Hargai Mentalitasmu

Jan 23, ’11 3:59 PM
Lama tidak update… dan aku punya pengalaman bagus yang ingin sekali aku ceritakan. Semoga bermanfaat.
Sangat menyenangkan tahun ini akhirnya bisa ikut magang. Sebelumnya aku selalu ketinggalan karena tidak tahu informasi, tetapi karena akhirnya magang jadi diwajibkan dan benar-benar dipersiapkan, tugasku kini adalah memutuskan tempat magang favorit dan mencari teman-teman satu kelompok yang punya keinginan sama.
 
Tempat impianku adalah rumah sakit jiwa. Sejak dahulu ingin magang di RSJ Pusat di Magelang, tetapi karena ternyata tertumbuk berbagai hambatan, alhamdulillah bisa dapat tempat magang di kota sendiri. Berangkat dan pulangnya pun mudah sekalipun harus menempuh jarak 20 km lebih. Teman-teman sekelompokku asyik dan setiap jam magang berakhir, sesekali kami sempatkan makan siang bersama.
 
Ada hal lain lagi yang benar-benar kusyukuri. Teringat dulu aku merasa gagal di mata kuliah psikologi abnormal. Aku benar-benar menyesal tidak membaca baik-baik tentang abnormalitas dan teori-teorinya. Rasanya benar-benar menyenangkan ketika Allah memberiku kesempatan kedua untuk mempelajarinya lagi sekalipun kali ini tugas-tugasnya menjadi lebih berat.
 
Aku di sini ingin menyoroti satu hal penting yang mungkin tidak akan dialami atau disadari kecuali kita semua berkesempatan bersentuhan dengan dunia gangguan mental atau mental disorder. Selama ini kita semua lebih akrab dengan menyebuti mereka “orang gila”, melihat mereka di jalan-jalan keluyuran tak tentu arah, entah di mana keluarga mereka, siapa yang mencari-cari mereka agar kembali ke rumah, atau mereka akan kembali ke mana suatu hari nanti, berakhir di tempat yang bagaimana, dalam kondisi seperti apa, apakah berkesempatan mengetahui siapa diri mereka lagi…
 
Lain kondisi antara mereka yang berada di jalan dengan yang dirumahsakitkan. Aku tidak tahu dunia di sana sebelum akhirnya bisa masuk untuk benar-benar melihat. Awalnya aku hanya melihat mereka dari jauh tanpa benar-benar ingin bertatapan mata. Kemudian, keberanikan lebih dekat, tersenyum, menyapa, bersalaman, dan mengobrol. Akhirnya aku menyadari bahwa untuk ada bersama mereka, akan lebih mudah jika menghadapi mereka layaknya orang normal, singkirkan sejenak pemahaman tentang betapa abnormalnya mereka. Pada akhirnya, bisa kusimpulkan bahwa sebetulnya benar pada dasarnya kemanusiaan begitu indah dengan segala rupa dan suaranya. 
 
Mungkin selama ini kita lebih waspada pada sakit badan dari pada sakit jiwa, bukan? Jika itu terjadi, sebaiknya mulai sekarang syukuri bahwa Allah memberikan nikmat mental yang sehat sehingga kita bisa merasakan keindahan realita, mengenal Tuhan dan dunia yang diciptakannya, merasakan iman dan kebahagiaan berbuat baik, dan sebagainya. Dengan mental yang sehat kita punya tujuan hidup, berusaha keras mencapainya, dan bergegas untuk setiap kesempatan.
 
Pada hari keenam magang, iseng aku menuju base dengan jalan melewati bangsal-bangsal. Lebih panjang dan sedikit ragu-ragu. Aku berjalan cepat sampai akhirnya disapa seorang pasien yang kujadikan narasumber untuk studi kasusku. “Mbak, kok sendirian?” serunya dari jauh dengan nada suara menyenangkan. Aku balas menyapa dengan senyum dan lambaian tangan.
 
Kalau kukilas balik dan menyimpulkan apa yang berhasil kudapat sejauh ini, tidak semua di antara mereka yang mampu mengeluarkan sapaan atau bersuara menyenangkan. Tidak semua di antara mereka yang mampu membalas senyuman. Banyak di antara mereka yang hanya bertatapan kosong dan wajah tanpa ekspresi. Lebih banyak lagi yang melangkah begitu pelan dan perlu diarahkan bahkan diteriaki untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Kau tidak bisa mengatai si suster tidak manusiawi karena hanya teriakan-teriakan itulah yang membuat mereka tetap menjadi manusia.
 
Aku berjalan cepat sambil berpikir begitu, berlalu meninggalkan bangsal-bangsal. Berjalan cepat… hanya orang normal dan benar-benar normal yang dapat berjalan cepat. Yang tahu rasanya bersemangat hanya orang dengan mental yang sehat.
 
Ya, hargai mentalitasmu. Tak peduli inteligensimu hanya rata-rata atau hidup dirundung kegagalan dan duka, mental inilah yang membuatmu tidak berhenti berbuat dan berkarya. Syukuri itu, setidaknya karena dengannya kau tahu alasan mengapa kau tertawa atau menangis. Mentalitas ini yang sesungguhnya memanusiakan manusia. Jadi, isilah betul ia dengan hidup yang baik dan sehat, hindari penyakit-penyakit hati yang sudah diperingatkan agama agar kita jauhi, dan penuhi dengan pikiran-pikiran yang baik. Bersihkan cermin mental kita setiap saat dengan ilmu, doa, ibadah, kesabaran, dan keikhlasan. Entah mengapa, itulah obat mental yang selama ini sering kita lupa.
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s