Hayat Muhammad

Bertepatan dengan Maulid Nabi Muhammad 1432 H, aku menamatkan buku “Hayat Muhammad” karya Muhammad Husain Haekal. Wah, ini cita-cita yang terwujud karena baru akhir-akhir ini aku kembali bersemangat membaca buku ini setalah sekian tahun terhenti. Nah, sebelum aku menceritakan isinya, kita cek dulu biografi Haekal, sang penulis.
 
***

Muhammad Husain Haekal (lahir 20 Agustus 1888) adalah seorang penulis asal Mesir. Ia dilahirkan di desa Kafr Ghanam bilangan distrik Sinbillawain di propinsi Daqahlia, di delta Nil, Mesir. setelah selesai belajar mengaji Qur’andi madrasah desanya ia pindah ke Kairo guna memasuki sekolah dasar lalu sekolah menengah sampai tahun 1905. Kemudian meneruskan belajar hukum hingga mencapai lisensi dalam bidang hukum (1909). Selanjutnya ia meneruskan ke Fakultas Hukum di Universite de Paris di Perancis, lalu dilanjutkan pula sampai mencapai tingkat doktoral dalam ekonomi dan politik dan memperoleh Ph.D. dalam tahun 1912 dengan disertasi La Dette Publique Egyptienne. Dalam tahun itu juga ia kembali ke Mesir dan bekerja sebagai pengacara di kota Manshurah, kemudian di Kairo sampai tahun 1922.

Semasa masih mahasiswa sampai pada waktu menjalankan pekerjaannya sebagai pengacara, ia terus aktif menulis dalam harian-harian Al-Jarida yang dipimpin oleh Ahmad Luthfi as-Sayyid, As-Sufur dan Al-Ahram. Umumnya ia menulis dalam masalah-masalah sosial dan politik, di samping juga memberikan kuliah dalam bidang ekonomi dan hukum perdata (1917-1922). Tahun itu juga ia dipilih sebagai pemimpin redaksi harian As-Siasa sebagai organ resmi Partai Liberal. Dalam tahun 1926 mendirikan mingguan As-Siasa, yang dalam bidang kultural besar sekali pengaruhnya ke seluruh negara-negara Arab. Ia aktif dalam bidang jurnalistik sampai tahun 1938.

Tahun 1938 ia menjabat Menteri Negara, kemudian Menteri Pendidikan, lalu Menteri Sosial. Sesudah itu menjadi Menteri Pendidikan lagi dalam tahun 1940 dan 1944. Pada permulaan tahun 1945 ia terpilih sebagai ketua Majelis Senat sampai tahun 1950. Berkali-kali mengetuai delegasi mewakili negaranya di PBB dan dalam konperensi-konperensi internasional, dalam Uni Antarparlemen dan secara pribadi terpilih pula sebagai anggota panitia eksekutif lembaga tersebut. Ia kembali aktif menulis dalam harian-harian Al-Mishri dan Al-Akhbar sejak 1953 hingga wafat pada 8 Desember 1956.

***

Buku Hayat Muhammad telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Sejarah Hidup Muhammad. Isinya relatif sama dengan buku-buku sejarah hidup nabi lainnya, namun ada satu kelebihan yang sepertinya tidak dimiliki oleh buku-buku lainnya. Buku ini merupakan studi ilmiah modern terhadap kehidupan nabi. Metode ilmiah mengharuskan kita – apabila hendak mengadakan suatu penyelidikan – terlebih dahulu kita membebaskan diri dari segala prasangka, pandangan hidup, dan kepercayaan yang sudah ada pada diri kita, yang berhubungan dengan penyelidikan itu (h. xxxii). Hal tersebut menjadikan data-data yang dipakai untuk membuat buku ini terpercaya dan jernih dari prasangka atau kecenderungan tertentu yang biasa dimiliki orang-orang yang benci atau terlalu cinta.

Haekal menulis buku Hayat Muhammad dan buku-buku bertemakan Islam lainnya pada usianya yang sudah 50 tahun lebih. Saat itu, beliau menjadi sangat memperhatikan permasalahan dunia Islam, terutama karena profesinya memberinya kesempatan untuk melihat beragai peristiwa di dunia Islam dan menyadari adanya maksud untuk mengikis habis kehidupan moral umat Islam, yaitu dengan jalan membasmi kebebasan berpikir dan menyelidiki demi kebenaran. Itulah yang bagi Haekal merupakan bencana bagi umat. Karena hal itu, Haekal memutuskan untuk melakukan studi tentang kehidupan Muhammad dengan cara yang ilmiah demi kebenaran.

Buku Hayat Muhammad terbit pada tahun 1935 di mana saat itu pemikiran Barat begitu menjamur dan kesalahpahaman tentang kehidupan Muhammad begitu besar. Kehadiran buku ini tentu menjadi angin segar bagi orang-orang yang ingin tahu kehidupan Nabi secara jelas dengan pemaparan yang masuk akal. Menurut Haekal, “Banyak buku-buku sejarah tentang kehidupan Nabi yang telah menambahkan hal-hal yang tidak dapat diterima akal dan yang memang tidak diperlukan untuk menguatkan risalahnya itu. Dan apa-apa yang ditambah-tambahkan, itulah yang dijadikan pegangan oleh kalangan orientalus dan oleh mereka yang mau mendiskreditkan Islam dan Nabi…

Selain mengenai penyelidikan ilmiah yang dilakukan Haekal dalam buku ini, buku ini juga berisikan debat terhadap kaum orientalis yang biasa menyalahartikan kehidupan Muhammad lantaran ketidakilmiahan cara berpikir mereka. Secara kronologis Haekal memaparkan kehidupan Muhammad dan “gosip-gosip” orientalis yang meliputinya disertai argumentasi, yang menyatakan bahwa “gosip-gosip” tersebut benar-benar dibuat-buat. Argumentasi tersebut didasarkannya pada data sejarah, pertimbangan budaya dan lingkungan Arab pada masa itu, dan ayat-ayat Al Quran sebagai sumber otentik sejarah hidup Muhammad.

***

Pada akhirnya, kusimpulkan buku ini sangat bermanfaat. Memang sudah buku lama, tetapi sebelum ada karya pembandingnya, kupikir inilah sejarah hidup Nabi terbaik yang pernah kubaca. Buku ini memang tebal, tetapi ketebalannya mencerminkan kualitas penulisnya. Dan sepanjang tidak ada yang bertele-tele, buku ini memuaskan.

Selama membaca buku ini, aku bisa membayangkan sebuah cerita tentang kehidupan Nabi. Jika dipoles lagi, mungkin bisa menjadi novel historis. Peristiwa, perang, dan ekspedisi-ekspedisi yang dilakukan Nabi sama menarik dan heroiknya dengan certa-cerita perang lainnya, contohnya seperti yang ada di “Taiko”. Karena buku ini bukan novel, tentu saja penggambaran berbagai peristiwa tidaklah mendetail. Haha… tak bisa kecewa. Tapi, aku jadi berpikir, bisakah sejarah hidup Nabi dijadikan novel?

Setelah membaca buku ini, aku jadi berpikir bahwa tidak semua orang suka dan tahan membaca buku tebal sekali pun itu untuk mengenal Nabi Muhammad. Alternatif lainnya adalah film, tetapi film terakhir yang kutahu menceritakan hidup Muhammad adalah “The Message” yang sudah kuno sekali dan tidak menarik lagi jika dibandingkan dengan perkembangan perfilman dunia saat ini. Jika dibandingkan dengan film-film tentang Yesus, film tentang Muhammad sedikit sekali. Kajian-kajian tentang kehidupan Nabi juga hanya dilakukan sewaktu-waktu. Bahkan, di hari Maulid Nabi ini, tidak ada ceramah keagamaan khusus kehidupan Nabi, kecuali di satu stasiun TV di jam sepi penonton. Kalau begini ceritanya, bagaimana generasi muslim bisa mengenal nabinya? Kita semua sadar masalah ini. Ah, jadi ingin berbuat sesuatu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s