Woman

Original source: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/205/Poetry-of-The-Week-Woman

Mar 16, ’11 11:51 PM

Syair ini sepanjang tahun diulang-ulang dalam kuliah psikologi keluarga, tentu sebagai pengingat bagi siapa saja yang mendengarkannya tentang hubungan antara pria dan wanita.
 
The woman,
was made of a rib out of the side of Adam;
not made out of his head to rule over him,
not out of hif feet to be trampled upon by him,
but out of his side to be equal with him,
under his arm to be protected,
and near his heart to be beloved.
 
Meskipun dikatakan sebagai syair, sebenarnya kalimat-kalimat di atas tidak dimaksudkan demikian untuk penciptanya. Kalimat tersebut dikemukakan oleh seorang pendeta bernama Matthew Henry (1662-1714) sebagai suatu tafsiran atau ulasan atas ayat Bibel, yaitu Genesis 2: 21-22 tentang penciptaan Adam dan Hawa yang berasal dari tulang rusuk Adam. 
 
Ketika syair tersebut disampaikan di kelas, disinggung pula permasalahan seputar emansipasi wanita (usaha mendapatkan hak politik maupun persamaan derajat bagi wanita. Dijelaskan bahwa sesungguhnya emansipasi sebenarnya tidak benar karena pada dasarnya wanita dan pria diciptakan secara ekual, setara. Yang jadi masalah menurutku adalah beberapa orang menyalahartikannya secara berlebihan, apalagi yang berkaitan dengan agama, karena pendapat yang ada cenderung menakut-nakuti. 
 
Emansipasi wanita ada karena adanya wanita yang dizalimi, dan sense of dizalimi ini sifatnya relatif. Inilah yang orang kurang jeli dalam melihatnya. Di satu sisi secara ekstrem melawan agama, di sisi yang lain secara ekstrem melawan pembaruan. Keduanya punya pandangan ideal masing-masing dan saling memerangi, juga membingungkan banyak orang. Keduanya lupa bahwa terdapat banyak wilayah abu-abu dalam kehidupan ini yang dari berbagai sudut pandang dapat salah maupun benar. 
 
Maka dari itu, mari kita berpikir. Sekarang bukan zamannya lagi wanita terkurung dalam rumah. Jika ia mampu berbuat lebih untuk dunia yang lebih baik, itulah amalnya. Namun demikian, berperilaku bukannya tanpa etika dan moral. Biarkan nurani yang berbicara dan dia akan tahu apa yang menjadi prioritasnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s