-anak mereka. Ia berusaha memegang kata-katanya sendiri, berusaha seideal mungkin, tetapi tetap menjaga kebebasan berpendapat di dalam rumah. Tidak salah anak-anaknya menjadi agak jahil, terutama Scout, gadis kecil yang berpenampilan seperti anak laki-laki, tetapi mereka tetap menurut dan sangat menyayangi ayahnya.
Pantas sekali novel ini mendapatkan penghargaan Pulitzer dan terjual jutaan kopi. Nah, mau tahu sosok di balik tokoh ini?
Dialah Nelle Harper Lee.

 
 
Ia lahir di Monroeville, Alabama, pada 28 April 1926. Ia anak termuda dari keempat anak Amasa Coleman Lee dan Frances Cunningham Finch. Ayahnya yang sebelumnya adalah seorang editor dan pemilik surat kabar, adalah seorang pengacara di daerah Alabama
 sejak tahun 1926 sampai 1938. Sejak kecil, Lee adalah gadis yang tomboy dan suka membaca.
 
Setelah lulus dari sekolah menengah di Monroeville, Lee mendaftar di Huntington College dan mengejar sarjana hukum di Universitas Alabama (1945 – 1949). Ia menulis beberapa tulisan dan menjadi editor bagi majalah humor di kampusnya, Rammer Jammer. Sekalipun ia tidak menyelesaikan sekolah hukumnya, pada musim panas di Oxford, Inggris, sebelum pindah ke New York pada tahun 1950 di mana ia bekerja sebagai clerk. Ia hidup dengan hemat di apartemen sederhana dan bolak-balik ke Alabama untuk merawat ayahnya.
Setelah menulis beberapa cerita panjang, ia menemukan seorang agen pada tahun 1956. Ia menyelesaikan To Kill a Mockingbird pada musim panas 1959 sebagai suatu tugas mengisi satu tahun libur untuk menulis apa saja. Diterbitkan 11 Juli 1960, To Kill a Mockingbird menjadi sebuah buku terlaris dan memenangkan pujian kritis besar, termasuk Penghargaan Pulitzer untuk Fiksi pada 1961. Ini tetap menjadi buku terlaris dengan lebih dari 30 juta eksemplar. Pada tahun 1999, ia terpilih sebagai “Best Novel of the Century” dalam jajak pendapat oleh Library Journal.
 
Pada 5 November 2007, ia menerima penghargaan Presidential Medal of Freedom oleh Presiden George W. Bush di Gedung Putih. The Presidential Medal of Freedom adalah penghargaan sipil tertinggi di Amerika Serikat bagi orang-orang yang telah membuat “sumbangan yang sangat berjasa bagi keamanan atau kepentingan nasional Amerika Serikat, perdamaian dunia, budaya atau penting lainnya upaya publik atau swasta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s