Dilema Pecat, Pecat, dan PECAT

Terkenang, tiga tahun yang lalu aku pernah mendapatkan surat bebas tugas dari sebuah organisasi. Waktu itu aku masih bodoh dan santai-santai saja membaca surat bebas tugas itu. Selidik punya selidik… ternyata itu bahasa halusnya surat pemecatan. Duh. Cita-citaku di organisasi itu kandas.
Mengapa aku bisa dipecat? Pertama, aku memang tidak bertugas dengan baik. Kedua, aku memang tidak tahu caranya bertugas dengan baik dan salahku tidak tanya. Ketiga, aku tahu organisasi itu memang punya nama dan bukan tempatnya aku bermain-main dengan jabatan. Tetapi, apa daya? Aku cuma anak baru mahasiswa yang sedang asyik-asyiknya menjajal organisasi baru. Bukan salahku sepenuhnya dan sakit hati sekali… aku menikmati organisasi itu baru tiga bulan dan langsung diberhentikan!
Hari ini, setelah tiga tahun berlalu, aku dapat berpikir bahwa organisasi ini salah urus. Benar, selanjutnya tidak ada kabar mengenainya. Bahasa halusnya, organisasi ini mati. Sekarang, mengingat nama organisasi itu dan mengkaitkannya dengan nasibku, aku bisa berpendapat bahwa organisasi itu salah urus. Nah, yang bikin salah urus itu siapa? Ya ketuanya.
Hal yang sama hampir terjadi pada organisasiku sendiri. Kali ini peran berganti. Bukan aku yang lagi-lagi dapat surat bebas tugas, tetapi aku hampir-hampir membebastugaskan orang. Diawali dari rasa frustasi pada satu departemen yang kerjanya tidak beres. Bahasa halusnya, anak-anak di dalamnya terbang semua kecuali kepala departemen dan dua anak buahnya yang setia. Ini masalah besar mengingat tugas departemen ini penting sekali. Daripada susah payah mengurusi orang yang pergi agar pulang, mengapa tidak dipecat sekalian? Dalam suatu rapat, kuusulkan bahwa daripada membuat stres, anak yang seperti ini tidak usah diurus saja. Biarkan. Di-sms tidak bisa, diajak kumpul tidak bisa, diajak bicara tidak bisa! Tetapi anehnya ada sesuatu yang terjadi kemudian.
Salah seorang seniorku mengusulkan hal yang sama terkait masalah di atas. Entah mengapa aku jadi marah-marah ke dia. Dalam hati aku sebal, aku tidak ingin dilihat sebagai ketua bodoh yang tidak bisa menjaga anak buahnya. Masalah pecat-memecat ini kuributkan sebagai bagian dari intervensi yang tidak diperlukan.
Nah, mengapa aku jadi tidak senang? Selang waktu kemudian, aku sadar bahwa keinginanku untuk “pecat, pecat, dan PECAT” hanyalah bagian dari frustrasi pribadiku terhadap keadaan. Secara tidak kusadari, emosi main di situ. Rasio yang kupakai ternyata rasio yang emosional. Selang waktu kemudian, aku dapati aku sudah melupakan masalah pecat-memecat ini. Ada banyak hal yang kupikirkan menjadi alasannya, tetapi hanya sedikit yang akan kuutarakan di sini.
Sejak menjabat, aku selalu berusaha berpegang pada ucapanku sendiri bahwa: organisasi bukan tempat orang-orang yang sudah ahli, tetapi tempat bagi orang yang sedang berusaha dan belajar untuk menjadi ahli. Kalimat tersebut untuk konteks organisasi mahasiswa yang mana banyak teman-teman yang bergabung adalah orang yang baru saja mengenal dunia organisasi, suka dukanya yang blibet, dan pengorbanannya yang rumit. Karena hal itu, aku belajar memahami kesalahan yang dibuat teman-teman ketika menjalankan tugas. Ada kalanya aku harus teguh pada keputusan, tetapi ada juga waktu di mana aku harus toleran. Kita mahasiswa, gitu… Badan dan jiwa kita hanya satu dan harus dibagi-bagi antara organisasi, keluarga, kuliah, dan kehidupan pribadi. Nah, akhirnya aku malah berkesimpulan, “Hebat, ya, mahasiswa organisatoris… Kepalanya sampai beruban semua, gila!”
 
Isu pecat-memecat jika kuingat lagi malah membuatku malu pada diri sendiri. Memangnya aku tidak pernah menjadi anak organisasi yang tidak bermasalah? Aku pernah juga mengalami masa tidak bersemangat dan dipenuhi konflik dengan senior. Aku dapat saja dipecat, jika seniorku yang galak. Aku dapat saja menghilang begitu saja tanpa kata-kata, jika aku memang tidak pedulian dan mementingkan ketenangan pribadiku sendiri. Aku dapat saja minta berhenti, jika aku anak yang asertif. Sayangnya, seniorku baik hati, aku termasuk orang yang peduli dan sadar tanggung jawab sehingga tidak layak bagiku minta berhenti. Lebih dari itu… aku tidak tega bilang, “Mbak, Mas… aku berhenti, ya…”
 
Di antara anak buahku sekarang, sebagian memang menghilang, tetapi sebagian tetap bertahan. Aku sungguh berterima kasih atas pengorbanan mereka untuk tetap peduli dan sadar tanggung jawab. Benar-benar berterima kasih. Sekarang, tugasku adalah menjadi ketua yang baik hati, bukan? Menjadi senior yang baik hati, bukan? Bukan orang yang hobinya main pecat sana, pecat sini. Buang orang ini, buang orang itu. Biarkan orang ini, biarkan orang yang itu… karena kita tidak butuh mereka??? SALAH BESAR. Kita membutuhkan semua orang yang ada di sekitar kita, baik mereka berkontribusi besar maupun kecil karena memang itulah kemampuan mereka. Beruntunglah bagi kita dengan keberadaan teman-teman kita sekalipun pada akhirnya memang hanya akan tertinggal sederet nama yang menimbulkan kenangan.
 
Jadi, jangan mudah memutuskan nasib untuk orang, ya… terutama jika kita termasuk orang yang punya tempat yang tidak biasa. Setidaknya, pahami dulu alasan mereka yang tidak bekerja dengan semestinya. Artinya, kita memang harus menjadi orang yang baik hati… Jika mereka memang memutuskan pergi tanpa berkata-kata, biarkan saja mereka pergi menurut keputusan mereka. Mungkin mereka memang tidak sanggup bertahan, tetapi cukup baik hati sehingga tidak ingin menyakiti hati kita dengan berkata, “Mbak, Mas… aku mau berhenti.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s