Fa Ido Ma, Ma Ido Fa

Ide untuk menulis tentang slogan ini sempat terkubur di alam prasadar sebulan lamanya sampai ketika makan siang hari ini, iseng-iseng mencari buku untuk dibaca di meja makan, ingatlah aku kalau bulan lalu aku membeli buku berjudul “Giving” karya Bill Clinton. “Fa ido ma, ma ido fa” adalah sebuah slogan yang berarti “memberi jika menerima, menerima jika memberi” yang terkenal milik seorang pejuang asal Papua, yaitu Johannes Abraham Dimara atau J. A. Dimara. Pertemuan pertamaku pada tokoh ini adalah ketika SMP, waktu aku membaca buku karangannya. Slogan itu ditulis besar-besar di sampulnya sehingga sampai saat ini aku masih mengingatnya dengan baik.
Kabar tentang J. A. Dimara tidak pernah kudengar lagi sampai ketika bulan lalu muncullah berita tentang masalah pengangkatan beberapa nama tokoh untuk dijadikan pahlawan nasiona. J. A. Dimara adalah salah satu dari beberapa tokoh yang diajukan. Karena itulah ingin sekali aku berbagi tentang makna “fa ido ma, ma ido fa” kepada teman-teman. Esensi dari slogan tersebut dapat dengan mudah kita pahami, tetapi aku tertarik untuk membahas “tarian” antara keduanya yang sepertinya cukup filosofis.
***
Aku mulai menyadari bahwa hubungan memberi dan menerima adalah suatu keseimbangan yang unik. Jika kau memberi satu, kau akan menerima/ memperoleh setidaknya satu sebagai balasan. Itu hukum transaksionalisme yang membuat orang-orang hidup dengan merasakan keadilan. Tetapi, Tuhan berkata lain karena Ia adalah Tuhan. Jika kau memberi satu, kau dapat menerima yang tak terhingga. Apa yang bermain untuk sunatullah ini? Niat yang baik dan keikhlasan untuk tidak mematok seberapa besar balasan yang layak, seperti pegawai yang menuntut upah, tetapi biarlah tangan Tuhan yang bermain. Karena hal itu, apa yang akan kita terima karena pemberian kita akan sangat berharga untuk dirasakan. Pemberian itu akan melampai apa yang dapat diberikan oleh harta benda, kedudukan, atau nama baik. Pemberian itu adalah ketenangan dan kebahagiaan di dalam sini.
Jika dihitung-hitung, sudahkah kita memelihara keseimbangan memberi dan menerima dalam hidup ini? Sudah terlalu banyak yang kita terima, tetapi berapa banyak kita sudah memberi? Maafkan jika aku mengatakan bahwa sering kita semua begitu terobsesi dengan urusan memperoleh: memperoleh balasan atas kebaikan sebelum kebaikan itu dilaksanakan, memperoleh gaji sebelum bekerja sebaik maungkin, memperoleh nilai A sebelum belajar segiat mungkin, memperoleh sahabat sebelum tersenyum seramah mungkin, memperoleh pengakuan sebelum memberikan manfaat, memperoleh ketenangan sebelum menyelesaikan urusan, memperoleh harmoni sebelum memberikan solusi, memperoleh dukungan sebelum memberikan uluran tangan, memperoleh… memperoleh… memperoleh…
Ini egoisme yang sangat manusiawi, bukan? Manusiawi, tetapi bodoh jika kita melupakan kebaikan yang dihendaki oleh Tuhan. Mengapa ada urusan harta dan zakat-sedekahnya yang diwajibsunahkan? Mengapa ada urusan berbuat baik yang oleh Tuhan akan diberi balasan kebaikan ratusan kali lipat, pahala, dan surga? Mengapa ada urusan bahwa bersyukur, ikhlas, dan menjadi pribadi yang bermanfaat adalah kewajiban yang bernilai ibadah dalam hidup manutia? Kupikir, itulah hukum yang memastikan agar manusia, suka tidak suka, mau tidak mau, tetap memelihara perilaku memberi karena menerima adalah urusan nanti.
Jika kemudian kita bertingkah abai dan egois memikirkan perolehan pribadi untuk kontribusi yang tidak pernah kita lakukan atau kita lakukan dengan keterpaksaan… Nah, seperti itulah, mungkin… Gunung Merapi meletus, laut dan tsunaminya, banjir di kota-kota… Mungkin, perintah Tuhan untuk bumi dan langit adalah seperti, dengarkan: “Dengan ini semua, ajari manusia-manusia yang egois ini untuk kembali menghidupkan rasa suka memberi, rasa suka bersimpati, rasa sakit untuk menumbuhkan kembali keprihatinan, kasihan, dan rasa sayang…”
Pemberian yang kita lakukan saat ini ketika bencana ada di mana-mana adalah keterpaksaan yang aneh. Ia mempermainkan sisi kemanusiaan kita. Apakah setelah semua ini berakhir… haruskah ada bencana lagi agar kita semua kembali suka memberi yang terbaik untuk sesama dan alam di sekitar tempat hidup kita, agar para pejabat mau bersama-sama memberikan sebagian waktu mereka untuk rakyat, agar perusahaan-perusahaan kikir mau menyumbangkan sebagian produk mereka secara murah? Haruskah ada bencana lagi agar kita belajar bahwa memberi adalah amalan sepanjang masa, bukan di saat-saat mendesak dan menguras air mata kepedihan? Pelajaran seperti ini sungguh berat untuk dijalani.
Tuhan itu Maha Memberi, segala kebaikan juga pelajaran atas keburukan perilaku kita. Ini keadilan yang sempurna: menerima dari Tuhan – memberi untuk kehidupan – menerima dari Tuhan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s