Air Mata Pak Presiden

Original post: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/145/Air-Mata-Pak-Presiden

Oct 22, ’10 9:58 PM

Apa sih artinya menitikkan air mata? Aku kasihan sama Pak Preside kita. Sudah capek-capek menitikkan air mata, kok sambutannya seperti yang diberitakan ini ya:
Liputan06.com. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tiba-tiba menitikan air mata saat berpidato pada puncak peringatan 50 tahun Agraria Nasional di Istana Bogor, Jawa Barat, Kamis (21/10). Keprihatinan Presiden diutarakan setelah 10 perwakilan petani secara simblolis mendapatkan tanah dari negara.
 
“Agar rakyat menjadi tuan tanah, menjadi tuan yang memiliki bumi dan air serta kekayaan yang terkandung di dalamnya,” kata Presiden Yudhoyono sambil menitikan air mata. “Maafkan saya terharu.”
 
Untuk kali kesekian Presiden Yudhoyono lagi-lagi mencurahkan perasaannya terhadap barbagai persoalan negara. Tentu menjadi aneh jika Presiden hanya terharu dengan nasib petani. Para petani tentu tak berharap seorang presiden menitikkan air mata, tapi menunggu keputusan atau kebijakan yang memihak mereka. Sebab, karena selama ini para petani cenderung dirugikan oleh kebijakan pemerintah.
Jadi, sia-sia dong air mata Pak Presiden… Tidak menambah citra presiden sejati, tetapi malah diolok-olok. Apa air matanya yang salah tempat?
***
Menurutku, iya, salah tempat. Belajar dari novel epik historis bangsa Jepang, di masa perang, rakyat membutuhkan pemimpin yang garang, kuat, tipikal pengobar semangat perang. Keputusan yang diambil taktis, saling mengadu strategi dengan lawannya. Itu kalau lawannya berwujud orang di zaman perang, lho ya…
Kalau Indonesia sekarang, musuh kita yang paling besar apa coba? Satu saja kata dapat menyimpulkan semuanya: nafsu bejat. Apakah kita butuh pemimpin yang garang, kuat, dan pengobar semangat?? Wah, kita sangat butuh pemimpin yang seperti itu, bahkan ia harus menjadi orang yang paling garang, paling galak, paling tegas, paling kuat, paling teguh, paling tidak terpengaruh, paling gagah menyemangati rakyat, dan paling paling paling lainnya, agar pemerintah tidak menjadi sosok berkuasa yang merugikan rakyat lagi karena dikendalikan oleh orang-orang yang tidak dapat mengendalikan nafsu bejatnya.
Di Indonesia sekarang, hati-hati. Calon atau bahkan pemimpin kita akan mulai menagih simpati tidak hanya dengan janji, tetapi juga dengan obral luapan perasaan. Rakyat semakin dapat apa coba? Mau menggantikan isu rasional perut lapat dengan citra yang semakin emosional, “Presiden kita menangisi rakyat kecil…“. Salah tempat. Salah negara!!! Indonesia tidak butuh tambahan air mata. Air mata rakyat sudah jadi banjir di mana-mana.
Air mata pak presiden… tetap saja, aku tidak paham maunya apa.
Cuma setitik lagi… Signifikansinya apa? Perbedaannya apa sebelum dan setelah pak presiden menangis?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s