EPPS… Oh, EPPS…

Dec 2, ’10 11:33 PM
EPPS… oh, EPPS… Kraepelin… oh, Kraepelin… TKD… oh, TKD… TIU… CFIT… RMIB… Army Alpha… Binet… WAIS…  Pauli… WISC… Ayo kita menyanyi nama-nama tes psikologi! Oia, di tambah tes grafis! Plus psikologi dalam? Lengkap sudah!
Semester ini terasa menyenangkan. Ketika tahun lalu aku merasa tidak paham betul materi kuliah Psikodiagnostik I, sekarang aku berkesempatan menjadi asisten di mata kuliah tersebut. Ketika dahulu ingin sekali ikut kuliah psikologi dalam yang sayangnya tidak jadi kuikuti, sekarang aku berkesempatan mempelajarinya dengan format dan materi kuliah yang lebih kusukai😀 Alhamdulillah…
Beberapa mata kuliah di atas adalah mata kuliah yang sangat berpengaruh dalam hidupku. Semua mata kuliah itu membuatku berpikir dua kali tentang apa itu “sakit”. Dan ketika dikatakan bahwa “semua manusia memiliki potensi sakit”, aku menjadi tenang karena… tentu saja ada potensi sehat di situ. Aku mulai berpikir dua kali tentang kelemahan-kelemahan diri yang selama ini menjadi musuhku. Ketika aku belajar berbaikan dengan mereka semua… Betapa mudahnya dan everything is getting better right now! Itulah yang seharusnya kita pikirkan… Hehe…
Pengalaman ikut mata kuliah tes psikologi membuat aku dan teman-temanku sekalian mendapatkan kesempatan menjalani tes psikologi. Menyenangkan? Iya… Sedikit banyak, kami menjadi orang yang lebih tahu ketimbang orang awam tentang tes-tes psikologi. Menjengkelkan? Woi… jangan berkata tidak, ya… Menjengkelkan, iya. Semua itu dikebut selama satu semester dan nyaris menjadi mimpi buruk bagi sebagian mahasiswa. Tugas setumpuk adalah makanan sehari-hari. Sampai tidak tidur untuk mengerjakan laporan? Itu mungkin saja terjadi.
Yang sesungguhnya ingin kubagi di sini bukanlah tentang liku-liku dan suka-duka selama perkuliahan. Lebih menarik jika membahas saat-saat di mana kita tahu hasil tes dari diri kita sendiri. Cukup miris, ketika tes ini menjadi cara kita mengenal lebih baik tentang diri kita sendiri, tes ini malah mengungkapkan kelemahan diri yang selama ini tidak disadari sehingga kita merasa baik-baik saja. Malu? Iya, terutama ketika hasil tes kita dilirik teman. Sedih, ketika salah satu dari mereka berkata, “O… kamu ternyata begini, to? Pantesan…”
Pantesan… Celetukan ringan? Tidak. Sebagian orang akan merasakan bahwa komentar itu sungguh menjatuhkan harga diri. Sebagian orang merasakan betul bahwa mereka memiliki sejumlah kelemahan. Namun, hasil tes psikologi yang ternyata seiya sekata dengan perasaan memiliki kelemahan tersebut akan terasa seperti menegaskan kelemahan itu benar-benar ada.
Apakah benar-benar ada? Jawabannya: tergantung bagaimana kita memandang diri kita. Apakah ada di dunia ini orang yang tidak pernah sakit atau tidak pernah lemah? Tidak. Mereka yang sakit fisik, normalnya ingin sembuh. Maka, demikian pula dengan kita yang lemah secara nonfisik: karakter, sikap, kebiasaan, perilaku, dan sebagainya.
Kelemahan dalam sifat dan karakter kita sebagai manusia jelas ada, tetapi tidak semua orang benar-benar mau mengakuinya untuk kemudian dilakukan “penyembuhan”. Ketika ditanya dan dijawab, “Order (kebutuhan untuk hidup berperencanaan)-ku memang rendah banget. Aku memang begini orangnya, nggak bisa diapa-apain lagi,”, maka itu sama saja seperti mengatakan: “Aku sakit jantung, nggak bisa sembuh, besok mati.” Hanya saja yang berbeda adalah level urgency-nya. Kesakitan fisik berakibat besok, kesakitan mental dan karakter berakibat menjadikan kita manusia gagal.
Ada satu bagian pada kontinum kesehatan mental kita yang sekalipun itu lemah, kita masih dapat hidup dengan baik. Namun, semakin titik itu bergeser pada sisi ekstrem yang lebih mengkhawatirkan dan negatif, ada baiknya kita sadar diri dan berhenti mengatakan: “Aku memang begini.” Inilah sisi sakit yang seluruh manusia sebaiknya sadari dan cari jalan keluarnya.
Apakah kita akan diam saja dan selamanya menjadi manusia yang berantakan, tidak bersemangat untuk berprestasi, bergantung pada orang lain, dan tidak tahan kerja berat? Memangnya ketelitian tidak bisa ditingkatkan? Apakah tempo kerja yang lambat tidak dapat dipercepat? Kepribadian dan seluruh karakter kita adalah sesuatu yang dinamis. Jika masih sulit memperbaiki kelemahan diri, maka lebih keraslah lagi memerintahkan diri kita untuk berubah. Semoga saja tidak datang saat di mana perubahan diri itu harus dilakukan dengan terpaksa.
Jangan menyerah pada kelemahan karena manusia diciptakan KUAT. Terpuruk karena hasil tes psikologi yang cuma secarik dua carik kertas itu? Wah, rugi. Kehidupan manusia adalah seluas langit dan bumi, bukan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s