Nasihat untuk Sebuah Kedewasaan

Original post: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/74/Nasihat-untuk-Sebuah-Kedewasaan

Jika kau tidak bisa menasihati dirimu sendiri, maka dunia yang akan menasihatimu.
 
Kalimat di atas sama saja seperti…
 
Jika kau tidak bisa keras dirimu sendiri, maka dunia yang akan keras padamu.
 
Atau…
 
Jika kau tidak bisa menghukum dirimu sendiri, maka dunia yang akan menghukumu.
 
***
Demikianlah perjalanan hidup di mana setiap orang saling nasihat-menasihati. Di dunia ini kita akan tahu orang-orang yang suka sekali menasihati kita: ibu, bapak, kakak, kakek, nenek, bu guru, pak guru, atau orang yang tidak kita kenal di jalan yang tiba-tiba saja bilang, “Woi! Mata kamu di mana?!” Nah, yang itu terjadi kalau kita meleng waktu naik motor 
Seberapa banyak dari nasihat itu yang membuat kita sakit hati??? Huhu… banyak. Banyak yang bikin dongkol, sakit hati, kuping panas, sampai nangis-nangis. Bagi kebanyakan orang mungkin memandang hal-hal yang membangkitkan emosi negatif  sebagai sesuatu yang tidak manusiawi dan tidak pantas dilakukan pada kita. Sekalipun itu nasihat, kita semua ingin nasihat itu disampaikan dengan cara yang baik alias tidak keras. Tapi, apakah kita pantas mendapatkan nasihat yang penuh kelembutan itu kalau… itu sudah nasihat yang sama yang ke-1000 kalinya? Tentu saja, ibumu tidak akan berteriak-teriak menyuruhmu shalat kalau di perintahnya yang pertama kamu langsung menjalankannya.
 
Aku baru sekarang menyadari bahwa kerasnya nasihat yang diberikan kepada  manusia sebanding dengan kekeraskepalaannya sendiri. Nasihat-nasihat yang keras ini boleh saja kalian sebut sebagai peringatan bahkan hukuman. Tetapi, kenapa kusebut ini sebagai nasihat? Itu karena seberapa pun beratnya peringatan, hukuman bahkan azab, atau seberapa penuh kasihnya suatu ucapan, semua itu memiliki nilai untuk sebuah kedewasaan yang tidak dapat diabaikan.
 
Semua orang membawa PR kedewasaan dalam hidupnya. Kedewasaan bukan masalah seberapa tua usia kita. Kedewasaan adalah suatu misteri, suatu status yang tidak pernah jelas apakah kita pernah benar-benar mencapainya, tetapi kita mati-matian mencapainya. Apakah kita benar-benar sadar sedang berusaha mencapainya? Atau kita hanya berbuat tanpa tahu apa maknanya bagi hidup kita?
 
Pernahkah teman-teman mendapatkan nasihat untuk kedewasaan teman-teman? Aku pernah mendapatkannya. Sejak nasihat itu diberi, aku masih mengingatnya, tetapi barulah akhir-kahir ini aku memahami apa maknanya bagi kedewasaanku sendiri. Orang dewasa adalah orang yang tahu dan melakukan apa yang harus ia lakukan, mau atau tidak mau. Sederhana sekali, bukan? Kupikirkan itu hampir enam tahun lamanya, dan kubuktikan melakukannya lebih sulit daripada sekadar memahami redaksinya!
 
Ketika pekembangan diri kita sudah sedemikian sempurnanya sehingga kita tahu mana yang benar dan mana yang salah alias sudah baligh atau dewasa, kita yang normal akan tahu bahwa ada hal-hal yang harus dilakukan atau harus ditinggalkan, suka atau tidak suka, mau atau tidak mau. Kalau hari sudah pagi kita harus bangun, lalu berangkat sekolah atau kuliah, di kelas harus belajar sungguh-sungguh, waktunya ibadah ya ibadah, waktunya makan ya makan, waktunya istirahat ya istirahat, dan sebagainya. Ada baiknya ikut organisasi? Ikut… Ada baiknya menjalin hubungan akrab dengan teman? Berteman… Ada baiknya mendahulukan keluarga daripada teman? Dahulukan keluarga… Waktunya ujian? Ujianlah yang serius… dan sebagainya. 
 
Sebagian besar orang tahu apa yang harus dilakukan dalam hidupnya. Ketika seseorang melakukan apa yang harus ia lakukan, sesungguhnya ia sudah membuat keputusan besar dalam hidupnya: ia sudah mengembangkan kedewasaannya, yaitu ketika keharusan itu adalah demi hidupnya sendiri, bukan hidup orang lain. Inilah pilihan. Maka, kedewasaan sangat berkaitan dengan sejauh mana kita mampu membuat pilihan-pilihan besar dalam hidup, pilihan-pilihan yang harus, pilihan-pilihan yang membutuhkan pengorbanan dan konsekuensi, pilihan-pilihan yang membutuhkan suatu komitmen.
 
Menjadi dewasa itu bukan hadiah dari langit, tetapi layaknya pohon yang tumbuh di bumi sejak ia berwujud bibit. Kita menyemainya, memupuknya, menggemburkan tanah-tanah di sekitarnya, menyiraminya, dan membiarkan sinar matahari menyinarinya. Akan ada saatnya di mana ia menjadi pohon raksasa, tetapi kebesaran sosoknya ia dapatkan dengan penuh suka cita, bukan keterpaksaan. Itulah kedewasaan, ketika keputusan ada di tanganmu.
 
Sesungguhnya menjadi orang yang menua adalah sesuatu yang menyedihkan ketika masih saja hidup disetir oleh keadaan, bukan oleh tujuan hidup kita sendiri. Ketika langkah kita masih diarah-arahkan orang, masih dikendalikan oleh keadaan, tersapu oleh arus, hidup dengan kehendak yang minimal… Itulah neraka. Kita semua sama-sama berjuang pada akhirnya, tetapi rasa perjuangan itulah yang berbeda. Kita sama-sama tersenyum dan berduka, tetapi rasanya akan berbeda antara yang dewasa dan yang tidak. 
 
Nah, di akhir, maukah kita menerima kedewasaan itu dengan penuh rasa syukur, tanggung jawab, dan hati yang lapang? Artinya, jika kita harus menerima nasihat, baik berupa cacian atau tempelengan yang menyadarkan kita dari setiap kesalahan kita, kita akan menerimanya tanpa keluh kesah atau balas mencaci pemberinya. Artinya, jika kita harus bersusah payah mencapai cita-cita, kita akan berkomitmen untuknya. Artinya, jika kita harus hidup miskin, kita tetap menjaga hati kita tetap kaya. Artinya, jika kita harus menerima konsekuensi negatif atas kesalahan, kita mau menjalaninya. Artinya, ketika kita harus memilih jalan hidup, kita memilihnya dengan penuh keberanian menjalaninya.
 
Yang terakhir: tetap, selamanya, kedewasaan itu misteri. Jika kita harus bertanya tentangnya, maka tugas kita adalah harus menemukan jawabannya. Semakin kita tidak bisa mengharuskan diri kita, dunia yang akan mengharuskannya untuk kita. Daripada nanti kita tidak rela dipelintir, belajarlah untuk rela memelintir diri mulai hari ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s