Go, Go, Go Peneliti Indonesia!

Original post: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/112/GO-GO-GO-Peneliti-Indonesia

Sep 15, ’10 4:33 PM

Bacalah KOMPAS hari ini untuk membaca sebuah opini yang mengiris hati tentang nasib peneliti (di) Indonesia. Sulit membayangkan bahwa masalah yang menimpa bangsa Indonesia, terutama yang berprofesi sebagai peneliti. Seperti yang kita tahu, menjadi peneliti adalah pekerjaan bergengsi yang tidak semua orang bisa mendapatkannya. Maksudku, hanyalah orang-orang yang berotak dan berkemauan keras yang pantas bekerja di dunia ilmu pengetahuan dan teknologi.
Meskipun sebutan guru adalah “pahlawan tanpa tanda jasa”, bukan berarti mereka tidak butuh gaji. Aku tidak tahu apa sebutan bagi para peneliti yang resmi, tapi aku dapat mengajukan sebutan “pahlawan untuk masa depan” bagi mereka. Bisakah kita membayangkan dunia tanpa penemuan dan inovasi? Bisakah kita membayangkan dunia tanpa orang-orang yang “asyik” berkutat dengan sampah, jamur, laut, gunung, batu… Semua itu demi hidup manusia yang lebih mudah, murah, dan baik.
Namun, apa penghargaan bagi mereka? Berdasarkan apa yang kubaca, gaji seorang peneliti begitu kecilnya untuk pengorbanan mereka yang besar. Mereka bertahan di lingkungan yang “kering”, sebagian karena tidak ada pilihan kerja lainnya yang sama berharganya atau karena idealisme yang tidak ingin dikorbankan. Tetapi bagi yang tidak tahan, parahnya, mereka terbang ke Malaysia atau negara lain demi situasi dan keadaan yang lebih baik.
Nah, siapa yang mau mengangkat isu nasionalisme di sini??? Sebaiknya, tidak. Karena ada pihak yang seharusnya tahu diri lebih dulu: Pemerintah, yang seharusnya lebih peka terhadap apa itu keadilan dan kesejahteraan. Nasionalisme pemerintah yang seharusnya dicek lebih dulu… Orang-orang yang abai pada bangsa sendiri, mereka itu yang tidak nasionalis. Pengabaian itu dimulai ketika tidak ada penghargaan yang adil dan layak bagi anak bangsa yang sudah berkorban. Orang-orang yang mengabaikan, mereka ditinggalkan!
***
Sebagian tulisan ini kuisi dengan mengeluhkan pemerintah Indonesia, tetapi sebagian yang lain akan kuisi dengan kekagumanku pada profesi peneliti. Yang lebih jauh lagi, inilah wujud kekagumanku pada ilmu pengetahuan.
Teringat pada suatu tayangan di televisi tentang dua wanita peneliti gua. Ada satu kalimat yang, mungkin, hanya dimiliki oleh orang-orang yang berkutat mencermati alam semesta. “Ada semesta dalam setitik air” begitu kata mereka. Nah, itulah sebuah kalimat yang dimiliki hanya oleh orang-orang yang melihat baik-baik apa yang terjadi di alam dan mengikuti ceritanya.
Teringat pula pada suatu pemberitaan di media tentang peraih para peraih Nobel. Ternyata, sebuah penemuan dapat berharga puluhan tahun kesabaran menekuni satu hal. Kesabaran menekuni proses tanpa hilang arah menuju hasil yang pasti… bagiku, ini luar biasa karena tidak semua orang dapat begini.
Terakhir, ingatlah cerita Edison dan ratusan penemuannya. Semuanya dimulai dengan adanya rasa ingin tahu. Tak peduli apakah hidup ini miskin, susah, tidak disukai orang karena berbagai alasan, atau bahkan belum menemukan apa-apa… tidak ada yang dapat menghentikan karya yang muncul dari kekuatan dalam diri untuk terus mencari dan berupaya.
 
Hidup peneliti di Indonesia memang tidak sebaik peneliti di manca negara. Ada titik di mana kita layak menyalahkan pemerintah atau orang-orang yang berhubungan dengan masalah ini, tetapi juga ada titik di sisi lain di mana kita memaknai menjadi peneliti/ ilmuwan sebagai lebih dari sekadar pekerjaan, tetapi panggilan jiwa, dan tidak memaksa di keadaan yang belum baik di negeri ini.
Dengan harga berbagai tantangan, menjadi peneliti/ ilmuwan memberikan pengalaman menikmati dunia dengan cara yang menakjubkan yang tidak semua orang mampu alami. Tidak ada uang atau materi apapun yang dijanjikan lebih tetapi Tuhan tidak buta, kan? Puas dengan apa yang dialami, didapat, dan dimiliki sekalipun itu hanyalah secuil rahasia semesta… itu lebih baik daripada menderita memikirkan gaji yang sedikit, dan penghargaan yang hanya bertahan seumur jagung.
 
Jika hidup sebagian peneliti/ ilmuwan ditakdirkan susah begini… kupikir, ini misteri Tuhan. Orang-orang yang berjuang di tengah kesempitan dan tetap memperjuangkan harapan masa depan inilah yang membuat berbagai aspirasi untuk menjadi manusia yang juga kuat seperti mereka muncul, bagi generasi selanjutnya. Nah, peran tersembunyi dan tak disadari ini… pikirkan saja sendiri apakah menyentuh hatimu atau tidak. 
 
Tidakkah kita ikut menjadi orang yang berjuang dan memperjuangkan harapan? Pikirkan sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s