“Angela’s Ashes” Frank McCourt

Aku tidak paham apa makna dari judul novel ini. Aku mencoba menjalaninya selembar demi selembar dan aku dapat menyimpulkan, benar, ini kisah yang sangat indah dan jujur. Aku menghargai apa itu hidup, salah satunya, lewat novel ini.
 
Angel’s Ashes adalah kisah nyata penulisnya sendiri, Frank McCourt. Ia adalah seorang Irish (orang Irlandia). Lahir di Amerika lalu kembali ke Irlandia sampai remaja, lalu kembali lagi ke Amerika untuk mencapai cita-cita. Masa kecilnya bisa dikatakan kurang beruntung, hidup bertahun-tahun dalam kemiskinan. Tak punya pakaian layak, hidup di rumah kumuh, punya banyak adik yang sebagiannya meninggal karena sakit, punya ayah yang pemabuk dan pengangguran… Bertahan hidup dalam keadaan dan situasi yang seperti itu… Luar biasa.
 
Ada yang asyik dari novel ini. Novel ini bercerita tentang hidup yang “sakit”, tetapi kau tidak berurai air mata sedikit pun! Ada sisi humor, sudut pandang anak kecil yang tidak menangis menghadapi kepapaan seperti yang orang dewasa lakukan. Anak kecil memiliki kemampuan menikmati hidup yang tidak dimiliki orang dewasa. Tetapi, jika ditanya alasannya, kita bisa kembali pada teori psikologi yang mengatakan: Hidup orang dewasa sungguh kompleks dengan segala tanggung jawabnya.
 
Apakah anak-anak tidak punya tanggung jawab juga? Punya, terutama jika karena keadaan mereka ikut memiliki tanggung jawab seperti tanggung jawab orang dewasa. Tetapi, lagi-lagi ada yang menakjubkan pada diri anak-anak. Mereka dapat mengubah yang tidak menyenangkan menjadi menyenangkan dengan cara yang luar biasa dengan tidak berpikir berat-berat.
 
Nah, ada kalimat-kalimat favorit:
 
Seperti inilah gambaran Angela’s Ashes…
 

I’ll get a job, I promise.

If you get a job, you lose it the third week because you drank all the wages and you miss the work.

I’ll get by Angela… I’ll change.

The dole is 19 shillings, and the rent is 6. That leaves 13 shillings to feed and clothe five people!

God is good, you know.

Good may be good for someone somewhere, but he hasn’t been seen lately in the lanes of Limerick.

Angela… you go to hell for saying that.

Aren’t I there already?

PS: Di cerita, tidak dijelaskan bagaimana nasib sang ayah setelah mengelana ke London untuk mendapatkan pekerjaan. Sayang sekali, ingin sekali tahu. Cerita ini memang tentang perjuangan Frank demi kehidupan yang lebih baik, tetapi kesimpulannya, kata terakhir novel ini sedikit mengecewakan. Aku seperti digantung oleh cerita karena tidak ada kata-kata bijak tentang kemanusiaan yang kuharapkan, yang menjadi penutup novel ini.

***

Aku duduk di sebuah bangku di gubuk halaman sekolah dan melepas sepatu dan kaus kakiku. Tetapi, ketika aku masuk kelas, guru bertanya ke mana sepatuku. Dia tahu aku bukan salah seorang anak yang bertelanjang kaki. Dia memaksaku kembali ke halaman untuk mengambil sepatu dan memakainya. Lalu, dia berkata kepada seluruh kelas, “Ada yang mengejek, di sini. Ada yang mencemooh ketidakberuntungan orang lain. Apakah di kelas ini ada yang mengira dirinya sempurna? Tunjuk tangan kalian!”

Tidak ada tangan terangkat.

“Apakah di kelas ini ada yang berasal dari keluarga kaya dengan uang berlimpah untuk membeli sepatu? Tunjuk tangan kalian!”

Katanya, “Beberapa anak di kelas ini harus membetulkan sepatu mereka dengan cara apa pun yang mereka bisa. Beberapa anak di kelas ini sama sekali tidak punya sepatu. Itu bukan salah mereka dan bukan hal yang memalukan…” (p. 171)

PS: Ini perkataan seorang guru yang mengagumkan!

***

“Kau harus sekolah, Frankie, lalu pergi dari Limerick dan Irlandia. Suatu hari, perang ini akan berakhir dan kau bisa pergi ke Amerika atau Australia atau ke negeri mana saja, tempat kau bisa memandang tanpa batas. Dunia ini luas dan kau bisa mengalami petualangan-petualangan yang hebat…” (p. 431)

“Kau tidak akan pernah punya pekerjaan yang seperti sekolah, Frank…” (p. 445)

PS: Benar, orang miskin harus belajar! Berhak mendapatkan pendidikan! Agar mereka dapat pergi ke negeri yang jauh, untuk memiliki cita-cita, memandang masa depan…

***

Kami tidak peduli. Dia boleh saja membentak kami semaunya, tetapi kami sudah bersenang-senang dengan sapi dan domba di pedesaan dan api yang hangat di Italia.

Kau bisa menyimpulkan bahwa Bibi Aggie tidak pernah mengalami saat-saat menyenangkan seperti itu. Dia punya lampu listrik dan jamban, tetapi tidak punya saat-saat yang menyenangkan. (p. 410)

PS: Harta tidak dapat membeli hidup yang menyenangkan. Begitulah ketidakbahagiaan orang-orang yang kaya harta, tetapi miskin hatinya.

***

“Dan sekarang, Bruder Muray membanting pintu di depan mukamu.”

“Aku tidak keberatan. Aku ingin cari pekerjaan.”

Muka Mam mengencang dan dia marah. “Kau tidak boleh membiarkan siapa pun membanting pintu di depan mukamu lagi! Kaudengar aku?”

Dia mulai menangis di dekat api, “Oh, Tuhan. Aku tidak melahirkan kalian ke dunia ini untuk menjadi keluarga kurir.” (p. 483-484)

PS: Sering tekad muncul dari keinginan untuk tidak dipermalukan. Inilah harga diri yang semua orang harus perjuangankan: untuk tidak diremehkan.

***

“Tuan O’Halloran benar. Ini hidupmu, ambil keputusanmu sendiri, dan peduli setan dengan orang-orang pengiri, Frankie. Pada kahirnya, kau tetap akan pergi ke Amerika, bukan?” (p. 562)

***

Cinta seorang ibu adalah anugrah,

Tak peduli ke mana kau melangkah.

Jaga dia selagi dia masih ada, 

Kau akan merindukannya bila dia sudah tiada.

Lagu sedih Mam (p. 602)

***

Kesimpulanku, dari manakah asal kebahagiaan?

Jawab:

Salah satunya adalah dengan menerima keadaan…

 “… Tidakkah ini negeri yang hebat?”

Benar. (p 610-611)

PS: Teman-teman, bacalah buku ini. Setidaknya, untuk pelajaran bersyukur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s