Bangsal dan Sebuah Potret Kemiskinan

Jan 29, ’11 7:38 PM
Penampilan pasien-pasien wanita dari bangsal yang satu sama dengan bangsal yang lain. Semuanya berseragam pasien, warna merah muda, biru, atau berpola bunga-bunga. Sebagian duduk menghadapi sebuah televisi, masing-masing memiliki ekspresinya sendiri, namun kebanyakan hanya berkedip pelan dan diam tanpa ada celoteh tentang acara yang sedang mereka tonton. Benarkah mereka sedang “menonton”?
Hal di atas hanyalah salah satu aktivitas keseharian para pasien gangguan jiwa di bangsal. Selama dirawat, mereka memiliki rutinitas yang “dijaga” oleh dokter dan perawat. Bangun dan tidur, membersihkan badan, makan, minum obat, cek kesehatan, dan aktivitas bebas lainnya. Jika beruntung, akan ada terapi aktivitas kelompok atau kegiatan di ruang rehabilitasi di mana mereka dapat mengasah otak dan keterampilan. Tetapi selebihnya, yang ada adalah kebosanan. Beberapa pasien menyambut kami, praktikan magang, dengan suka cita, terutama sebagai teman bicara (kebanyakan pasien tidak mengobrol satu sama lain).
Sulit menyangkal bahwa aku benar-benar tidak mengenal seperti apa mereka. Hanya teori-teori yang ada di kepalaku dan ucapan seorang dosenku: jangan terlalu percaya apa yang mereka katakan. Memang tidak banyak dari mereka yang berkata jujur tentang siapa mereka, namun ketika mereka tidak demikian, kusimpulkan bahwa sesungguhnya mereka tidak ingin demikian. Psikosis yang mereka alami membuat mereka terputus dari realita, yang mana salah satu dari realita tersebut adalah realita kemiskinan yang mereka alami dalam kehidupan.
Tidak pelak lagi bahwa salah satu penyebab terjadinya gangguan jiwa adalah ketidakmampuan menghadapi pahitnya kenyataan hidup yang berakar dari kemiskinan. Bagi sebagian orang, kemiskinan adalah awal anak-anak yang kehilangan orangtua, orang-orang yang mencintai kekayaan, atau orang-orang yang sulit merasa puas dan ditunggangi berbagai obsesi. Kemiskinan adalah sebuah tekanan, ketidaknyamanan dan ketidaknikmatan. Bagi orang-orang yang tidak kuat, secara mental dan spiritual, kemiskinan yang tak tertahankan dikompensasi dengan memunculkan fantasi kehidupan surgawi, ketenaran, atau apapun. Benar, tanpa melupakan adanya faktor biologis yang menyebabkan semua ini, yang salah adalah diri orang itu sendiri yang membiarkan isi kepalanya berterbangan dan tidak belajar menerima kenyataan.
 
Jika kemiskinan adalah sebuah kenyataan dan gangguan adalah dampaknya, maka bagaimanakah semua itu dapat disembuhkan. Aku bertanya pada seorang perawat, “Bu, pasien di sini akan pulang kalau sudah bagaimana?” Aku berharap jawabannya: “Kalau mereka sudah sembuh.” Namun, yang diucapkan adalah: “Kalau prognosisnya baik, mereka bisa sembuh. Tapi kalau tidak, mereka tidak bisa sembuh total. Yang dilakukan rumah sakit bukan membuat mereka sembuh total, tetapi setidaknya membuat mereka mampu mengurus dan merawat diri, dan tidak mengganggu orang lain.” Itulah definisi sembuh di sini.
 
Lalu aku mengecek 20 buku status yang ada di bangsal tempat aku bertugas. Dubia… dubia… dubia… DUBIA AD MALAM (aku tidak begitu paham artinya) alias prognosis buruk. 
 
Aku melihat sekeliling, kulewatkan pemandangan si A yang diikat di tempat tidurnya dengan merengek minta dipelaskan, si B yang sudah tua dan buta yang berteriak dan menangis meminta mandi, si C yang terus diam sepanjang hari, si D yang tampak berpikir sendiri di pojokan, si D yang duduk dengan posisi bak ratu menonton televisi, si E yang cuma duduk-duduk di beranda menanti waktu makan siang, atau si F yang baru saja di-ECT, dan menemukan pasien yang menjadi studi kasusku: setiap hari ia membantu bersih-bersih bangsal, suka mengobrol, sangat kooperatif dengan pertanyaan dan tes-tes psikologi yang kuberikan, menyapaku dengan ekspresi yang serasi, bertanya macam-macam dan bilang, “Aku pengen sekolah yang tinggi seperti mbak… Mbak, mau antar aku pulang? Aku kangen rumah… Mbak, belajar matematika, yuk. Mbak jadi dosennya…
 
Akhirnya aku bisa melakukan home visit bersama rekanku. Pasienku berasal dari keluarga yang benar-benar miskin. Aku bertanya pada ibu pasienku, “Bu, jika nanti anak ibu pulang, bagaimana ibu menerima dia nanti?
 
Ya, bagaimana sudah nasib punya anak begini, tapi tolong sampaikan ke dokter… Tolong jangan dulu pulangkan dia sebelum dia sehat betul. Terakhir kali dia pulang pikirannya masih kacau… memukuli keluarganya…
 
Aku teringat air mata ibu itu ketika menceritakan kesusahannya… Jangan dulu dipulangkan? Tidak tega aku mengatakan bahwa itulah masalah besarnya. Bukan karena dubia ad malam-nya, bukan karena pikirannya tidak akan pernah kembali seperti sedia kala, bukan karena ia tidak akan pernah mengamuk dan masuk rumah sakit jiwa lagi, tetapi masalah besarnya adalah keengganan untuk menerima si sakit. Kapan si pasien akan sehat betul? IT WILL TAKE FOREVER HOSPITALIZED!!!
 
Aku pulang sambil berpikir, apakah aku akan menyampaikan pesan ibu itu dan mendeskripsikan kemiskinan dan kesusahannya pada perawat? Apakah perawat akan peduli? Apakah rumah sakit akan peduli? Apakah pemerintah akan peduli? Siapa yang peduli dengan orang yang sudah jatuh dalam abnormalitas, tidak mengenal dirinya lagi, melupakan keluarga, dan berisiko mengganggu? Wew…
 
Aku selalu dijelaskan bahwa kemiskinan dan gangguan mental adalah bagian dari masalah sosial. Namun, dengan orang-orang yang acuh begini… kita semua agen dalam masalah sosial karena kita miskin hati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s