Happy World Mental Health Day 2010/2012

Original post: http://aftinanurulhusna.multiply.com/journal/item/136/Happy-World-Mental-Health-Day-2010

Oct 10, ’10 10:29 PM

Hari ini rupanya hari bersejarah. Aku tidak tahu bagaimana bisa sejarah berkata hari ini adalah Hari Kesehatan Mental Dunia, tetapi perlu dicatat untuk diingat:
October 10 is known the world over as World Mental Health Day – the result of a global advocacy and awareness program started by the World Federation for Mental Health in 1992.” (www.patientsorganizations.org)
 
PR bagi kita warga dunia sudah jelas: bagaimana kita meningkatkan kesadaran diri sendiri dan masyarakat kita tentang pentingnya penanganan penderita gangguan kesehatan mental dan upaya pencegahannya agar masalah ini tidak “menular”. Tugas ini tidak hanya menjadi perhatian para ahli kesehatan jiwa, psikiater, dan psikolog, tetapi tentu butuh partisipasi kita semua.
 
Apa kabar Indonesia???
 

Jakarta. DALAM lima tahun terakhir penderita gangguan jiwa di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya terus meningkat, dari 837 pasien pada 2005 menjadi 1.457 pada 2009. 

 

Tekanan ekonomi merupakan penyebab utama meningkatnya penderita sakit jiwa, di samping kurangnya rasa kasih sayang, atau rasa kurang aman. Ironinya, peningkatan pasien rumah sakit jiwa itu tidak diikuti penambahan dokter spesialis kejiwaan (psikiater). Dengan jumlah penduduk 235 juta jiwa, Indonesia baru memiliki 600 ahli psikiatri.  (www.mediaindonesia.com; 10 Oktober 2010)

Jawa Tengah_Semarang. Penderita gangguan kesehatan jiwa yang dirawat di Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Amino Gondohutomo Semarang, Jawa Tengah, belakangan ini meningkat. Peningkatannya mencapai 100 persen, dibandingkan tahun sebelumnya. Untuk menurunkan tingginya angka kesakitan jiwa di masyarakat ini, salah satunya memberikan pelayanan terhadap mereka yang mengalami gangguan jiwa dari keluarga miskin, melalui program mobil klinik unit.

 
Tingkat gangguan kesehatan jiwa di Jawa Tengah ini meningkat tajam, akibat tingginya tingkat stres yang dialami masyarakat. Mulai dari masalah pribadi, pekerjaan, maupun keluarga. Indikasi tersebut terlihat, dari tingkat kunjungan pasien di rumah sakit jiwa yang harus rawat inap. (www.pasfmpati.com)
Riau. Jumlah penderita gangguan jiwa di Kota Dumai, Riau, setiap tahunnya terus naik signifikan, kata Kepala Dinas Sosial Kota Dumai, Amiruddin, kepada ANTARA di Dumai, Selasa.
 
“Jumlah pastinya kami belum ada. Namun dari pandangan mata, dapat dilihat di jalan-jalan dan sejumlah tempat keramaian, selalu ditemukan orang dengan penampilan kumuh dan tingkah laku yang aneh-aneh,” katanya.
 
Dikatakan, keadaan ini sering meresahkan warga karena penderita kejiwaan ini terkadang melakukan aksi-aksi berbahaya seperti berdiri di tengah jalan tanpa peduli dengan kendaraan yang lalu lalang, bahkan ada juga yang mendatangi rumah-rumah warga dengan tanpa busana. (www.antaranews.com; 21 September 2007)

Jawa Tengah_Magelang. Perlakuan kepada orang yang mengidap gangguan jiwa seringkali tidak manusiawi. Diperkirakan masih ada sekitar 20.000 hingga 30.000 orang dengan gangguan dipasung oleh keluarganya. (suaramerdeka.com; 26 September 2010).
 
Apakah kasus-kasus di atas sudah cukup menggambarkan wajah kondisi kesehatan mental di Indonesia? Belum.
 

Kasus-kasus di atas adalah tentang mereka yang mengalami gangguan jiwa parah dan sebagian diasilumkan. Itu hanya puncak dari bongkahan gunung es yang mengambang-ngambang di laut yang luas. Jika setiap manusia punya potensi sakit, terutama sakit jiwa, ada berapa banyak orang yang berpotensi “meledak” karena:
1. Stres berkepanjangan, karena sekolah atau pekerjaan yang sangat menuntut kesempurnaan,
2. Hidup dalam keluarga yang rusak, broken home, tidak terima dipoligami, diselingkuhi,
3. Lemah secara sosial, kesepian, tak punya kawan, dijauhi,
4. Dikejar tuntutan materialistis, ingin kaya tidak bisa dan terus bermimpi,
5. Konflik internal, ketika moralitas menjerit minta didengarkan,
6. Hidup di masa bencana, bencana alam maupun sosial, kemiskinan, diabaikan, dilecehkan orang, rasa iri, benci yang berkepanjangan,
7. Korban kriminalitas, perang, kekerasan, kerusuhan,
8. Dan masih banyak lagi???
 
Apakah dapat disembuhkan jika kita belum dapat mengendalikan dan mengatasi sebab? Sekalipun sebab itu tak terhindarkan, sudahkah kita mengusahakan diri untuk menjadi pribadi yang tahan banting, keluarga kita yang tangguh, dan masyarakat kita yang kuat? Selama yang ini masih belum terpikirkan dalam kepala kita semua, tidak salah jika kesehatan mental orang Indonesia tahun depan akan lebih parah dari tahun ini.
 
Setuju?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s