Pesan untuk Guruku

Original post: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/73/Note-of-The-Week-Pesan-untuk-Guruku

 

Gara-gara belajar buat ujian besok aku jadi punya ide ini. Sebelumnya, terima kasih kepada Pak Gary Niels atas esainya yang dapat dengan mudah kubaca di internet.
Ternyata ada yang namanya integritas akademik. Yeah, kita paham apa itu integritas. Semua orang ingin menjadi sosok yang penuh integritas. Dan tahukah, hal apa yang dapat menciderainya? Ketidakjujuran. Dan hal apa yang dapat memeliharanya? Kejujuran. Mengapa harus jujur? Karena dengan jujur ini kita menjadi orang-orang yang dapat dipercaya. Dengan menjadi orang yang dapat dipercaya, kita menjadi orang dengan banyak pintu kesempatan yang terbuka, apakah itu kesempatan menjalin persahabatan, mendapatkan pekerjaan, relasi sosial yang baik, dan sebagainya.
Nah, siapakah orang-orang yang membentuk kita untuk menjadi sosok yang berintegritas? Kita semua tahu, orang itu adalah guru kita di sekolah, sejak SD sampai bangku kuliah. Merekalah yang sikap dan perilakunya menjadi teladan bagi kita. Mau tidak mau, mereka harus “sempurna”, itulah konsekuensi menjadi orang yang setiap hari berbicara di hadapan para siswanya tentang hal-hal yang ideal dalam hidup.
Bu guru, pak guru… tahu tidak? Sering sekali para murid kecewa pada Anda semua. Kami tidak mengharapkan ada malaikat di hadapan kami, tetapi setidaknya orang baik yang tidak akan mengajari kami cara-cara melanggar moralitas dan agama. Jika kami lemah, kami berharap Anda menjadi benteng pertahanan bagi kami, dan bukan ikut-ikutan lemah. Jika kami sedih, Anda tersenyum bagi kami. Jika kami dihadapkan pada cita-cita, Anda mendorong kami dari belakang, tetapi… seringnya, “di situlah mejamu dan kami duduk di sini”, “itulah waktumu dan kami punya waktu kami sendiri yang tak ada hubungannya dengan kamu”. Bu guru dan pak guru lupa kalau kami menyaksikan semua gerik-gerik ibu dan bapak. Bu guru dan pak guru tidak tahu bahwa ada saat-saat di mana kami membicarakan Anda semua lantaran kami kecewa, mengapa begitu… Yeah, sebagai murid kami butuh semangat hidup dan lama-lama, sepertinya, hampir tidak ada orang di sekolah yang dapat menjadi sumber inspirasi bagi hidup yang baik.
Tidak salah jika kemudian Gary Niesl mengatakan:
“Mengajar adalah lebih dari sebuah profesi, melainkan suatu panggilan. Ini adalah sebuah panggilan karena tidak hanya menuntut keterampilan yang harus dikuasai dan pengetahuan tentang disiplin, tetapi juga kehidupan etis yang mengilhami para orang muda untuk menjalani hidup dengan baik.”
Benarkah menjadi guru adalah sebuah panggilan? Jika karena kelakuan ibu dan pabak guru sekalian yang tidak punya integritas, hidup dan masa depan kami tidak dipercaya orang karena sama tidak punya integritasnya karena meneladani Anda… Ini panggilan neraka karena mungkin yang ada di pikiran Anda semua bukan pengabdian, tetapi hanya pekerjaan yang menghasilkan uang. Anda sedang berpikir tentang profesi dan karier Anda, berpikir kapan dapat mencapai kedudukan ini, kapan dapat punya ini dan itu, dan sebagainya. Semoga Anda semua tidak berpikir bahwa hidup Anda hanya menjadi penyambung asa pribadi Anda. Ada asa orang lain, anak-anak sampai orang dewasa, yang beriringan dengan hidup Anda.
Kami tidak berharap bu guru dan pak guru menjadi malaikat. Setidaknya, jadilah orang baik yang membuat kami generasi muda dengan penuh kemantapan hari mampu melangkah di dunia yang semakin keras. Pada intinya, kita semua bercermin untuk mengetahui pada bagian hidup yang mana kita semua melakukan kesalahan.
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s