Hadiah Terakhir Bag. 1

Mar 5, ’11 1:29 AM

Magang di RSJ sudah berlalu dua minggu yang lalu. Laporan dan ujiannya selesai tepat seminggu yang lalu. Tepat seminggu semester baru dimulai dan melihat beberapa teman yang masih stres dengan ujian magang mereka, aku heran sendiri, apa yang dikhawatirkan ketika jelas nilai semua anak adalah “lulus”.
Teringat hari terakhir berada di RSJ. Bukannya buru-buru pulang, aku malah setengah mati menyelesaikan membaca sebuah buku dari perpustakaan RSJ. He… satu hari jadi penguasa gedung pendidikan dan latihan (karena di atas jam 12 semua orang sudah pulang).
Suatu buku tak akan menarik tanpa ada alasan bagus. Dan aku punya alasan bagus ini semua usahaku melahap buku ini. Akhirnya aku dapat ide untuk karya tulis yang akan kusertakan dalam sebuah pertemuan ilmiah bulan depan. Dan, akhirnya pula aku belajar sesuatu tentang sebuah emosi yang selama ini kita anggap sepele tetapi dapat menuntun kita dalam malapetaka kehidupan. Emosi apakah ini? Jawabnya: Rasa malu.
Judul buku ini adalah “Healing The Shame That Binds You” karya John Bradshaw, seorang doktor dari Amerika. Diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul “Menyembuhkan Rasa Malu Beracun”. Bagi teman-teman yang pernah baca dan belum belajar psikologi sebelumnya, mungkin, akan mengalami kebingungan karena bacaan ini sungguh psikologis. Buku ini bisa dikatakan “murni psikologi Barat” dan berisi cara-cara Barat mengatasi ketidakbahagiaan karena rasa malu yang beracun dengan Program 12 Langkah-nya.
Aku tidak tahu seberapa efektifkah program ini, tetapi aku mendapatkan sebuah insight penting yang akhirnya turut menggiringku untuk berusaha menyembuhkan diri dari rasa malu beracun. Yeah, semua orang yang menyadari “penyakit” ini akan selamanya berusaha menyembuhkan diri. Selama kita masih menjadi manusia dan hidup di bumi, rasa malu adalah rasa sakit yang abadi. Kalau kau berani berkata tidak, pelajari lagi dirimu sendiri. Kalau kau tidak mengakuinya, berarti defense-mu begitu besar.
Pada awalnya, aku setengah percaya dan setengah tidak pada konsep rasa malu yang diketengahkan dalam buku ini. Bingung. Pertama, dalam suatu hadist Nabi, dikatakan bahwa adanya rasa malu adalah sebagian dari iman. Kedua, dari kehidupan, aku sadar bahwa memiliki rasa malu adalah sesuatu yang menyakitkan. Nah, apakah aku melewatkan definisi kata “malu” yang lain dari kamus? Jelas-jelas tidak karena konsep inferioritas dari rasa malu diterima dengan baik di kepala hampir semua orang. Lalu apa?
Ternyata, ada dua macam rasa malu, yaitu rasa malu yang sehat (healthy shame) dan rasa malu yang beracun (toxic shame). Apa yang diharapkan dari agama adalah yang pertama dan tanda seseorang mulai sakit ruhani, jiwa, dan, akhirnya, fisik adalah yang kedua. Kau tahu, aku tercengang! Aku belajar memahami Islam, bahkan dari buku Barat yang tidak kusangka-sangka.
Antara rasa malu yang sehat dan sakit, keduanya berasal dari akar yang berbeda. Healthy shame berasal dari keikhlasan dan penerimaan, sedangkan toxic shame berasal dari penolakan mati-matian (yang mungkin tak disadari oleh di pelaku). Penerimaan atau penolakan akan apa? Jawabnya: KODRAT MANUSIAWI MANUSIA bahwa manusia diciptakan dengan jiwa yang sempurna, yang salah satunya adalah sisi gelapnya yang membuat manusia punya potensi lemah, salah, dan buruk.
Sisi gelap itu adalah sumber rasa inferior yang tidak berbatas dan dalam sepanjang kita semua terus berkutan pada cengkramannya. Ialah yang membuat manusia terus-menerus menjauhi “yang gelap” dan mencari “yang indah” apa pun caranya. Ialah yang membuat seorang manusia tidak suka menjadi tua atau berpenampilan buruk, tidak suka menjadi lemah dan tidak punya apa-apa, tidak suka yang bodoh dan tidak bisa berbuat sesuatu yang hebat, dan tidak suka kesusahan.
Berbagai penilaian negatif ditimpakan pada kenyataan bahwa manusia bisa jelek, rendah, miskin, lemah, susah, dan tidak bisa apa-apa. Orang jadi mengejar hal-hal indah, terang, dan sempurna. Namun, selamanya hidup di dunia, kesempurnaan yang dikejar itu hanyalah mimpi. Dan ketidakmampuan mencapainya tentu memunculkan frustrasi dan berbagai penilaian negatif yang dibuat oleh dirinya sendiri menjerumuskannya pada rasa malu yang beracun, rasa malu yang salah sasaran.
Pada suatu perenungan, aku teringat Allah berfirman bahwa semua manusia adalah sama dan yang membedakannya di mata Allah adalah keimanan dan ketakwaan. Aku merasa, sebagai manusia, aku tidak perlu mengejar berbagai kesempurnaan duniawi karena kekuatan manusia, ketinggian kedudukannya bukanlah di situ. Allah tidak peduli seberapa jelek, rendah, miskin, lemah, susah, dan tidak bisa apa-apa-nya kita. Ia cuma meminta kita menjadi manusia yang beriman dan bertakwa, tunduk pada agama-Nya, dan Dia-lah yang akan mengangkat kedudukan kita. 
 
Apa yang akan membuatku malu jika begitu? Inilah healthy shame yang diajarkan dalam Islam, yaitu ketika kau berbuat kesalahan atau berdosa dan rasa bersalah itu menyelimuti. Standar baik dan buruknya bukan pada penilaian manusia, melainkan penilaian Allah, dan semua itu sudah jelas dalam agama dengan segala perintah dan larangannya. Inilah yang membuatku punya suntikan harga diri: Tak perlu malu dengan kekurangan, karena kekurangan yang ada itu begitu manusiawi ditakdirkan ada di dunia. Dirimu berharga karena jiwamu yang tidak kelihatan itu… Pada akhirnya, rasa malu yang sehat ini membawa kita pada perbaikan diri.
 
(bersambung)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s