GIVING

Kebiasaan burukku adalah mengendapkan buku-buku yang baru saja di beli di raknya. Jika dahulu aku terbiasa menyampulnya dan bersemangat untuk langsung membacanya, sekarang stok sampul saja tidak lagi kuingat. Kesempatan membaca pun semakin jarang… ternyata lumayan sulit mempertahankan kebiasaan membaca di tengah-tengah kesibukan.
Buku “Giving” kubeli di Jogja, bertepatan dengan hari silaturahmi seusai Idul Fitri. Ketika memasuki toko buku, aku hanya asal berkeliling-keliling saja tanpa benar-benar bersemangat membeli, mengingat tumpukan buku-belum-dibaca yang masih banyak di rumah. Favoritku adalah rak buku-buku psikologi dan entah mengapa karya populer yang tidak berhubungan dengan psikologi ini, “Giving”, bisa ada di rak psikologi. Nah, aku sudah berusaha membacanya sampai selesai, jadi sekaranglah waktuku untuk membaginya pada teman-teman sekalian.
***
Judul buku ini sederhana. Hanya “Giving”.
Buku “Giving” ditulis oleh Bill Clinton, mantan presiden AS. Niatnya cuma satu: Agar orang-orang yang membaca buku itu mau menjadi pemberi. Tidak perlu menjadi pemberi besar, yang kecil pun sangat berharga. Buku tersebut memberikan banyak solusi jika kita ingin menjadi pemberi. Tak bisa berika uang, berikan jasa atau keterampilan sesuai dengan keahlian kita. Jika tak bisa, berikan barang. Jika tak bisa, berikan waktu kita untuk jadi relawan sosial. Jika tak bisa, bantulah orang dengan dukungan apa pun itu. Dengan mengandalkan diri kita sendiri, kita tidak lagi bergantung pada uluran tangan pemerintah.
 
Bangsa Indonesia butuh uluran tangan. Salah satu yang bisa kita lakukan adalah memberi uang, tetapi ada banyak jalan, bentuk pemberian, sasaran, cara, dan sebagainya. Sering, kita kurang lihai dalam menentukan jalan, bentuk, sasaran, dan cara pemberian yang terbaik karena kita malas berpikir sehingga lemah dalam pengelolaan. Pemberian yang kita lakukan tidak pernah terlepas dari keinginan kita untuk mengentaskan permasalahan orang lain. Maka dari itu, kita perlu berpikir jauh ke depan dan tidak terjebak dalam kebahagiaan jangka pendek “hanya memberikan uang atau barang” tanpa mempertimbangkan pengaruhnya di masa depan.
Membaca buku ini semakin membuatku yakin bahwa dalam memberi sesuatu, benar: mulailah dari diri kita sendiri, sekarang, sekalipun itu pemberian yang kecil saja.
***
Ketika membaca buku ini, betul-betul teringat pengalaman KKN Juli-Agustus lalu. Waktu aku asyik bercerita betapa luar biasanya pengalaman KKN, sekarang aku yakin, salah satu hal yang mempengaruhiku adalah pengalaman “giving”, pengalaman memberi sesuatu kepada orang lain, masyarakat. And I am enchanted!!! Inilah pengalaman pertamaku menjadi pekerja sosial. Benar, ada perasaan bahagia ketika kita bisa memberi sesuatu kepada orang lain, menolong mereka, membantu mereka keluar dari permasalahan mereka.
Sempat menjadi polemik ketika KKN tengah kota yang kuikuti mendapatkan banyak omongan miring: “KKN di kota? Yang benar saja! Tidak kesasar?” Ya, benar… terlalu sering orang memandang desa adalah tujuan utama KKN. Waktu itu yang kupikirkan adalah mengambil hikmah terbaik dari segalanya. Orang kota juga butuh bantuan yang tidak mereka sadari apakah itu. Kebanyakan dari mereka mungkin tidak butuh bantuan berupa pemberian barang atau jasa, tetapi ada beberapa hal yang perlu diteliti lagi sebelum mengatakan “Kota bukan tujuan KKN”.
Kupikir, tidak ada orang yang tersesat ketika tujuan mereka adalah mengulurkan tangan untuk membantu sesama. Bukan untuk mencari nilai KKN atau mengisi waktu liburan semester. Selama tangan kita terulur, akan ada banyak yang menyambutnya. Selama tangan kita membawa hal-hal yang baik…
Is it over now? No. I have some special quotations for you all.
Barangkali memberikan uang yang sekarang kita miliki terasa lebih sulit daripada ketika kita mencarinya. Bill Gates (h.20)
Ide-idelah yang mengubah dunia, dan “makna” adalah aset terbesar yang kurang dihargai di pasar ide. Chris Stamos (p.29)
Kita semua punya kemampuan untuk membuat perubahan di suatu tempat. Yang perlu kita lakukan hanyalah membuat keputusan apakah kita mau melakukannya. Mark Grashow (p.75)
Orang miskin punya potensi untuk menjadi makmur, jika dibari kail, bukan ikan. John Bryant (p.101)
Satu-satunya cara … untuk bisa menyongsong masa depan adalah dengan menyingkirkan masa lalu. Nelson Mandela (p.114)
Jika anak muda berbuat salah dan sudah membayar atas kesalahannya, ia layak memperoleh kesempatan baru, awal baru. Bob Bailey (p.131)
Yang sesungguhnya dibutuhkan oleh kaum miskin dan menderita adalah jauh lebih besar daripada sekadar bantuan sementara, yaitu kemampuan untuk menghidupi diri sendiri. Dan West (h. 141)
Ubuntu = Aku ada karena kamu ada
Tidak pernah ada kekurangan potensi — yang ada hanyalah kekurangan dukungan dan dorongan yang semestinya. Alan & Diane Page (h. 149)
Orang miskin di mana saja akan dapat hidup lebih baik jika keterampilan yang mereka perlukan untuk berhasil telah mereka peroleh dan sistem-sistem dasar yang mereka perlukan tersedia. (h.156)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s