Enjoying Your Life Complexity

Istilah “life complexity” tiba-tiba terlintas dalam benakku. Sepanjang pagi ini aku berkutat dengan hasil kuesioner survei awal untuk skripsi dan takjub dengan jawaban teman-teman. Dihubungkan dengan hasil wawancara dadakan kemarin sore di pendopo kampus, aku tambah terheran-heran lagi. Kesimpulanku: ajaib. Hidup mahasiswa ternyata begitu kompleks dengan beragam tujuannya. SEMANGAT teman-teman!
 
***
Life complexity bukanlah istilah yang pertama kali kutemukan. Istilah awalnya adalah “self-complexity“, yaitu salah satu faktor yang mempengaruhi regulasi diri yang dilakukan orang. Self-complexity diartikan sebagai cara orang berpikir tentang dirinya sebagai seseorang dengan satu atau lebih cara/ variasi/ kualitas, bahkan peran. 
 
Sebagai mahasiswa, kita akan memandang peran utama kita sebagai mahasiswa. Namun, kompleksitas hidup kita membuat kita juga mengakui bahwa kita adalah anggota organisasi, anggota keluarga, anggota masyarakat, teman, saudara, kekasih, pemimpin usaha, dan sebagainya. Peran-peran tersebut akan terus menarik perhatian dan kewaspadaan kita. Di pos-pos itulah kita akan banyak berbuat dan merencanakan tindakan. Kita menanamkan keyakinan dan tujuan. Kita akan sering mendapati ada banyak masalah yang membanjir sehingga  disimpulkan saja, hidup yang kompleks menjamin kita terus-menerus stres dan lelah.
 
Kecenderungan orang adalah seperti semut suka gula, tetapi tidak suka air. Kebanyakan orang sudah mengantisipasi stres dan lelah ini sehingga mereka secara sadar atau tidak sadar menarik diri dari terlibat dalam kehidupan yang kompleks. Mereka berusaha bermain aman dengan membatasi diri dengan sedikit peran saja dan berfokus di situ. Mereka ingin bermain nyaman, sehingga membentengi diri dari aktivitas-aktivitas yang melelahkan, menambah beban, dan sumber stres. Apa kata mereka ketika ditanya mengapa memilih hidup begitu-begitu saja? Jawaban mereka: malas ah, capek ah, nggak penting ah!
 
Apa kata Patricia Linville (1985) terkait hal ini?
 
Ada perbedaan antara orang yang hidup simpel-simpel saja dan orang yang kompleks tentang diri mereka. Orang yang simpel, they are buoyed by success in their particular area of importance, but are very vulnerable to failure. Sedangkan orang yang kompleks, they may be buoyed by succes but have other aspects of themselves that buffer them in the case of failure or setbacks
 
Akhirnya, self-complexity can act as a buffer againts stressful life event. It may help prevent people from becoming deppresed or ill on response to setbacks (Kompleksitas diri dapat bertindak sebagi penyangga dalam melawan peristiwa hidup yang penuh stres. Ia membantu mencegah orang-orang menjadi depresi atau sakit karena kemunduran). 
 
Ya, kita ditolong oleh kehidupan kita yang lain di peran kita yang lain. Mungkin kita sedang jatuh secara akademik, tetapi dengan organisasi yang kita punya dan segala pencapaian dan teman-teman kita di sana akan membantu kita untuk berdiri bertahan dan belajar lagi. Boleh jadi kehidupan sosial kita sedang bermasalah, dengan adanya keluarga karena peran kita sebagai anak, kita bisa pulang. Kompleksitas hidup membuat kita punya banyak tempat untuk bernaung, bukan?
 
Nah, berpikirlah dua kali sebelum memutuskan untuk jadi orang yang biasa-biasa dengan hidup yang sederhana saja. Hidup yang kompleks memang rumit dan melelahkan. Tetapi, semakin rumit yang kita jalani, semakin banyak yang kita dapat, entah berupa teman, pengalaman, pertambahan kemampuan, dan aspek dalam hidup yang tidak kita sadari sebelumnya: kebijaksanaan.
 
Nah, yang selama ini merasa susah hidup dengan bermacam-macam peran, lets enjoy it!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s